
Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Peduli Bencana Sumatra 2026. Program yang berlangsung selama satu bulan, dari 1 Februari hingga 1 Maret 2026, ini merupakan wujud kontribusi multidisipliner UGM dalam mendukung pemulihan pascabencana, meliputi sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Pada 2 Maret 2026, para mahasiswa kembali ke kampus dengan membawa bekal pengalaman lapangan yang berharga, yang tidak hanya memperkaya ilmu tetapi juga mengubah pandangan mereka tentang esensi pengabdian dan kemanusiaan.
Salah satu cerita inspiratif datang dari Laurencia Lintang Arum Purbasari Harjanto, mahasiswa Sosiologi angkatan 2023, yang akrab disapa Lintang. Ia melaksanakan KKN-PPM Peduli Bencana di Gampong Manyang Cut, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Selama berinteraksi dengan masyarakat terdampak, Lintang menemukan makna mendalam tentang solidaritas, ketangguhan, dan kekuatan kebersamaan dalam menghadapi masa-masa sulit. “Kami datang bukan hanya untuk membantu, tetapi juga banyak belajar,” ujar Lintang, yang menunjukkan pemahaman baru tentang arti pengabdian.
Lintang secara langsung menyaksikan perjuangan masyarakat untuk bangkit dari dampak bencana. Pengalaman ini menyadarkannya bahwa kehadiran mahasiswa di lokasi bencana lebih dari sekadar memberikan bantuan; ini adalah proses pembelajaran yang datang langsung dari masyarakat. Melalui keseharian bersama warga, ia melihat bagaimana ketahanan sosial dibangun melalui gotong royong dan kemampuan untuk tetap bertahan di tengah keterbatasan. Bagi Lintang, pengalaman ini membuktikan bahwa pengabdian bukanlah proses satu arah, melainkan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dari kearifan dan kekuatan komunitas lokal.
Selama masa pengabdian, Lintang bersama tim “Manyang Meutuah” KKN PPM UGM Peduli Bencana 2026 fokus pada program-program di sektor pendidikan, pendampingan, dan pemulihan sosial. Mereka melaksanakan kegiatan pembelajaran interaktif di sekolah-sekolah dan melakukan pendampingan emosional dengan mendengarkan cerita serta trauma warga. Lintang menilai, kehadiran mahasiswa sering dimaknai tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai teman berbagi cerita bagi masyarakat yang membutuhkan ruang untuk didengarkan.
Untuk membangun kedekatan, Lintang dan timnya tinggal bersama masyarakat setempat. Mahasiswa perempuan menempati rumah milik Ibu Suryani, sementara mahasiswa laki-laki tinggal di lantai dua meunasah (musala) desa. Interaksi harian ini membantu mahasiswa memahami dinamika kehidupan pascabencana sekaligus menciptakan hubungan yang hangat dengan warga desa.
“Saya belajar bahwa sekalipun kita berada di titik terbawah dan merasa tidak berdaya, tetap ada hal-hal baik yang bisa kita dapat. Dan kita tidak sendirian,” kata Lintang. Ia melihat warga saling menguatkan: ibu-ibu yang berbagi trauma, anak-anak yang tetap ceria bermain dan belajar, serta para bapak yang tegar menjalani hari. Kebersamaan ini menjadi pondasi pemulihan, di mana masyarakat menjadi sumber kekuatan satu sama lain, bahkan ketika mereka merasa dukungan negara belum sepenuhnya hadir.
Solidaritas ini terwujud dalam momen-momen sederhana, mulai dari senam pagi menjelang Ramadhan, percakapan hangat di teras rumah, hingga tangis haru saat perpisahan. Warga yang awalnya hanya penasaran kini telah menjadi keluarga baru bagi para mahasiswa.

Pengalaman ini mengubah pandangan Lintang tentang makna pengabdian. Berbeda dengan KKN reguler yang sering berorientasi pada program dan output, KKN Peduli Bencana menempatkan fokus pada kehadiran dan empati. Intinya bukan pada apa yang bisa ditinggalkan, melainkan pada apa yang bisa dibagikan saat itu juga—waktu, perhatian, dan kesediaan untuk mendengarkan.
Pengalaman yang dialami Lintang ini menegaskan bahwa pengabdian adalah ruang belajar yang membuka perspektif baru tentang kemanusiaan. Melalui interaksi dengan masyarakat Aceh, mahasiswa UGM tidak hanya terlibat dalam upaya pemulihan, tetapi juga menyerap pelajaran berharga tentang ketangguhan, solidaritas, dan kekuatan komunitas dalam menghadapi krisis. Program KKN Peduli Bencana UGM ini sekaligus berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mendukung pendidikan berkualitas, kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan komunitas yang tangguh dan inklusif.
Penulis/Editor: Dn Halimah & Sabri/Dn Halimah
Sumber/Foto: Tim Humas Media Publikasi DPkM (KKN-PPM UGM)