
Di tengah tantangan mendidik generasi muda tentang pengelolaan keuangan dan kesadaran lingkungan, mahasiswa KKN PPM UGM semester akhir 2026 menciptakan solusi inovatif. Melalui permainan interaktif dan simulasi lapangan, mereka berhasil menghadirkan pembelajaran kompleks dalam bahasa yang mudah dipahami anak-anak sekolah dasar.
Belajar Menabung Saat Apel Pagi MPLS
Pada Rabu, 15 Juli 2026, di SD Negeri 42 Tarakan, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen strategis untuk memberikan edukasi finansial. Seusai apel di lapangan, Haris dari program studi Akuntansi UGM memandu seluruh siswa melalui serangkaian games yang mengajarkan literasi finansial dan kesadaran menabung.
Metode pembelajaran tidak menggunakan ceramah konvensional, melainkan simulasi pengambilan keputusan uang yang langsung dirasakan anak-anak. “Kami memberikan uang palsu kepada perwakilan setiap kelas dan meminta mereka memilih: apakah menyimpan atau langsung membeli?” jelas Haris saat menjelaskan mekanisme pembelajaran. Setiap pilihan diikuti dengan storytelling tentang konsekuensi finansial, menciptakan pemahaman praktis tentang cara mengelola dana.
Di akhir sesi, Haris menghitung poin setiap peserta berdasarkan strategi yang diterapkan, mengidentifikasi pilihan belanja versus menabung, dan merefleksikan investasi mana yang paling menguntungkan. Respons anak-anak sangat antusias, mereka excited, senang, dan tertarik melanjutkan materi berikutnya. Kombinasi permainan dan hadiah nyata terbukti efektif membangkitkan minat peserta didik.
Edukasi Bebas Asap Rokok untuk Generasi Sehat
Sejalan dengan program literasi finansial, Nadim dari Fakultas Kedokteran UGM menyajikan edukasi “Bebas Asap Rokok” sebagai bagian dari komitmen kesehatan preventif. Program ini dirancang memberikan pemahaman mendalam kepada siswa tentang risiko merokok dan pentingnya gaya hidup sehat sejak dini.
Melalui pendekatan interaktif dan simulasi, Nadim membantu anak-anak memahami dampak rokok secara konkret. Simulasi dan games yang menarik membuat pembelajaran tidak terasa membosankan, tetapi justru mengundang partisipasi aktif dan pertanyaan kritis dari peserta didik.

Setelah istirahat dan makan siang, kelas 6A dan 6B masuk ke dalam ruangan untuk sesi khusus dengan Indra dari Sekolah Vokasi Pengelolaan Hutan, yang bertindak sebagai koordinator mahasiswa sub-unit. Indra menyajikan pembelajaran ekologi melalui program Eco Ranger, dengan fokus pada pengenalan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan pengelolaan sampah. Konsep-konsep yang tergolong teknis ini disampaikan dengan pendekatan yang akrab dan relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Media pembelajaran mencakup komik edukatif dan diorama interaktif. Anak-anak diajak memahami karakteristik aliran sungai di wilayah pesisir, dampak kerusakan di daerah hulu terhadap bencana banjir di hilir, serta konsep tangkapan air hujan. Simulasi visual ini membantu siswa mengerti bahwa kerusakan lingkungan di pegunungan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat di muara dan wilayah pantai.
“Kami sengaja menggunakan simulasi dan diorama karena penyampaian teori murni sulit dipahami anak-anak. Games dan interaksi langsung membuat mereka excited dan terus bertanya,” papar tim pengajar.
Kolaborasi Multidisiplin untuk Pembelajaran Holistik
Keberhasilan program ini tidak terlepas dari kolaborasi tim KKN PPM UGM yang beragam. Selain Haris (Akuntansi) dan Nadim (Fakultas Kedokteran), tim melibatkan Indra (Vokasi Pengelolaan Hutan), Argya (Kehutanan), Sahla (Teknik Geodesi), Wilda (Geografi Lingkungan), dan Aushaf (Teknik Industri). Pendekatan multidisiplin ini memastikan pembelajaran mencakup aspek finansial, kesehatan, dan lingkungan secara bersamaan.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 12.00 WITA ini membuktikan bahwa edukasi efektif tidak selalu memerlukan fasilitas canggih, melainkan kreativitas pendidik dalam mengemas pesan agar resonan dengan peserta didik.
