Universitas Gadjah Mada mendorong penguatan koperasi sebagai pusat hilirisasi produk unggulan UMKM untuk memperluas akses pasar, meningkatkan daya saing, dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Upaya tersebut menjadi fokus Workshop Nasional UMKM bertema “Potensi Produk Unggulan UMKM Mendukung Kekuatan Ekonomi Masyarakat Melalui Koperasi” yang diselenggarakan melalui Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) UGM dan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Rabu (12/8), di Auditorium Kamarijani-Soenjoto, Fakultas Teknologi Pertanian UGM.
Workshop diikuti 122 pelaku UMKM dari bidang fashion, kuliner, kerajinan, kesehatan dan kecantikan, manufaktur, hingga pertanian dan peternakan. Kegiatan turut menghadirkan pengurus dan pengelola koperasi serta unsur pemerintah daerah yang membidangi koperasi dan UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FTP UGM, Prof. Dr. Ir. Yudi Pranoto, S.T.P., M.P., menyampaikan sambutan mewakili Dekan FTP UGM. Ia menyoroti kehadiran Koperasi Merah Putih sebagai salah satu momentum penting dalam memperkuat peran koperasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ia juga mengajak para pelaku UMKM untuk tidak terpaku pada label sebagai usaha “kecil”, melainkan terus mengembangkan kapasitas, meningkatkan kualitas, dan memperluas skala usaha agar dapat berkembang serta naik kelas.
Sementara itu, Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., dalam sambutan dan arahannya menekankan posisi UMKM sebagai aset lokal strategis yang berkontribusi terhadap kesejahteraan rumah tangga dan ketahanan ekonomi daerah. Penguatan UMKM, menurutnya, perlu ditempatkan dalam ekosistem yang inklusif dan didukung proses hilirisasi yang mencakup inovasi produk, pembiayaan, peningkatan kapasitas, digitalisasi, serta perluasan akses pasar.

Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., menyampaikan sambutan dalam pembukaan Workshop Nasional UMKM.
Penguatan kelembagaan dan jejaring kolaboratif juga menjadi bagian penting untuk meningkatkan posisi tawar UMKM di tengah dinamika ekonomi dan persaingan global. Dalam konteks tersebut, koperasi diharapkan tidak sekadar menjadi kelembagaan ekonomi, tetapi berkembang menjadi pusat hilirisasi produk unggulan yang mampu mempertemukan produsen, konsumen, dan sektor swasta dalam satu ekosistem usaha.
Dari Produk Unggulan Menuju Ekosistem Usaha
Penguatan hubungan antara UMKM dan koperasi menjadi benang merah dalam sesi pertama yang dimoderatori Dr. Novita Erma Kristanti, S.T.P., M.P. Melalui tiga perspektif berbeda, para narasumber membahas bagaimana inovasi produk perlu ditopang model bisnis yang layak, kelembagaan yang kuat, dan kemampuan membaca perubahan pasar.
Amirullah Setya Hardi, S.E., Cand.Oecon., Ph.D. dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM menyoroti pentingnya koperasi untuk tetap mempertahankan jati dirinya sekaligus dikelola secara profesional sebagai badan usaha. Perencanaan strategis, pemahaman terhadap siklus bisnis, penentuan produk unggulan, serta fleksibilitas kelembagaan menjadi faktor penting agar koperasi mampu beradaptasi dan berkompetisi. Ia juga mengangkat koperasi multipihak (multi-stakeholder cooperative) sebagai salah satu model yang dapat mengakomodasi berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan usaha bersama.

Narasumber Panel Sesi 1 Workshop Nasional UMKM berbagi perspektif akademis dan pengalaman praktis mengenai penguatan kelembagaan koperasi, inovasi produk, standardisasi produksi, pengembangan pasar, serta praktik pemberdayaan masyarakat berbasis UMKM.
Contoh hilirisasi inovasi disampaikan Dr. Ir. Muhsin Al Anas, S.Pt., IPP. dari Fakultas Peternakan UGM melalui pengembangan FAPET EGG “Telur Ayam Sejahtera”. Produk tersebut dikembangkan melalui sistem peternakan ayam petelur bebas sangkar (cage-free) dengan model bisnis yang mengintegrasikan manajemen produksi, pemasaran B2B dan B2C, serta analisis kelayakan usaha. Model ini telah diterapkan melalui pendampingan terhadap lima kelompok wanita tani/tani di Kabupaten Sleman untuk mengembangkan usaha peternakan ayam petelur bebas sangkar dari hulu hingga hilir.
Sementara itu, Herdiana Dewi Utari dari CV Dewi Makmur menunjukkan bagaimana jamu dapat bertransformasi dari produk berbasis kearifan lokal menjadi bagian dari gaya hidup modern dan bisnis yang memiliki peluang pasar lebih luas. Transformasi dilakukan melalui inovasi formulasi dan kemasan, standardisasi mutu, design thinking, penguatan branding, pemasaran digital, serta adaptasi kanal bisnis secara online maupun offline dan B2B maupun B2C.
Teknologi, Kreativitas, dan Pemberdayaan Masyarakat
Sesi kedua yang dimoderatori Bayu Nugraha, S.T.P., M.Sc., Ph.D. memperluas pembahasan pada aspek produksi, inovasi usaha, dan pemberdayaan masyarakat. Dr. Ir. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc., IPU., ASEAN Eng. dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM menekankan pentingnya pemilihan alat dan mesin produksi sebagai bagian dari standardisasi proses dan penerapan Good Manufacturing Practices (GMP).
Menurut materi yang dipaparkan, standardisasi tidak hanya berkaitan dengan penggunaan mesin, tetapi juga mencakup bahan baku, proses pengolahan, sanitasi, lingkungan produksi, sumber daya manusia, penyimpanan, hingga pemeliharaan peralatan. Melalui contoh produksi gula semut, penggunaan teknologi produksi yang tepat ditunjukkan dapat mendukung konsistensi proses, higienitas, keamanan, dan mutu produk.

Narasumber Panel Sesi 2 Workshop Nasional UMKM mengangkat praktik nyata pengembangan UMKM, mulai dari mengolah limbah alam menjadi produk bernilai ekonomi, menangkap peluang pasar melalui kreativitas, hingga penerapan teknologi dan standardisasi dalam proses produksi.
Pengalaman pelaku usaha kemudian memperlihatkan bagaimana kreativitas dapat berkembang sekaligus membuka manfaat ekonomi bagi masyarakat. Lenny Tursia Vristhina melalui Evanz Store mengembangkan produk handmade untuk kebutuhan pernikahan dan berbagai acara resmi dengan mengandalkan inovasi desain, produk custom, marketplace, media sosial, serta jaringan mitra. Di balik pengembangan bisnis tersebut, proses produksinya juga melibatkan ibu rumah tangga, pelajar, fresh graduate, pekerja paruh waktu, dan masyarakat sekitar sebagai bagian dari upaya penciptaan peluang kerja dan peningkatan keterampilan.
Praktik serupa ditunjukkan Juni Noor Hastuti melalui Matahari Craft yang mengolah klobot jagung dan limbah alam lainnya menjadi bunga kering dan produk kerajinan bernilai ekonomi. Usaha yang bermula dari pemanfaatan kulit jagung yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar tersebut berkembang dari produksi yang awalnya dikerjakan dua orang hingga melibatkan sekitar 16 ibu rumah tangga yang dapat mengerjakan produk dari rumah masing-masing.
Persoalan Nyata UMKM Jadi Bahan Diskusi
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang mengangkat berbagai persoalan nyata di lapangan, mulai dari keterbatasan permodalan, persaingan UMKM dengan perusahaan besar, tingginya biaya pakan ternak, hingga anjloknya harga komoditas pertanian ketika memasuki masa panen. Peserta juga mengangkat kebutuhan pendampingan akademisi dan peluang pengembangan bahan herbal lokal.
Wijaya, salah satu pelaku UMKM di Yogyakarta, mempertanyakan peran pemerintah dan sektor swasta dalam membantu UMKM memperkuat permodalan dan daya saing di tengah kompetisi dengan perusahaan-perusahaan besar. Menanggapi hal tersebut, Amirullah Setya Hardi menekankan pentingnya UMKM memahami terlebih dahulu kebutuhan modal secara tepat, memperkuat pasar internal, membangun loyalitas konsumen, dan memperjelas branding sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing. Herdiana Dewi Utari juga mengingatkan bahwa kebutuhan modal sangat bergantung pada kondisi dan arah pengembangan masing-masing usaha, sedangkan Muhsin Al Anas menyoroti pentingnya pengelolaan arus kas dan kesiapan menghadapi risiko usaha yang dapat muncul sewaktu-waktu.
Persoalan lain disampaikan Sri Sumiat dari Kulon Progo yang menyoroti turunnya harga bawang merah dan cabai ketika musim panen karena belum adanya kelembagaan yang mampu menyerap hasil produksi secara optimal. Ia juga menyampaikan potensi empon-empon di Kulon Progo serta kebutuhan pendampingan akademisi untuk pengembangan usaha peternakan kambing. Dalam tanggapannya, Amirullah menjelaskan bahwa koperasi dapat mengambil peran sebagai off-taker atau pengumpul hasil panen, sekaligus membantu pengelolaan pemasaran, penyimpanan, dan perluasan akses pasar. Potensi empon-empon, menurutnya, juga dapat dikembangkan melalui kemitraan pemasok dengan koperasi maupun industri pengolahan.

Antusias Peserta Workshop Nasional UMKM antusias mengangkat tangan untuk menyampaikan pertanyaan dalam sesi diskusi
Seorang anggota Gapoktan penerima hibah Kementerian Pertanian turut menanyakan strategi menghadapi penurunan harga telur dan tingginya biaya pakan dalam usaha ayam petelur. Muhsin Al Anas menekankan pentingnya analisis pasar sebagai dasar pengambilan keputusan usaha dan menyampaikan bahwa Fakultas Peternakan UGM memiliki tim yang dapat memberikan pendampingan, termasuk dalam pengembangan usaha peternakan dan pemanfaatan limbah ternak.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan modal, tetapi juga menyangkut stabilitas harga, akses pasar, biaya produksi, inovasi produk, serta kebutuhan pendampingan. Diskusi ini sekaligus memperkuat pesan utama workshop bahwa pengembangan UMKM membutuhkan dukungan ekosistem yang melibatkan koperasi, akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha secara bersama-sama.

Pameran produk yang diikuti 30 UMKM turut memeriahkan rangkaian Workshop Nasional UMKM di halaman Auditorium Kamarijani-Soenjoto, FTP UGM.
Selain diskusi panel, workshop juga dilengkapi pameran produk yang diikuti oleh 30 UMKM di halaman Auditorium Kamarijani-Soenjoto. Pameran tersebut menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan beragam produk unggulan sekaligus membuka peluang interaksi, promosi, dan perluasan jejaring dengan peserta serta pemangku kepentingan yang hadir dalam workshop.
Enam Rekomendasi untuk Penguatan UMKM dan Koperasi
Pada akhir kegiatan, Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat DPKM UGM, Dr. Djoko Santosa, S.Si., M.Si., membacakan enam rekomendasi yang dirumuskan berdasarkan pemaparan narasumber, diskusi, dan masukan peserta. Rekomendasi tersebut menempatkan pembangunan ekosistem UMKM yang inklusif serta hilirisasi melalui inovasi produk, pembiayaan, peningkatan kapasitas, digitalisasi, dan akses pasar sebagai langkah penting untuk memperkuat daya saing usaha lokal.
Workshop juga merekomendasikan replikasi praktik baik dari berbagai UMKM, penguatan koperasi sebagai pusat hilirisasi produk unggulan dan pengembangan UMKM, serta pengembangan koperasi multipihak yang mampu menghubungkan produsen, konsumen, dan sektor swasta. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi rantai nilai, memperkuat daya saing, dan mendorong keberlanjutan ekonomi lokal.

Narasumber dan peserta Workshop Nasional UMKM berfoto bersama usai pembukaan kegiatan di Auditorium Kamarijani-Soenjoto, Fakultas Teknologi Pertanian UGM.
Melalui pertemuan antara akademisi, pelaku usaha, koperasi, dan pemerintah daerah, workshop ini memperlihatkan bahwa penguatan UMKM tidak berhenti pada penciptaan produk unggulan. Inovasi perlu disertai proses produksi yang berkualitas, kelembagaan yang adaptif, akses pasar, jejaring kolaborasi, serta kemampuan mengubah potensi lokal menjadi nilai ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Workshop ditutup oleh Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes. Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh narasumber, peserta, serta pihak yang telah mendukung terselenggaranya Workshop Nasional UMKM. Ia berharap pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik yang dibagikan selama workshop dapat menjadi bekal bagi para pelaku UMKM dan pengelola koperasi untuk terus mengembangkan usaha serta memperkuat jejaring kolaborasi.
Author: bil
Photo: DPKM