Kegiatan audiensi antara Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (DPkM UGM) dengan Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kulon Progo (DISPERINKOPUKM Kulon Progo) berlangsung pada tanggal 16 Maret 2026. Kegiatan ini disambut oleh Iffah Mufidati, S.H., M.M. selaku Kepala Dinas dan didampingi jajarannya. Tim DPkM UGM terdiri dari Widodo, S.T.P., M.Sc., Suparna, S.Sos., serta Agus Ngadianto, S.Hut., M.Sc., Ph.D.

Dalam pertemuan tersebut, DPkM UGM menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi dalam pembinaan dan pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Kulon Progo. Selama ini, berbagai program telah dilaksanakan melalui skema pelatihan, workshop, dan class series yang menjangkau pelaku UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Tim DPkM UGM menyampaikan bahwa kehadiran DPkM UGM dalam audiensi ini juga bertujuan untuk memperkuat komunikasi serta memahami kebutuhan UMKM secara lebih mendalam.
“Kami hadir untuk bersilaturahmi sekaligus berdiskusi mengenai pendampingan UMKM di DIY, khususnya di Kulon Progo. Selama ini program yang kami lakukan masih banyak dilaksanakan secara terpusat di kampus. Namun, kami melihat adanya kendala, terutama dari sisi jarak dan akses bagi pelaku UMKM. Oleh karena itu, ke depan kami akan lebih banyak turun langsung ke lapangan agar pendampingan dapat lebih tepat sasaran dan berdampak,” ujarnya.

Dalam kurun waktu 2023 hingga 2025, sekitar 100 UMKM di Kulon Progo telah berpartisipasi dalam program DPkM UGM dari total sekitar 46.000 UMKM yang ada. Adapun sektor yang dominan meliputi bidang pangan, fashion, dan kerajinan. Ke depan, DPkM UGM juga berencana melakukan pemetaan potensi UMKM secara lebih komprehensif, termasuk dari aspek produksi, sumber daya manusia, dan jangkauan pasar, sebagai dasar penyusunan program pendampingan yang lebih terarah.
Kulon Progo menghadapi tantangan dalam pengembangan sentra UMKM, khususnya pada sentra aloe vera dan kerajinan bambu, yang masih didominasi oleh pelaku usaha berusia lanjut tanpa adanya regenerasi dari generasi muda. Kondisi ini berdampak pada keterbatasan adaptasi terhadap teknologi dan pemanfaatan peralatan produksi yang belum optimal. Menanggapi hal tersebut, DPkM UGM mendorong penguatan pendampingan berbasis praktik melalui pelibatan generasi muda, peningkatan kapasitas penggunaan teknologi, serta penguatan manajemen usaha, sehingga kolaborasi dengan pemerintah daerah dapat lebih terarah dalam menjawab permasalahan di tingkat sentra dan mendorong keberlanjutan UMKM.
Iffah menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik inisiatif kolaborasi tersebut.
“Pada prinsipnya kami sangat terbuka untuk berkolaborasi. Sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi penting agar pembinaan UMKM dapat lebih tepat sasaran dan menjangkau lebih banyak pelaku usaha,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pembinaan UMKM tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga mencakup aspek legalitas, permodalan, dan pemasaran. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat keterbatasan anggaran daerah yang berdampak pada belum optimalnya kegiatan pelatihan dan pendampingan, sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan program pembinaan UMKM.
Salah satu konsep yang turut dibahas adalah factory sharing, yaitu kolaborasi antar pelaku UMKM dalam satu wilayah untuk berbagi sumber daya produksi. Konsep ini telah diterapkan pada beberapa sektor, seperti bambu, gula semut, dan aloe vera. Namun, dalam implementasinya masih terdapat tantangan, terutama terkait dengan pola pikir pelaku usaha yang cenderung menjaga kerahasiaan usaha masing-masing. Ke depan, dinas juga merencanakan pengembangan factory sharing pada sektor pengolahan ikan sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi secara bersama.
Dalam diskusi yang berlangsung, kedua belah pihak menekankan pentingnya pendekatan pendampingan berbasis praktik serta perlunya pemetaan kebutuhan UMKM secara lebih spesifik. Hal ini dilakukan agar program yang dilaksanakan dapat tepat sasaran dan memberikan dampak yang nyata bagi pelaku usaha.
Lebih lanjut, kedua belah pihak sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam program pendampingan UMKM berbasis praktik guna mendorong UMKM di Kulon Progo untuk berkembang dan berdaya saing. Kesepakatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sinergi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah.