Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dipimpin oleh Dr. Rudy Wiratama, S.IP., M.A. dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) melaksanakan program bertajuk “Pemertahanan dan Pelestarian Tradisi Tatah Sungging Wayang Kulit di Desa Wisata Butuh, Sidowarno, Wonosari, Klaten, melalui Peningkatan Kemampuan Pengrajin dan Pameran Produk Unggulan Masyarakat.” Program ini merupakan upaya kolaboratif untuk memperkuat keberlanjutan tradisi tatah sungging sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat berbasis potensi budaya lokal.
Kegiatan dilaksanakan di **Desa Wisata Wayang Butuh, Sidowarno, Wonosari, Klaten**, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Ketua Pokdarwis Sidowarno **Suraji** serta Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUBE) “Bima”, **Mamik Raharjo**, sebagai mitra utama di tingkat masyarakat.

Secara historis, industri tatah sungging wayang kulit di Desa Butuh telah berkembang sejak dekade 1960-an. Potensi tersebut kemudian diperkuat melalui program pengembangan desa wisata sejak tahun 2017 dengan dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) Astra. Berkat konsistensi pengembangan tersebut, pada tahun 2022 kawasan ini resmi ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai **Desa Wisata Wayang**.
Program pengabdian menghadirkan berbagai kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat. Di antaranya adalah workshop pengolahan kulit bagi perajin kerok kulit sebagai penyedia bahan baku wayang, pelatihan nyorek wayang kulit yang dibimbing langsung oleh empu wayang dari Keraton Surakarta, serta workshop branding dan pengelolaan paket wisata bagi pelaku pariwisata dan organisasi kepemudaan setempat. Selain itu, program juga mencakup penyelenggaraan pameran produk unggulan masyarakat dan workshop tatah sungging yang diselenggarakan di Pusaka Jawa FIB UGM sebagai media promosi sekaligus apresiasi terhadap karya para perajin.
Pelaksanaan program memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Meningkatnya minat generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian Desa Wisata Wayang menjadi salah satu indikator keberhasilan yang penting. Di sisi lain, masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai proses pengolahan kulit mentah sebagai bahan baku wayang, sekaligus memperoleh keterampilan baru dalam memproduksi wayang kulit berukuran suvenir yang memiliki nilai jual tinggi.
Keberhasilan program ini juga menarik perhatian dunia internasional. **Department of Dramatic Arts, University of Connecticut, Amerika Serikat**, yang diwakili oleh **Prof. Matthew Isaac Cohen**, bersama **CEMPALA (Centre for Multidisciplinary Puppetry Arts Learning and Appreciation)**, menunjukkan ketertarikannya untuk merintis Desa Butuh Sidowarno sebagai destinasi wisata edukasi tatah sungging wayang bertaraf internasional. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jejaring akademik sekaligus memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada masyarakat global.
Dari sisi ekonomi, program pengabdian ini turut memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Setelah pelaksanaan kegiatan, para pelaku Desa Wisata Wayang memperoleh kesempatan mengikuti berbagai pameran, di antaranya pada ajang balap sepeda tingkat nasional di Prambanan serta expo pendidikan di Surabaya. Produk wayang kulit berukuran suvenir hasil karya masyarakat mendapat sambutan yang sangat baik dan terjual dengan antusias, menunjukkan tingginya minat pasar terhadap produk budaya lokal yang dikembangkan melalui inovasi dan peningkatan kualitas.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan mitra internasional, program pengabdian ini menjadi contoh nyata bagaimana pelestarian warisan budaya dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. UGM berharap inisiatif ini mampu menjaga keberlangsungan tradisi tatah sungging wayang kulit sekaligus menjadikan Desa Wisata Butuh sebagai pusat pembelajaran, pelestarian budaya, dan destinasi wisata budaya yang berdaya saing hingga tingkat internasional. ***
Kontributor: Dr. Rudy Wiratama, S.IP., M.A.
Penyusun: Widodo dan Ayyub Rizqullah