• Tentang UGM
  • Simaster
  • KKN-PPM
  • Student Community Service
  • Jurnal Pengabdian
  • Mitra Pengabdian
  • Workshop UMKM
  • Indonesia
    • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat
  • Beranda
  • Subdirektorat
    • Kuliah Kerja Nyata
      • KKN-PPM
      • SCS-CEL
    • Pemberdayaan Masyarakat
      • RCE – Yogyakarta
      • UMKM
      • TTG
      • DERU – UGM
      • Wilayah Binaan
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Data & Informasi
  • Publikasi
  • Tentang
    • Sekilas DPkM
    • Struktur Organisasi
    • Kontak
  • Beranda
  • Berita Utama DPkM
  • Dari Tanaman Obat hingga Produk Desa: Perempuan Purwosari Menjaga Alam, Membangun Ekonomi

Dari Tanaman Obat hingga Produk Desa: Perempuan Purwosari Menjaga Alam, Membangun Ekonomi

  • Berita Utama DPkM, Pemberdayaan Masyarakat, SDGs 1 : Menghapus Kemiskinan, SDGs 3 Kehidupan sehat dan sejahtera, SDGs 4 : Pendidikan berkualitas (quality education), SDGs 5: Kesetaraan Gender, SDGs 8 : Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, TTG
  • 21 Oktober 2026, 14.36
  • Oleh: prayudhi.kurniawan
  • 0

Di lereng Menoreh, pengetahuan lokal tentang tanaman, pangan, dan lingkungan dipertemukan dengan sains untuk memperkuat kesehatan keluarga, konservasi biodiversitas, serta peluang usaha warga.

Warga Bersama dengan tim pendamping dari UGM dan BRIN dalam rangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat di Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo.

Purwosari, sebuah kelurahan di Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, memiliki kekayaan yang tidak selalu terlihat dalam angka: tanaman obat, tanaman pangan lokal, buah-buahan, kopi, kakao, anggrek, serta beragam organisme yang membentuk keseimbangan lingkungan. Di tangan masyarakat, kekayaan hayati itu bukan hanya bagian dari lanskap desa, tetapi juga sumber pengetahuan, pangan, kesehatan, dan peluang ekonomi.

Potensi inilah yang menjadi titik berangkat program “Community Development berbasis Agromedicine dan Biodiversity untuk Pemberdayaan Perempuan & Local Expert di Kelurahan Purwosari”. Program ini menempatkan perempuan dan para local expert sebagai aktor utama, bukan sekadar peserta. Mereka diajak mengenali kembali potensi lingkungannya, mendokumentasikan pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan, sekaligus mengembangkan cara pemanfaatan yang lebih aman, bernilai tambah, dan tetap menjaga kelestarian alam.

 Belajar dari kebun, belajar dari warga

Di Purwosari, pengetahuan tentang tanaman sering kali tumbuh dari pengalaman sehari-hari: apa yang ditanam di pekarangan, bagian tanaman yang biasa dimanfaatkan, cara mengolah bahan pangan, hingga praktik sederhana untuk menjaga kesehatan keluarga. Pengetahuan seperti ini sangat berharga, tetapi perlu dipertemukan dengan informasi ilmiah agar pemanfaatannya lebih tepat dan bertanggung jawab.

Pendekatan agromedicine digunakan untuk menjembatani dua dunia tersebut. Tanaman tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai sumber bahan yang berpotensi mendukung kesehatan. Pada saat yang sama, masyarakat diajak memahami pentingnya identifikasi tanaman, higienitas pengolahan, konsistensi bahan baku, penyimpanan, serta batas antara penggunaan tradisional dan klaim kesehatan yang memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Pendokumentasian tanaman dan pengetahuan lapangan menjadi bagian penting dalam menghubungkan pengalaman warga dengan pendekatan ilmiah oleh Dr. Djoko Santosa.

Perempuan di garis depan pemberdayaan

Perempuan memiliki posisi strategis karena dekat dengan pengelolaan pangan rumah tangga, kesehatan keluarga, pekarangan, dan kegiatan kelompok di tingkat dusun. Karena itu, kegiatan pemberdayaan dirancang bukan sebagai transfer pengetahuan satu arah, melainkan sebagai ruang praktik dan diskusi. Peserta mencoba mengolah bahan lokal, membandingkan proses, membahas mutu, serta melihat kemungkinan pengembangan produk sederhana yang dapat dikerjakan secara bertahap.

Praktik pengolahan bahan lokal berupa Jamu membuka diskusi tentang kebersihan proses, mutu produk, cita rasa, dan peluang usaha berbasis sumber daya desa.

Dari sinilah gagasan produk desa mulai dibangun. Nilai tambah tidak hanya berasal dari kemasan, tetapi juga dari cerita bahan baku, konsistensi proses, keamanan, dan identitas lokal. Sebuah produk akan lebih kuat ketika masyarakat dapat menjelaskan dari mana bahan berasal, siapa yang menanam, bagaimana cara mengolah, dan mengapa proses tersebut penting bagi lingkungan maupun ekonomi keluarga.

Local expert, pengetahuan yang tidak boleh hilang

Di setiap desa selalu ada orang-orang yang memahami lingkungannya secara mendalam: petani yang mengenali musim, warga yang memahami jenis tanaman, pengolah pangan yang menguasai resep, atau tokoh lokal yang mengetahui sejarah pemanfaatan sumber daya alam. Mereka adalah local expert. Keahlian mereka lahir dari pengalaman panjang dan sangat kontekstual.

Program ini berupaya memberi ruang agar pengetahuan lokal tersebut dapat didokumentasikan, ditelaah, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pendekatannya bukan untuk menganggap semua pengetahuan tradisional pasti benar, dan bukan pula untuk menggantikannya dengan ilmu dari luar. Yang dibangun adalah dialog: pengalaman lokal menjadi titik awal, sementara sains membantu melakukan verifikasi dan pengembangan.

Kunjungan ke fasilitas budidaya memperluas wawasan tentang konservasi, perbanyakan tanaman, dan pengelolaan sumber daya hayati.

Menjaga biodiversitas sambil membuka peluang ekonomi

Purwosari juga dikenal memiliki lanskap yang mendukung kegiatan eco-edu tourism. Di wilayah seperti Tegalsari dan Sabrang Kidul, upaya menjaga lingkungan berjalan berdampingan dengan pengenalan berbagai jenis anggrek, tumbuhan obat, tanaman pangan lokal seperti talas dan kimpul, serta komoditas buah, pisang, kopi, dan kakao. Keanekaragaman ini merupakan modal penting bagi pendidikan lingkungan sekaligus pengembangan ekonomi desa.

Namun, nilai ekonomi tidak boleh mendorong eksploitasi berlebihan. Jika sebuah tanaman mulai diminati, kebutuhan bahan baku juga meningkat. Karena itu, pengembangan produk harus diikuti dengan budidaya, pencatatan sumber bahan, perbanyakan tanaman, dan penguatan kebun pembelajaran. Dengan cara tersebut, bahan baku tidak semata-mata diambil dari alam, tetapi dikelola sebagai aset bersama.

Pendampingan kelompok mendorong pertukaran pengalaman dan keberanian untuk mengembangkan potensi lokal.

Kolaborasi kampus, lembaga riset, dan masyarakat

Kegiatan di Purwosari berkembang melalui kolaborasi berbagai pihak. Selain melibatkan masyarakat, kegiatan pemberdayaan juga terhubung dengan Fakultas Farmasi UGM, Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM, BRIN, serta keterlibatan mahasiswa dari Fakultas Kehutanan UGM. Dalam salah satu rangkaian kegiatan, mahasiswa asal Uganda juga ikut terlibat, memberi warna internasional pada proses belajar di tingkat desa.

Keterlibatan lintas institusi penting bukan untuk menjadikan masyarakat sebagai objek penelitian, tetapi untuk memperluas akses pengetahuan dan jejaring. Warga membawa pengetahuan lokal dan kebutuhan nyata, sementara perguruan tinggi dan lembaga riset dapat membantu pada aspek ilmiah, dokumentasi, pengembangan produk, hingga penguatan kapasitas.

Kebersamaan warga dan mitra menjadi fondasi penting agar program dapat berlanjut setelah kegiatan pelatihan selesai.

Ke depan, Purwosari juga direncanakan menjadi salah satu lokasi kegiatan KKN-PPM UGM pada akhir 2026 hingga awal 2027. Rencana tersebut membuka peluang kesinambungan program, termasuk penguatan aspek etnomedisin dan kolaborasi internasional. Jika kesinambungan ini terjaga, pengabdian tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari, tetapi tumbuh menjadi proses pendampingan yang panjang.

Bukan sekadar pelatihan

Ukuran keberhasilan program semacam ini tidak cukup dihitung dari jumlah peserta atau banyaknya sesi pelatihan. Dampak yang lebih penting adalah ketika muncul local champion, kelompok perempuan semakin percaya diri, pengetahuan lokal terdokumentasi, tanaman penting mulai dibudidayakan, dan produk desa terus diperbaiki kualitasnya.

Dalam jangka panjang, pengembangan dapat diarahkan pada pemetaan biodiversitas desa, katalog tanaman bermanfaat, kebun edukasi, standardisasi pengolahan sederhana, penguatan desain kemasan, pemasaran digital, hingga pengembangan paket wisata edukasi berbasis biodiversitas. Langkah-langkah tersebut dapat mempertemukan tiga tujuan sekaligus: konservasi, kesehatan masyarakat, dan ekonomi lokal.

 

Sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs)

Kegiatan ini sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Pengembangan produk desa berbasis tanaman lokal membuka peluang usaha bagi keluarga sehingga mendukung pengentasan kemiskinan (SDG 1) serta pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan layak (SDG 8). Pemanfaatan tanaman obat dan bahan pangan lokal yang aman dan higienis berkontribusi pada kehidupan sehat dan sejahtera (SDG 3). Dialog antara pengetahuan lokal dan sains, pendokumentasian pengetahuan warga, serta keterlibatan mahasiswa lintas negara memperkuat pendidikan berkualitas (SDG 4), sementara peran perempuan dan local expert sebagai aktor utama program mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (SDG 5).

 

Dari Purwosari, pembangunan dimulai dari apa yang sudah dimiliki

Cerita Purwosari menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru. Banyak modal sudah tersedia: tanaman yang tumbuh di sekitar rumah, pengetahuan para tetua dan petani, keterampilan perempuan, serta semangat warga menjaga lingkungannya. Tantangannya adalah bagaimana seluruh modal tersebut dikenali, dihargai, dikembangkan, dan dihubungkan dengan peluang yang lebih luas.

Dari tanaman obat hingga produk desa, perempuan Purwosari memperlihatkan bahwa menjaga alam dan membangun ekonomi bukanlah dua pilihan yang saling bertentangan. Ketika biodiversitas dirawat, pengetahuan lokal diperkuat, dan manfaat ekonomi dibangun secara adil, desa memiliki peluang untuk tumbuh tanpa kehilangan identitasnya.

Nama Program resmi: Community Development berbasis Agromedicine dan Biodiversity untuk Pemberdayaan Perempuan & Local Expert di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketua: apt. Navista Sri Octa Ujiantari, M.Sc., Ph.D. (UGM). Sedangkan tim anggota kegiatan yaitu Dr. Djoko Santosa, S.Si., M.Si.(UGM); Dr. Cintya Nurul Apsari, S.T.P., M.Si.(UGM); dan Latifa Nuraini, Ph.D. (BRIN).

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Gadjah Mada

Jl. Pancasila Bulaksumur UGM, Blok G7,
Yogyakarta, Indonesia 55281
+62-274-552432
  +62-274-6492082, +62-274-6492083

whatsapp : 08112576939 (KKN)

 dit.pengabdian@ugm.ac.id
 Sekretariat DPKM : sekdit.dpkm@ugm.ac.id
Telepon Internal UGM : 82488(Sekretariat), 82486(KKN), 82490(Pemberdayaan Masyarakat).

 

Tentang DPKM

  • Sekilas DPKM
  • SOTK
  • Statistik

Tautan

  • LPPM-UGM
  • Publikasi
  • PIAT
  • Sekretariat RCE Yogyakarta
  • Instagram Pengabdian UGM
  • Instagram KKN UGM
  • YouTube KKN
  • KNPPM UGM
  • Instagram RCE Yogyakarta
  • ICCEESD

© Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY