Potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Bantul dinilai memiliki kekuatan besar dalam menopang perekonomian masyarakat. Berbagai sentra UMKM yang bergerak di bidang kuliner, kerajinan, fashion, hingga usaha kreatif lainnya tersebar di hampir seluruh wilayah Kabupaten Bantul. Sebagian besar usaha tersebut masih dijalankan dalam skala rumah tangga, dikelola oleh pasangan suami istri bersama anggota keluarga, bahkan tidak sedikit yang dikerjakan secara mandiri oleh pemilik usaha.
Meski dijalankan dalam skala kecil, keberadaan UMKM terbukti menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Bantul, Praptanugraha, S.Sos., M.Hum., dalam kegiatan UMKM Class Series #38 yang diselenggarakan melalui kerja sama antara Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (DPKM UGM) dengan Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Bantul.
Kegiatan pelatihan yang mengangkat tema “Tata Kelola dan Strategi Pemasaran UMKM” tersebut dilaksanakan pada Kamis, 21 Mei 2026, bertempat di Mandala Saba Madya Gedung Induk Lantai 3 Komplek Parasamya 1 Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Puluhan pelaku UMKM dari berbagai jenis usaha mengikuti kegiatan dengan antusias sejak pagi hingga sore hari.
Dalam sambutannya, Praptanugraha menjelaskan bahwa UMKM di Bantul menjadi kekuatan ekonomi masyarakat yang mampu menjaga stabilitas ekonomi keluarga, terutama pada tingkat rumah tangga.

“UMKM menjadi kekuatan agar dapur tetap ngebul. Meskipun usaha dilakukan dalam skala kecil, jika dilakukan secara masif dan berkelanjutan maka dampaknya terhadap ekonomi masyarakat sangat besar,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi pelaku UMKM di Bantul saat ini masih berkaitan dengan pemasaran, tata kelola keuangan, dan pengemasan produk. Oleh karena itu, ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif penyelenggaraan pelatihan dasar UMKM yang diinisiasi oleh DPKM UGM melalui UMKM Class Series #38.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada DPKM UGM yang telah menghadirkan pelatihan ini. Materi yang diberikan sangat sesuai dengan kebutuhan para pelaku usaha di Bantul,” tambahnya.
Kegiatan ini diikuti lebih dari 70 peserta yang berasal dari berbagai sektor usaha, mulai dari makanan dan minuman, kerajinan tangan, produk fashion, hingga usaha jasa rumahan. Mayoritas peserta mengaku masih menghadapi persoalan dalam menentukan strategi pemasaran yang tepat, penghitungan biaya usaha, serta pengemasan produk agar lebih menarik dan memiliki daya saing.
Suasana pelatihan berlangsung hangat, komunikatif, dan penuh semangat. Para peserta tidak hanya menyimak materi yang disampaikan narasumber, tetapi juga aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha sehari-hari.
Materi pertama disampaikan oleh Dr. Ir. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc., IPU., ASEAN Eng. dengan tema “Pengemasan dan Ketahanan Produk”.
Dalam pemaparannya, Devi menjelaskan bahwa pengemasan bukan hanya berfungsi sebagai pembungkus produk, tetapi juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas sekaligus meningkatkan daya tarik produk di mata konsumen.

Ia mencontohkan produk seperti kentang mustofa dan keripik yang memerlukan teknik pengemasan khusus agar tetap renyah dan tahan lama. Salah satu langkah penting yang perlu dilakukan adalah menurunkan kadar air dan minyak sebelum produk dikemas.
“Produk makanan ringan sangat sensitif terhadap kadar air dan minyak. Kalau proses penirisannya kurang baik, produk akan cepat melempem dan kualitasnya menurun,” jelasnya.
Devi merekomendasikan penggunaan spinner atau alat peniris minyak sebelum produk dikemas. Selain itu, penggunaan kemasan aluminium foil dengan ketebalan tertentu juga dianjurkan karena mampu menjaga tekstur produk tetap renyah.
Ia juga menjelaskan pentingnya penggunaan silica gel food grade di dalam kemasan untuk membantu mengendalikan kelembapan udara. Menurutnya, teknik pengemasan yang tepat dapat membantu UMKM memperpanjang umur simpan produk sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.
Selain aspek ketahanan produk, Devi menyoroti pentingnya keamanan pangan dalam proses pengemasan. Ia mengingatkan peserta mengenai bahaya migrasi zat kimia dari bahan kemasan ke produk makanan, khususnya penggunaan styrofoam untuk makanan berminyak.
“Pelaku UMKM perlu lebih selektif memilih bahan kemasan. Jangan sampai kemasan justru membahayakan kesehatan konsumen,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan kemasan berbahan polistirena untuk produk berminyak berpotensi menyebabkan migrasi zat kimia tertentu yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Oleh karena itu, penerapan standar keamanan pangan menjadi hal yang wajib diperhatikan.
Dalam sesi tersebut, Devi juga mengenalkan penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), mulai dari kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun antiseptik hingga sanitasi peralatan produksi menggunakan larutan klorin dengan dosis tertentu.
Tidak hanya membahas aspek teknis produksi, Devi turut memperkenalkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam promosi produk UMKM melalui aplikasi Google Vids.
Ia menjelaskan bahwa pelaku UMKM kini dapat memanfaatkan teknologi digital untuk membuat video promosi sederhana dengan kualitas visual yang lebih menarik.
“Promosi sekarang tidak harus mahal. Dengan bantuan AI, pelaku usaha bisa membuat video promosi yang lebih kreatif dan profesional,” ujarnya.
Menurutnya, kombinasi antara teknik pengemasan yang tepat, keamanan pangan, dan promosi visual yang menarik dapat membantu UMKM meningkatkan daya saing produknya di pasar yang semakin kompetitif.
Materi kedua disampaikan oleh Siti Muslihah, S.E., M.Sc., CFP., CMA. dengan tema “Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Margin”.
Dalam sesi tersebut, Siti menjelaskan bahwa penetapan harga pokok penjualan merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas finansial usaha.
Ia menilai masih banyak pelaku UMKM yang menentukan harga jual hanya berdasarkan perkiraan tanpa memperhitungkan seluruh komponen biaya produksi secara detail.
“Harga jual tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan kira-kira atau mengikuti harga pesaing. Pelaku usaha harus mengetahui biaya riil produknya,” jelasnya.
Siti memaparkan bahwa komponen biaya yang wajib diperhitungkan meliputi biaya tetap, biaya variabel, biaya overhead, hingga biaya tersembunyi seperti opportunity cost pemilik usaha, biaya uji coba produk, dan biaya sampel kemasan.
Ia juga menjelaskan pentingnya memperhitungkan food waste atau produk yang tidak terjual dalam penghitungan HPP. Menurutnya, banyak pelaku usaha belum menyadari bahwa produk yang terbuang tetap menjadi bagian dari biaya usaha.
“Kalau produk tidak laku atau terbuang, itu tetap menjadi biaya yang harus dihitung. Karena itu, HPP harus dihitung secara realistis,” katanya.
Dalam pemaparannya, Siti memberikan simulasi sederhana mengenai penghitungan HPP dan margin keuntungan pada usaha makanan ringan. Ia juga menjelaskan konsep Break Even Point (BEP) agar peserta memahami batas minimal penjualan yang harus dicapai supaya usaha tidak mengalami kerugian.
Selain itu, ia mengingatkan peserta untuk memiliki keberanian dalam menentukan harga jual yang sehat.
“Pelaku usaha harus punya target laba yang jelas. Jangan takut menentukan harga selama memang sesuai dengan kualitas dan biaya yang dikeluarkan,” ujarnya.
Menurutnya, mentalitas pengusaha menjadi salah satu faktor penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan. Ia juga menekankan bahwa biaya promosi, sampel produk, hingga kemasan kecil untuk pemasaran tetap harus dicatat sebagai bagian dari pengeluaran usaha.
Diskusi pada sesi ini berlangsung sangat aktif karena banyak peserta mengaku masih kesulitan menghitung biaya usaha secara rinci. Beberapa peserta juga bertanya mengenai strategi menentukan harga ketika bahan baku mengalami kenaikan harga.
Menanggapi hal tersebut, Siti menyarankan agar pelaku usaha tidak hanya terpaku pada harga termurah di pasar, tetapi mulai mempertimbangkan harga rata-rata yang masih aman bagi keberlangsungan usaha.
Memasuki sesi siang, peserta mengikuti materi ketiga bersama Mohammad Genta Mahardhika, S.E., M.B.A. dengan tema “Manajemen SDM Memperkuat Kinerja UMKM”.
Dalam pemaparannya, Genta menjelaskan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya bergantung pada produk yang dijual, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya manusia yang menjalankan usaha tersebut.
Peserta diajak memahami pentingnya membangun sistem kerja yang jelas, mulai dari proses perekrutan, pembentukan budaya kerja, hingga menciptakan rasa percaya di dalam tim.
“Setiap usaha membutuhkan sistem kerja yang sesuai dengan kondisinya. Pengelolaan SDM tidak bisa dilakukan asal-asalan,” ujarnya.
Diskusi berlangsung menarik ketika salah satu peserta menanyakan mengenai sistem penggajian karyawan, apakah lebih baik dilakukan harian, mingguan, atau bulanan.
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pelaku UMKM mulai menyadari pentingnya aturan kerja dan komunikasi yang jelas antara pemilik usaha dan karyawan.
Genta menjelaskan bahwa tidak ada satu sistem yang paling benar karena setiap usaha memiliki karakteristik berbeda. Namun, menurutnya, aturan kerja perlu disampaikan sejak awal agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.
“Yang paling penting adalah keterbukaan dan kejelasan aturan sejak awal kerja,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kenyamanan dan rasa percaya di dalam usaha agar hubungan kerja dapat berjalan lebih baik dan profesional.
Materi terakhir disampaikan oleh Bryan Erfanda Putra, S.T.P. atau yang dikenal sebagai Captain Bryan dengan tema “Penguatan Branding dan Strategi Pemasaran”.
Dalam sesi ini, peserta memperoleh wawasan mengenai pentingnya membangun identitas usaha dan memperluas pasar melalui strategi pemasaran yang tepat.
Bryan menjelaskan bahwa branding bukan hanya soal logo atau desain produk, tetapi tentang bagaimana usaha dikenal, dipercaya, dan diingat oleh pelanggan.
“Branding adalah cara usaha membangun hubungan dengan konsumennya. Produk bagus harus didukung komunikasi yang tepat,” katanya.
Diskusi berkembang sangat menarik ketika salah satu peserta berbagi pengalaman mengenai usahanya yang menjual produk kue premium di Jakarta dengan bahan berkualitas tinggi, namun menghadapi tantangan ketika ingin masuk ke pasar lokal yang lebih sensitif terhadap harga.
Dari diskusi tersebut, peserta mulai memahami bahwa tantangan UMKM tidak hanya terletak pada kualitas produk, tetapi juga kemampuan menentukan strategi pasar yang sesuai dengan karakter konsumen.

Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai strategi meningkatkan penjualan produk premium di wilayah pedesaan yang memiliki daya beli berbeda dibandingkan pasar kota besar.
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pelaku UMKM mulai memikirkan pentingnya segmentasi pasar dan positioning produk.
Bryan menjelaskan bahwa pelaku usaha perlu memahami target pasar secara spesifik sebelum menentukan strategi pemasaran.
“Produk premium tetap punya pasar, tetapi pendekatan komunikasinya harus tepat. Pelaku usaha perlu memahami siapa target konsumennya,” jelasnya.
Pembahasan mengenai pemasaran digital juga menjadi perhatian besar peserta. Beberapa peserta menanyakan apakah konten promosi lebih baik dibuat menggunakan bantuan AI atau secara manual agar terlihat lebih alami.
Selain itu, ada pula peserta yang mengaku ingin mulai membuat konten promosi tetapi masih bingung menentukan jenis konten yang dapat menarik perhatian konsumen.
Menanggapi hal tersebut, Bryan menjelaskan bahwa teknologi AI dapat menjadi alat bantu yang sangat efektif selama tetap digunakan dengan sentuhan kreativitas manusia.
“AI bisa membantu mempercepat proses pembuatan konten, tetapi ide dan kedekatan dengan konsumen tetap harus datang dari pelaku usahanya,” ujarnya.
Ia juga mendorong peserta untuk mulai berani memanfaatkan media sosial sebagai sarana membangun hubungan dengan pelanggan.
Menurut Bryan, pemasaran digital tidak hanya soal menjual produk, tetapi juga membangun kepercayaan dan kedekatan dengan konsumen secara konsisten.

Mendorong UMKM Bantul Naik Kelas
Dari berbagai materi dan diskusi yang berlangsung sepanjang kegiatan, terlihat bahwa pelaku UMKM di Bantul memiliki semangat besar untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta perubahan pola pasar.
Peserta tidak hanya ingin meningkatkan penjualan, tetapi juga mulai memahami pentingnya pengelolaan usaha yang lebih profesional, mulai dari pengemasan produk, pencatatan keuangan, pengelolaan SDM, hingga strategi branding dan pemasaran digital.
Kegiatan UMKM Class Series #38 menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan UMKM di daerah.
Melalui pelatihan ini, para pelaku usaha diharapkan semakin percaya diri dalam mengembangkan usahanya, mampu membangun sistem usaha yang lebih baik, serta semakin kreatif dalam memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar.

Dengan penguatan kapasitas yang berkelanjutan, UMKM di Kabupaten Bantul diharapkan mampu tumbuh lebih mandiri, inovatif, dan berdaya saing tinggi sehingga dapat terus menjadi penggerak ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Sebagai penutup kegiatan, antusiasme peserta menjadi salah satu hal yang paling menonjol sepanjang pelaksanaan UMKM Class Series #38. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Sub Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada Dr. Djoko Santosa, S.Si., M.Si. yang menilai para pelaku UMKM di Bantul menunjukkan semangat belajar dan keinginan berkembang yang sangat tinggi, terutama dalam menghadapi tantangan pemasaran digital, pengelolaan usaha, hingga peningkatan kualitas produk.
Menurutnya, tingginya partisipasi aktif peserta selama sesi diskusi menjadi bukti bahwa pelaku UMKM di Bantul memiliki kesadaran kuat untuk terus meningkatkan kapasitas usahanya agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Pada bagian lain Kepala Bidang Usaha Mikro Pemerintah Kabupaten Bantul Dendi Sulistyo Wibowo, SSTP. M.IP menyampaikan jumlah UMKM yang ada di Kabupaten Bantul lebih dari 100.000 sementara itu database yang tercatat baru sebesar 92.000 pelaku UMKM tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bantul dengan berbagai jenis usaha. Dendi menambahkan pada saat ini jumlah peserta pelatihan yang hadir sebanyak 57 pelaku UMKM, yang berarti bahwa masih banyak pelaku UMKM yang ada di wilayah Kabupaten Bantul yang diharapkan dapat didampingi oleh Universitas Gadjah Mada. Lebih lanjut Dendy menyampaikan harapan bagi para peserra untuk dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh pada kegiatan yang telah dilakukan.
Penulis: Widodo, Ayyub Rizqullah, Shiva Mutiara Insani