Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Periode IV Tahun 2024 bekerjasama dengan Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Serang menggelar Festival Harmoni Tirtayasa di Desa Wisata Bumi Tirtayasa Kecamatan Tirtayasa pada Rabu, 5 Februari 2025. Sebagai upaya, untuk mengajak anak usia ini sampai masyarakat secara umum untuk mengenali dan merawat budaya yang dimiliki Kabupaten Serang yakni Silat Kaserangan yang digagas oleh Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah dan Tari Ringkang Jawari.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar program edukasi bertajuk “Pengolahan Sampah dan Mitigasi Bencana” untuk siswa Kelas 4 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 17 Kepulauan Seribu. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Senin, (13/1/2025). Dalam program ini, mahasiswa UGM memberikan materi interaktif tentang cara mengolah sampah organik dan anorganik, serta praktik langsung pembuatan kompos. Selain itu, mereka juga mengajarkan langkah-langkah mitigasi bencana seperti simulasi evakuasi saat gempa bumi dan banjir. Program ini diikuti oleh seluruh siswa Kelas 4 MIN 17 Kepulauan Seribu, didampingi oleh para guru. Mahasiswa UGM yang terlibat merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kepulauan Seribu.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Periode IV Tahun 2024, bekerja sama dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Serang, menggelar Festival Harmoni Tirtayasa di Desa Wisata Bumi Tirtayasa, Kecamatan Tirtayasa, pada Rabu (5/2/2025). Festival ini bertujuan untuk mengajak generasi muda dan masyarakat mengenali serta melestarikan budaya lokal, khususnya Silat Kaserangan (seni bela diri) khas Kabupaten Serang yang digagas oleh Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, serta Tari Ringkang Jawari.

Selama 50 hari terhitung dari tanggal 21 Juli s.d. 8 Agustus 2025, Tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) JT-072 atau Tim Keling Berdering telah menjalankan pengabdian di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Kegiatan ini dirancang dengan mengusung program kerja dari empat klaster utama, yaitu Sains dan Teknologi, Medika, Agro, dan Sosial Humaniora. Setiap program kerja difokuskan untuk menjawab kebutuhan dan potensi masyarakat desa, mulai dari inovasi teknologi ramah lingkungan, peningkatan kesehatan, penguatan sektor pertanian dan agrowisata, hingga pemberdayaan ekonomi dan pendidikan. Semua program dirancang untuk terutamanya meningkatkan kualitas SDM di Desa Tempur, mendorong kemandirian ekonomi, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berikut merupakan program kerja kami berdasarkan klaster:
Tim KKN-PPM UGM Citta Bulukumba menyelenggarakan Festival Raya Kajang. Festival yang berlangsung semarak dan mendapat perhatian besar dari masyaraka yang digelar di halaman Kantor Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Sabtu (27/7). Dengan tagline Kajang Bersinergi, Pangan Mandiri, festival ini menjadi puncak kegiatan pengabdian masyarakat Tim Mahasiswa KKN-PPM UGM di Kelurahan Tanah Jaya dan Desa Pantama Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.
Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) baru saja merampungkan pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode 2 Tahun 2025, yang diselenggarakan selama 50 hari, terhitung sejak 20 Juni hingga 8 Agustus silam. Tercatat sebanyak 8.038 mahasiswa yang tergabung dalam 287 unit berhasil menuntaskan misi pengabdian di seluruh penjuru Nusantara, yakni mencakup 35 provinsi, 122 kabupaten/kota, dan 236 kecamatan. Salah satu unit yang berhasil merampungkan misi pengabdiannya adalah Tim KKN PPM UGM yang berlokasi di Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Kaos biru-biru mahasiswa telah memadati lapangan Graha Sabha Pramana (GSP) pada Jumat, (20-6) menandai penerjunan ratusan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) periode 2 yang salah satunya datang dari Tim dari Gemerlap Pinang Tanjung Pinang, Kepulauan Riau untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat Kampung Madong, Sei nyirih, dan Senggarang. Tim KKN Gemerlap Pinang memeroleh kesempatan untuk menjalankan program kerja yang sesuai dengan minat studi yang dikelompokkan berdasarkan empat klaster, sosial- humaniora ( Soshum) , sains dan teknologi (Saintek), agro, dan medika.
Foto: Mahasiswa KKN-PPM UGM Unit 2025-SS002 Lempuing Jaya, Kab. Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN-PPM UGM Periode II 2025) Keliling Lempuing yang berlokasi di Desa Tanjung Sari II dan Rantau Durian I, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan berhasil menyelesaikan program kerja unggulan yang mengusung tema “Optimalisasi Agroforestri dan Potensi Lokal yang Terintegrasi sebagai Upaya Meningkatkan Ketahanan Lingkungan serta Mendukung Ekonomi Berkelanjutan di Desa Tanjung Sari II dan Rantau Durian I”. Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat karena mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

Di balik rumah-rumah sederhana di Desa Sadi, Kabupaten Belu, tersimpan benda yang tak biasa: fosil fauna. Fosil-fosil ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan warga, meski belum sepenuhnya disadari nilai pentingnya. Melihat potensi tersebut, tim KKN PPM UGM Halo Belu yang ditempatkan di Desa Sadi berinisiatif melakukan konservasi fosil sebagai salah satu program kerja.
Bahasa ibu memainkan peran dalam proses pewarisan budaya dan pembentukan jati diri sejak masa kanak-kanak. Di lingkungan keluarga, bahasa ini tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai etnik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Fishman (1991) menegaskan bahwa bahasa ibu merupakan sarana utama dalam mempertahankan identitas kelompok budaya serta kesinambungan antar generasi. Akan tetapi, dalam situasi masyarakat yang mengalami mobilitas sosial dan geografis, seperti para transmigran, hal ini akan menciptakan keberlangsungan bahasa ibu seringkali terancam karena adanya tuntutan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru. Para transmigran ini harus beradaptasi terhadap bahasa dominan setempat. Hal ini seringkali dianggap sebagai pilihan strategis untuk memudahkan integrasi sosial dan menghindari isolasi linguistik. Akibatnya, bahasa ibu mulai kehilangan perannya di ranah domestik dan mengalami penyusutan fungsi secara perlahan. Ketika bahasa tersebut tidak lagi digunakan secara aktif dalam interaksi keluarga, maka proses pemerolehannya pun akan terputus di generasi berikutnya.





