Universitas Gadjah Mada melalui Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM resmi melepas Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UGM 2025 di Halaman Kantor Dir PkM (23/8). Pelepasan ini menjadi langkah strategis UGM dalam mendukung program nasional Trans Patriot yang diinisiasi oleh Kementerian Transmigrasi RI, sekaligus mengawal pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di kawasan transmigrasi.
KKN
Bahasa ibu memainkan peran dalam proses pewarisan budaya dan pembentukan jati diri sejak masa kanak-kanak. Di lingkungan keluarga, bahasa ini tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai etnik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Fishman (1991) menegaskan bahwa bahasa ibu merupakan sarana utama dalam mempertahankan identitas kelompok budaya serta kesinambungan antar generasi. Akan tetapi, dalam situasi masyarakat yang mengalami mobilitas sosial dan geografis, seperti para transmigran, hal ini akan menciptakan keberlangsungan bahasa ibu seringkali terancam karena adanya tuntutan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru. Para transmigran ini harus beradaptasi terhadap bahasa dominan setempat. Hal ini seringkali dianggap sebagai pilihan strategis untuk memudahkan integrasi sosial dan menghindari isolasi linguistik. Akibatnya, bahasa ibu mulai kehilangan perannya di ranah domestik dan mengalami penyusutan fungsi secara perlahan. Ketika bahasa tersebut tidak lagi digunakan secara aktif dalam interaksi keluarga, maka proses pemerolehannya pun akan terputus di generasi berikutnya.
Pada tahun 2025 ini, Universitas Gadjah Mada kembali diberikan kesempatan untuk melaksanakan KKN-PPM di Tanjungpinang Kota, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, tepatnya di Kelurahan Kampung Bugis dan Senggarang. Lokasi KKN yang berada di pesisir laut menghadirkan tantangan tersendiri: rata-rata air sumur yang digunakan masyarakat merupakan air payau dan bahkan terkadang mengandung bauksit, mengingat tanah di Tanjungpinang didominasi oleh mineral ini. Akibatnya, air sering berbau, berwarna kemerahan, serta tidak layak konsumsi.

KKN Waras Pakem Periode II 2025 mengusung tema besar “Penguatan Kelembagaan, Pengembangan Wisata, Seni, dan Budaya, Ekonomi (UMKM dan Koperasi), Mitigasi Bencana, dan Digitalisasi di Desa Harjobinangun dan Hargobinangun” yang terlaksana di Kapanewon Pakem, tepatnya berada di Kalurahan Harjobinangun dan Hargobinangun, serta terbagi menjadi 4 padukuhan yaitu Kaliwanglu Wetan, Beji, Wonorejo, dan Pandanpuro. Dengan tujuan untuk mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam proses identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program. Wilayah ini memiliki potensi besar di bidang pariwisata, UMKM, Budaya, Pertanian, dan Peternakan. Namun dalam besarnya potensi tersebut, tentunya juga mengalami berbagai tantangan seperti pengelolaan sampah, keterbatasan promosi digital, minimnya literasi teknologi, serta kebutuhan peningkatan kesadaran lingkungan dan kesehatan. Melihat potensi dan tantangan tersebut, tim KKN merancang program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari penguatan ekonomi, pelestarian budaya, edukasi kesehatan, hingga inovasi teknologi, dengan mengedepankan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan tim KKN.

Di kaki Gunung Sindoro, terdapat suatu desa yang memiliki potensi melimpah baik dari segi potensi alam, wisata, SDM, hingga UMKM yang unik dan melimpah. Dapat dikatakan bahwa Desa Bansari menyimpan potensi ekonomi lokal yang luar biasa mulai dari UMKM kopi arabika dari petani muda, kotak embutan hingga miniatur alat rajang tembakau yang unik, topeng tradisional hasil buatan tangan, kerajinan kulit, hingga percetakan sablon yang modern. Namun di balik kekayaan produk itu, ada satu persoalan klasik yang kami temukan sebagai mahasiswa KKN UGM yang sedang mengabdi di Desa Bansari. Permasalahan tersebut tidak jauh dari UMKM lokal yang belum memiliki identitas yang kuat dalam menembus pasar digital.

Desa Bansari berada di kaki Gunung Sindoro memiliki kekayaan alam pertanian yang melimpah, wisata embung yang menarik, hingga jalur pendakian Sindoro yang memiliki keunikan tersendiri. Namun, keterbatasan media pengelolaan informasi publik bagi pengelola jalur pendakian Sindoro Via Bansari membuat potensi tersebut belum dikenal luas. Komunitas Peduli Alam Sindoro (Kompas) selama ini telah aktif dalam pelestarian alam dan pengelolaan kegiatan wisata, tetapi publikasi kegiatannya masih terbatas melalui media sosial yang jangkauannya belum maksimal. Berdasarkan pada potensi tersebut Tim KKN-PPM UGM Waksudha Bansari kembali menghadirkan program unggulan dalam rangka mendukung digitalisasi pariwisata lokal. Kali ini, program yang diprakarsai oleh Muhammad Hariish Hafiiz dan Kenya Azzahra Prameswari berfokus pada pembuatan website resmi Komunitas Peduli Alam Sindoro (Kompas) sebagai sarana promosi wisata, dokumentasi kegiatan komunitas, dan media edukasi lingkungan bagi masyarakat luas.

Minggu (20/07/2025), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (KKN-PPM UGM) Tim Mapai Pangandaran melakukan sosialisasi dan forum group discussion (FGD) terkait pentingnya pariwisata berkelanjutan bagi desa wisata, salah satunya dengan model wisata tur bersepeda. Bertempat di Balai Desa Batukaras, program ini menjadi langkah awal untuk mendorong Desa Batukaras tanggap akan pentingnya kelestarian lingkungan dan mampu menciptakan inovasi baru pada sektor pariwisata.
Desa Bansari, sebuah desa yang terletak di lereng Sindoro, Kabupaten Temanggung, tengah menapaki babak baru dalam pengelolaan pariwisata lokal. Melalui program unggulan Pembuatan Paket Wisata Desa Bansari, Tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) Waksudha Bansari, yang dikoordinasikan oleh Gading Arif Wicaksono dan Dian Rizqi Sholihati, melaksanakan inisiatif strategis dalam pengembangan sektor pariwisata desa. Program ini telah dijalankan dan diserahkan pada perangkat desa dan seluruh pengelola wisata di Desa Bansari pada Rabu, 23 Juli 2025 yang bertujuan untuk memadukan potensi besar yang selama ini ada di Desa Bansari yaitu kekayaan alam dan hasil pertanian ke dalam sebuah paket wisata terpadu yang terstruktur, profesional, dan berkelanjutan.
Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung kini menjadi tantangan kesehatan utama tidak hanya di wilayah perkotaan, namun juga di pedesaan. Desa Mahahe, yang terletak di Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, termasuk salah satu wilayah yang turut menghadapi permasalahan ini.
Di balik kabut tipis dan gemuruh pinus yang melambai pelan, Nawangan berdiri tenang. Dataran tinggi yang dijuluki “Negeri Di Atas Awan” ini bukan hanya menyimpan udara sejuk dan mata air pegunungan yang jernih.

