• Tentang UGM
  • Simaster
  • KKN-PPM
  • Student Community Service
  • Jurnal Pengabdian
  • Mitra Pengabdian
  • Workshop UMKM
  • Indonesia
    • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat
  • Beranda
  • Subdirektorat
    • Kuliah Kerja Nyata
      • KKN-PPM
      • SCS-CEL
    • Pemberdayaan Masyarakat
      • RCE – Yogyakarta
      • UMKM
      • TTG
      • DERU – UGM
      • Wilayah Binaan
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Data & Informasi
  • Publikasi
  • Tentang
    • Sekilas DPkM
    • Struktur Organisasi
    • Kontak
  • Beranda
  • Berita Utama DPkM
  • KKN
  • KKN UGM Hidupkan Kembali Karawitan di SD Negeri Tegalsari

KKN UGM Hidupkan Kembali Karawitan di SD Negeri Tegalsari

  • KKN, KKN-PPM, SDGs 11 :Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh., SDGs 4 : Pendidikan berkualitas (quality education)
  • 14 Agustus 2026, 07.36
  • Oleh: prayudhi.kurniawan
  • 0
Siswa SD Negeri Tegalsari belajar memainkan gamelan bersama mahasiswa KKN-PPM UGM. Foto : Mahasiswa KKN-PPM UGM

Sebanyak 38 siswa SD Negeri Tegalsari mengikuti kegiatan pengenalan gamelan yang dilaksanakan mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada pada 14 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda. Para siswa yang terdiri dari kelas IV, V, dan VI diajak untuk mengenal sekaligus mencoba memainkan gamelan secara langsung. Kegiatan berlangsung di Balai Padukuhan Tegalsari, tempat perangkat gamelan berada. Dari kegiatan tersebut, pengenalan gamelan kemudian berlanjut menjadi ekstrakurikuler karawitan di sekolah.

Mahasiswa KKN mengajak para siswa berjalan kaki dari sekolah menuju Balai Padukuhan Tegalsari. Jarak antara sekolah dan balai cukup dekat sehingga rombongan dapat menuju lokasi dengan berjalan kaki. Selama perjalanan, mahasiswa turut mengawal para siswa dan didampingi oleh salah seorang guru dari SD Negeri Tegalsari.

Kegiatan diawali dengan pengenalan mengenai pentingnya pelestarian budaya. Mahasiswa juga menjelaskan perbedaan gamelan dengan alat musik modern yang lebih familiar bagi anak-anak. Gamelan diperkenalkan sebagai alat musik yang membutuhkan kekompakan antarpemain. Mahasiswa juga menjelaskan peran kendang sebagai salah satu instrumen yang menjadi pemimpin dalam permainan gamelan. Penjelasan tersebut menjadi pengantar sebelum siswa mengenal gamelan secara lebih langsung.

Setelah sesi pengantar, kegiatan dilanjutkan oleh Abdul Hidayat Damar Jati, putra Kepala Dukuh Tegalsari. Abdul sebelumnya telah bersedia untuk membimbing dan mengajarkan gamelan kepada para siswa. Ia memperkenalkan berbagai jenis gamelan yang terdapat di Balai Padukuhan Tegalsari. Satu per satu alat ditunjukkan kepada siswa dan dijelaskan nama serta fungsinya dalam permainan gamelan.

Setelah pengenalan alat, siswa memasuki sesi praktik. Sesi praktik dibagi menjadi dua bagian agar seluruh peserta mendapatkan kesempatan untuk mencoba. Para siswa terlihat antusias ketika mendapat kesempatan memainkan gamelan secara langsung. Mereka mencoba mengikuti instruksi yang diberikan dan belajar mengenali cara memainkan alat yang digunakan.

Guru pendamping juga turut membantu selama kegiatan berlangsung. Selain mendampingi siswa, guru mengamati kemampuan mereka ketika mengikuti praktik. Guru mencatat siswa yang menunjukkan potensi dalam bermain gamelan. Penilaian tersebut dilihat dari kemampuan siswa menangkap instruksi dan mempraktikkannya dengan benar. Siswa yang menunjukkan minat dan kemampuan tersebut kemudian menjadi sasaran utama untuk diarahkan mengikuti ekstrakurikuler karawitan apabila bersedia.

Berawal dari Keinginan Menghidupkan Kembali Karawitan

Koordinasi bersama Kepala Dukuh Tegalsari. Foto : Mahasiswa KKN-PPM UGM

Program pengenalan gamelan ini berangkat dari keinginan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan kesenian tradisional. Kepala Dukuh Tegalsari sebelumnya menyampaikan harapan agar terdapat generasi muda yang dapat meneruskan kegiatan gamelan. Pengenalan kepada anak-anak sekolah dipandang sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan ketertarikan terhadap budaya sejak dini.

Di sisi lain, SD Negeri Tegalsari sebenarnya pernah memiliki kegiatan ekstrakurikuler karawitan. Namun, kegiatan tersebut sempat terhenti. Ketika mahasiswa KKN menyampaikan rencana program pengenalan gamelan kepada pihak sekolah, kepala sekolah menyambutnya dengan baik. Pihak sekolah berharap kegiatan tersebut dapat menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali ekstrakurikuler karawitan di sekolah.

Harapan tersebut kemudian mulai terwujud melalui kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa KKN. Pengenalan gamelan yang dilakukan pada minggu keempat dari total tujuh minggu pelaksanaan KKN mendapat respons positif dari siswa dan pihak sekolah. Kegiatan tersebut tidak berhenti pada sesi pengenalan dan praktik. Selama mahasiswa KKN masih berada di Padukuhan Tegalsari, ekstrakurikuler karawitan telah mulai berjalan satu kali.

Keberlanjutan kegiatan tersebut menjadi salah satu hasil yang penting dari program pengenalan gamelan. Program yang awalnya dirancang untuk mengenalkan kesenian tradisional kepada siswa berkembang menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa program KKN dapat menjadi penghubung antara kebutuhan masyarakat, sekolah, dan potensi yang dimiliki masyarakat setempat.

Bagi mahasiswa KKN, kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman bahwa pelestarian budaya dapat dimulai melalui langkah sederhana. Mengenalkan gamelan kepada anak-anak memberikan ruang bagi mereka untuk mencoba dan mengenal budaya yang ada di lingkungan mereka. Ketika pengenalan tersebut dilanjutkan menjadi kegiatan rutin, kesempatan generasi muda untuk mengenal dan mempelajari karawitan pun menjadi lebih besar.

Melalui keberlanjutan ekstrakurikuler karawitan, SD Negeri Tegalsari memiliki ruang untuk kembali mengenalkan gamelan kepada siswanya. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan kesenian tradisional di tengah generasi muda. Pengenalan sejak usia sekolah diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan dan rasa memiliki terhadap budaya lokal. Dari sebuah kegiatan KKN, langkah kecil tersebut kemudian berkembang menjadi upaya bersama untuk menjaga keberlanjutan karawitan di lingkungan sekolah.

Penulis : Titah, Mahasiswa KKN-PPM UGM

Artikel ini telah dimuat di kompasiana.com

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Gadjah Mada

Jl. Pancasila Bulaksumur UGM, Blok G7,
Yogyakarta, Indonesia 55281
+62-274-552432
  +62-274-6492082, +62-274-6492083

whatsapp : 08112576939 (KKN)

 dit.pengabdian@ugm.ac.id
 Sekretariat DPKM : sekdit.dpkm@ugm.ac.id
Telepon Internal UGM : 82488(Sekretariat), 82486(KKN), 82490(Pemberdayaan Masyarakat).

 

Tentang DPKM

  • Sekilas DPKM
  • SOTK
  • Statistik

Tautan

  • LPPM-UGM
  • Publikasi
  • PIAT
  • Sekretariat RCE Yogyakarta
  • Instagram Pengabdian UGM
  • Instagram KKN UGM
  • YouTube KKN
  • KNPPM UGM
  • Instagram RCE Yogyakarta
  • ICCEESD

© Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY