YOGYAKARTA — Suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi mewarnai pembukaan tiga agenda internasional yang digelar secara beriringan di Auditorium Smart Green Learning Center (SGLC), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Rangkaian acara ini mengintegrasikan tiga platform penting: The 4th International Conference on Community Engagement and Education for Sustainable Development (ICCEESD) yang berfokus pada inovasi riset terapan dan pengabdian masyarakat, The 4th One Young World ASEAN Leadership Forum (ALF) 2026 sebagai wadah konsolidasi pemimpin muda regional, serta RCE Yogyakarta International Youth Conference yang menggerakkan aksi keberlanjutan berbasis komunitas. Mengusung tema “Turning Ideas into Action: Youth Collaborating for ASEAN’s Future”, alur kegiatan sejak awal dirancang mengalir secara kondusif dan komunikatif, menciptakan ruang yang inklusif serta meruntuhkan sekat antarpeserta guna mendekatkan lebih dari 200 delegasi dari pelbagai latar belakang di Asia Tenggara dan sekitarnya.
Sesi pembukaan (Opening Session) menjadi titik awal yang mencairkan suasana. Sesi ini diawali dengan arahan utama dari Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). selaku Wali Kota Yogyakarta. Dalam paparan yang lugas dan penuh realitas sosial, beliau menyoroti berbagai isu krusial masyarakat seperti tantangan putus sekolah, pernikahan dini, sektor pekerja informal, darurat sampah kota, masalah kesehatan mental, hingga tantangan kependudukan seperti bonus demografi dan fenomena aging population. Beliau mendorong para pemuda untuk tidak hanya menjadi pencari kerja tetapi juga pencipta lapangan kerja, menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan, serta mengapresiasi kolaborasi erat antara perguruan tinggi dan komunitas peduli lingkungan dalam menyelesaikan masalah sampah serta menjaga kelestarian sungai di Yogyakarta.
Selanjutnya, pimpinan kegiatan memberikan sambutan hangat yang memperkuat fondasi kebersamaan. Dr. dr. Rustamaji, M.Kes. selaku Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mengintegrasikan Education for Sustainable Development (ESD) dengan pengabdian masyarakat guna menghasilkan rekomendasi kebijakan (policy brief) yang berdampak dari akar rumput. Janu Muhammad selaku One Young World Coordinating Ambassador for Southeast Asia kemudian menyambut seluruh peserta, menegaskan bahwa forum ini dirancang khusus untuk memfasilitasi pertukaran pengalaman, memperluas jejaring persahabatan, serta merubah gagasan strategis menjadi aksi nyata (turning ideas into action) bagi masa depan kawasan ASEAN.

Rangkaian diskusi berlanjut secara interaktif pada Sesi Pleno (Plenary Session). Sesi ini menghadirkan perspektif multi-perspektif dari Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, ASEAN Eng (UGM), Dr. Gio Lugo Miole (University of Tokyo & UNU-IAS), Santosh Khatri (Chief of Education UNESCO Regional Office Jakarta), Muhammad Karim Amrullah, S.H., M.H. (RCE Yogyakarta), dan Bimo Soewadji (CEO CarbonEthics & OYW Ambassador), yang dipandu oleh Dr. Yani Rahmawati, S.T., M.T. sebagai moderator. Diskusi dua arah yang hidup dalam pleno ini secara langsung menghubungkan ide-ide pemuda dengan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, terutama SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Alur kegiatan yang komunikatif berlanjut ke sesi-sesi panel tematik dan penyusunan rencana aksi bersama (Collaborative Action Plan/CAP). Dalam kelompok-kelompok kecil yang dinamis, para delegasi saling berbagi tantangan di negara masing-masing, berdiskusi tentang inovasi digital, ketahanan pangan, hingga aksi iklim lokal. Diskusi terbuka ini mendorong kedekatan emosional dan intelektual antarpeserta, di mana setiap gagasan dihargai secara setara. Energi positif tersebut juga mengalir di area Pameran Komunitas (Community Exhibition) yang diselenggarakan pada 1 dan 2 Oktober di lantai 1 SGLC UGM. Pameran ini menjadi ajang perjumpaan langsung antara delegasi internasional dengan pelbagai organisasi dan usaha sosial lokal di Indonesia yang menampilkan beragam inisiatif akar rumput.
Memasuki hari kedua pada Jumat (2/10), fokus kegiatan menguat pada ranah akademik dan riset terapan melalui gelaran ICCEESD 2026. Konferensi ini diikuti oleh lebih dari 50 kelompok peneliti, akademisi, dan praktisi pengabdian masyarakat dari berbagai institusi. Dalam sesi paralel yang berjalan interaktif, para peneliti mempresentasikan hasil studi, inovasi teknologi, dan praktik baik dalam memperkuat Education for Sustainable Development (ESD) di tingkat lokal. Diskusi akademik ini menjadi wadah penting untuk saling berbagi pengalaman (benchmarking), merumuskan intervensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta menyelaraskan riset perguruan tinggi dengan pencapaian SDGs.

Rangkaian acara ditutup dengan momen kebersamaan yang penuh kesan pada Sabtu (3/10) melalui kunjungan lapangan (community site visit) ke dua komunitas dan usaha sosial di Yogyakarta, yaitu Wondis Cokelat dan Agradaya. Di Wondis Cokelat, peserta belajar mengenai rantai nilai olahan cokelat lokal dan strategi pemberdayaan petani kakao daerah. Sementara di Agradaya, para delegasi melihat langsung praktik pertanian rempah berkelanjutan dan model bisnis inklusif yang melibatkan kelompok perempuan pedesaan. Kunjungan ini tidak hanya memberikan pengalaman empiris dalam menghubungkan teori dengan realitas lapangan, tetapi juga mengikat rasa kekeluargaan dan komitmen kolektif para delegasi sebagai sesama penggerak perubahan di Asia Tenggara.
Penulis : Azri