KKN

Kebersihan bukan hanya soal keindahan, melainkan juga kesehatan dan masa depan. Di tengah keasrian alam Desa Sukaluyu yang dikelilingi hamparan kebun teh dan pemandangan hijau, tersimpan persoalan serius yang tak bisa lagi diabaikan: tumpukan sampah yang dibuang sembarangan, mulai dari tepi jalan, saluran air, hingga sela-sela kebun teh. Tentu hal ini disebabkan oleh belum adanya pengelolaan sampah yang memadai, baik pengelolaan sampah bersama maupun mandiri. Tanpa kesadaran bersama, kebiasaan membuang sampah sembarangan ini mengancam kualitas lingkungan, kesehatan warga, serta kelestarian potensi alam desa yang seharusnya menjadi kebanggaan.
Mahasisiwa KKN-PPM UGM Jelajah Kei Kecil mengadakan kegiatan edukasi penggunaan obat dengan metode DAGUSIBU : Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang Obat dengan Benar di Ohoi Isso, Wain Baru, dan Disuk. Kegiatan ini dilaksanakan dengan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat, utamanya para kader kesehatan dan ibu-ibu. Edukasi ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait pentingnya penggunaan obat yang rasional melalui metode yang singkat dan mudah diingat. “Dalam pemberian edukasi ini, kami menegaskan pentingnya mendapatkan obat dari sumber terpercaya dan menggunakan obat sesuai dengan aturan. Harapannya, kesadaran masyarakat dapat meningkat dalam mengelola obat secara tepat,” ujar Razthalita Yajna, salah satu mahasiswa pelaksana program
Kaos biru-biru mahasiswa telah memadati lapangan Graha Sabha Pramana (GSP) pada Jumat, (20-6) menandai penerjunan ratusan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) periode 2 yang salah satunya datang dari Tim dari Gemerlap Pinang Tanjung Pinang, Kepulauan Riau untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat Kampung Madong, Sei nyirih, dan Senggarang. Tim KKN Gemerlap Pinang memeroleh kesempatan untuk menjalankan program kerja yang sesuai dengan minat studi yang dikelompokkan berdasarkan empat klaster, sosial- humaniora ( Soshum) , sains dan teknologi (Saintek), agro, dan medika.

Tumpukan sampah plastik di pesisir pantai Kampung Buton, Distrik Waisai, Kabupaten Raja Ampat, pagi itu pelan-pelan diangkat dari pasir yang memeluknya erat. Mahasiswa KKN-PPM UGM Sorai Waisai 2025 bersama Dinas Lingkungan Hidup Raja Ampat bergotong royong membersihkan pantai setelah hujan rintik sempat menunda kegiatan.

Pencegahan perilaku seks bebas sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi remaja dari berbagai risiko kesehatan maupun sosial. Masa remaja adalah fase peralihan yang penuh rasa ingin tahu, sehingga tanpa bimbingan yang tepat mereka rentan terjerumus pada perilaku berisiko.

Pada 4 Juli 2025, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada Attannung Jeneponto, melaksanakan kegiatan Sosialisasi Program Kerja “Satu Atsiri, Sejuta Solusi”. Program ini dirancang sebagai langkah inovatif untuk memanfaatkan potensi tanaman atsiri di wilayah Kecamatan Bontoramba, Jeneponto sekaligus memberikan solusi berkelanjutan bagi peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Dalam kegiatan ini, mahasiswa memperkenalkan manfaat tanaman atsiri, teknik budidaya yang tepat, proses penyulingan minyak atsiri, hingga peluang usaha dari produk turunannya seperti lilin aromaterapi, minyak pijat, dan parfum alami. Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, sosialisasi ini diharapkan mampu membuka wawasan warga tentang nilai tambah yang dapat dihasilkan dari kekayaan alam lokal, serta memotivasi masyarakat untuk mengembangkannya secara berkelanjutan.
Foto: Mahasiswa KKN-PPM UGM Unit 2025-SS002 Lempuing Jaya, Kab. Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN-PPM UGM Periode II 2025) Keliling Lempuing yang berlokasi di Desa Tanjung Sari II dan Rantau Durian I, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan berhasil menyelesaikan program kerja unggulan yang mengusung tema “Optimalisasi Agroforestri dan Potensi Lokal yang Terintegrasi sebagai Upaya Meningkatkan Ketahanan Lingkungan serta Mendukung Ekonomi Berkelanjutan di Desa Tanjung Sari II dan Rantau Durian I”. Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat karena mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Di balik rumah-rumah sederhana di Desa Sadi, Kabupaten Belu, tersimpan benda yang tak biasa: fosil fauna. Fosil-fosil ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan warga, meski belum sepenuhnya disadari nilai pentingnya. Melihat potensi tersebut, tim KKN PPM UGM Halo Belu yang ditempatkan di Desa Sadi berinisiatif melakukan konservasi fosil sebagai salah satu program kerja.



