• Tentang UGM
  • Simaster
  • KKN-PPM
  • Student Community Service
  • Jurnal Pengabdian
  • Mitra Pengabdian
  • Workshop UMKM
  • Indonesia
    • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat
  • Beranda
  • Subdirektorat
    • Kuliah Kerja Nyata
      • KKN-PPM
      • SCS-CEL
    • Pemberdayaan Masyarakat
      • RCE – Yogyakarta
      • UMKM
      • TTG
      • DERU – UGM
      • Wilayah Binaan
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Data & Informasi
  • Publikasi
  • Tentang
    • Sekilas DPkM
    • Struktur Organisasi
    • Kontak
  • Beranda
  • Berita Utama DPkM
  • KKN
  • Mahasiswa KKN UGM Kenalkan Mesin Pencacah untuk Mengolah Limbah Organik

Mahasiswa KKN UGM Kenalkan Mesin Pencacah untuk Mengolah Limbah Organik

  • KKN, KKN-PPM, SDGs 11 :Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, SDGs 12 : Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDGs 8 : Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • 18 Agustus 2026, 14.14
  • Oleh: prayudhi.kurniawan
  • 0
Sumber : KKN PPM UGM Bakam Bercerita

Kelompok KKN-PPM UGM Bakam Bercerita yang melaksanakan pengabdian di Desa Bukit Layang, Kecamatan Bakam, Kabupaten Bangka, menghadirkan inovasi sederhana dalam pengelolaan limbah organik melalui program KOMET (Kompos Efisien Terintegrasi): Aplikasi Pengolahan Limbah Organik yang Efisien dan Ramah Lingkungan. Program ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam mengenalkan teknologi tepat guna yang dapat membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi bahan yang lebih bermanfaat bagi lingkungan dan pertanian.

Program KOMET berfokus pada pemanfaatan mesin pencacah sederhana sebagai tahap awal pengolahan limbah organik sebelum memasuki proses pengomposan. Limbah seperti daun, sisa tanaman, dan bahan organik lainnya umumnya memiliki ukuran yang besar dan tidak seragam sehingga membutuhkan waktu serta tenaga lebih banyak untuk diproses. Melalui pencacahan, ukuran bahan dapat diperkecil dan dibuat lebih seragam sehingga lebih mudah ditata serta diproses dalam pengomposan.

Pelaksanaan kegiatan tidak hanya berfokus pada penggunaan alat, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai prinsip kerja, cara penggunaan, serta perawatan mesin. Masyarakat diperkenalkan dengan tahapan pengolahan mulai dari menyiapkan bahan organik, melakukan pencacahan, hingga memanfaatkan hasil cacahan sebagai bahan baku kompos. Pendekatan tersebut dilakukan agar teknologi yang diperkenalkan dapat dipahami dan dimanfaatkan secara mandiri oleh masyarakat.

Salah satu mahasiswa KKN-PPM UGM, Rafi Khairul Mustofa, menjelaskan bahwa teknologi yang diterapkan dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan tidak berhenti sebagai alat yang hanya digunakan selama kegiatan KKN.

Sumber : KKN PPM UGM Bakam Bercerita

“Teknologi yang kami hadirkan bukan sekadar alat, tetapi bagaimana alat tersebut bisa menjawab persoalan yang ada di masyarakat. Mesin pencacah ini kami harapkan dapat membantu masyarakat mengurangi tenaga dan waktu dalam menyiapkan bahan kompos, sehingga limbah organik yang sebelumnya kurang termanfaatkan bisa lebih mudah diolah menjadi sesuatu yang bernilai guna,” ujar Rafi Khairul Mustofa.

Menurut Rafi, penerapan teknologi sederhana memiliki peluang untuk terus dikembangkan apabila masyarakat memahami cara kerja dan perawatannya. “Kami berusaha memilih teknologi yang sederhana, mudah dipahami, dan memungkinkan untuk dikembangkan kembali oleh masyarakat. Ketika masyarakat sudah memahami alurnya, teknologi tersebut tidak berhenti pada kegiatan KKN, tetapi bisa menjadi bagian dari kebiasaan pengelolaan limbah di lingkungan mereka,” tambahnya.

Penerapan teknologi tersebut mendapat tanggapan positif dari masyarakat Desa Bukit Layang. Babe, salah satu masyarakat setempat, menilai keberadaan teknologi sederhana seperti mesin pencacah dapat memberikan manfaat langsung dalam kegiatan pengelolaan limbah di lingkungan sekitar.“Teknologi seperti ini penting bagi masyarakat karena membantu pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi lebih mudah dan cepat. Kami juga jadi tahu bahwa limbah organik yang selama ini dianggap sebagai sampah ternyata masih bisa dimanfaatkan menjadi bahan untuk kompos,” ujar Babe.

Sumber : KKN PPM UGM Bakam Bercerita

Menurut Babe, pengenalan teknologi melalui praktik langsung membuat masyarakat lebih mudah memahami manfaat alat dan kemungkinan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan mesin pencacah juga dapat menjadi contoh bahwa teknologi tidak selalu harus rumit untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Rafi menambahkan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya mesin pencacah, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi tersebut setelah kegiatan selesai. “Kalau setelah kegiatan selesai masyarakat tetap menggunakan alatnya, merawatnya, dan bahkan bisa mengembangkan cara penggunaannya sesuai bahan yang tersedia, menurut kami itu menjadi indikator bahwa teknologi yang diberikan benar-benar diterima oleh masyarakat,” jelasnya.

Hasil cacahan dari mesin selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos. Dengan proses tersebut, limbah organik yang sebelumnya berpotensi menumpuk dapat dikembalikan menjadi bahan yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman. Kompos yang dihasilkan juga berpotensi dimanfaatkan pada tanaman di pekarangan maupun lahan pertanian masyarakat, sehingga tercipta pola pemanfaatan limbah yang lebih berkelanjutan.

“Harapannya masyarakat tidak hanya melihat limbah sebagai sesuatu yang harus dibuang. Dari bahan yang sederhana, sebenarnya ada potensi yang bisa dikembalikan lagi ke lingkungan, salah satunya menjadi kompos untuk tanaman. Teknologi hanya menjadi alat bantu, sedangkan keberlanjutan program tetap berada di tangan masyarakat,” pungkas Rafi.

Program KOMET menjadi salah satu bentuk upaya KKN-PPM UGM Bakam Bercerita dalam menghubungkan pengetahuan dan teknologi dengan kebutuhan masyarakat Desa Bukit Layang. Melalui kombinasi edukasi dan praktik langsung, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada mesin pencacah sederhana, tetapi juga memahami alur pemanfaatan limbah organik hingga menjadi bahan yang dapat digunakan kembali.

Ke depan, keberlanjutan program diharapkan dapat diwujudkan melalui penggunaan dan perawatan mesin secara rutin serta pengembangan proses pengomposan oleh masyarakat. Dengan pemanfaatan teknologi yang sederhana dan sesuai dengan kondisi lokal, KOMET diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun pengelolaan limbah organik yang lebih efisien, bernilai guna, dan berkelanjutan di Desa Bukit Layang.

Penulis : KKN Bakam Bercerita, mahasiswa Universitas Gadjah Mada

Artikel ini telah dimuat di kompasiana.com

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Gadjah Mada

Jl. Pancasila Bulaksumur UGM, Blok G7,
Yogyakarta, Indonesia 55281
+62-274-552432
  +62-274-6492082, +62-274-6492083

whatsapp : 08112576939 (KKN)

 dit.pengabdian@ugm.ac.id
 Sekretariat DPKM : sekdit.dpkm@ugm.ac.id
Telepon Internal UGM : 82488(Sekretariat), 82486(KKN), 82490(Pemberdayaan Masyarakat).

 

Tentang DPKM

  • Sekilas DPKM
  • SOTK
  • Statistik

Tautan

  • LPPM-UGM
  • Publikasi
  • PIAT
  • Sekretariat RCE Yogyakarta
  • Instagram Pengabdian UGM
  • Instagram KKN UGM
  • YouTube KKN
  • KNPPM UGM
  • Instagram RCE Yogyakarta

© Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY