Sebanyak 29 mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadikan Pulau Penyengat sebagai ruang pelestarian budaya Melayu melalui Gelar Budaya Pulau Penyengat yang akan digelar pada 1–2 Agustus 2026.
Kegiatan yang terbuka untuk masyarakat ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni tradisional, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam pelestarian budaya, pemberdayaan UMKM, promosi wisata sejarah, hingga layanan kesehatan.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Tanjungpinang 2026, Ashar Saputra, mengatakan Gelar Budaya Pulau Penyengat dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan masyarakat, pelaku budaya, pelaku usaha, wisatawan, dan mahasiswa dalam satu rangkaian kegiatan.
Menurutnya, Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat sebagai salah satu pusat perkembangan peradaban Melayu. Pulau ini juga dikenal sebagai tempat berkembangnya bahasa Melayu yang menjadi salah satu fondasi bahasa Indonesia modern melalui karya-karya Raja Ali Haji.
Karena itu, mahasiswa tidak hanya belajar langsung mengenai sejarah dan budaya Melayu, tetapi juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga dan melestarikan warisan tersebut.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar memahami sejarah dan budaya secara langsung, tetapi juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan warisan budaya Melayu,” ujar Ashar, Rabu (22/7/2026).
Selama dua hari pelaksanaan, pengunjung akan disuguhkan berbagai pertunjukan seni Melayu, di antaranya Tari Persembahan, Tari Candra Canda Cinta Sukma, Tari Zapin Kreasi, pembacaan Gurindam Dua Belas, berbalas pantun, Tari Dara Melayu, Tari Dangkong, hingga Tari Lambak.
Selain itu, panitia juga menggelar Tour Cagar Budaya untuk mengenalkan berbagai situs bersejarah di Pulau Penyengat, serta Interactive Exhibition yang menyajikan informasi sejarah dan kebudayaan Melayu secara lebih menarik dan edukatif.
Kegiatan ini turut menghadirkan Pasar Kecik yang melibatkan pelaku UMKM lokal. Melalui kegiatan tersebut, produk masyarakat dapat diperkenalkan kepada pengunjung sekaligus membuka peluang peningkatan aktivitas ekonomi selama pelaksanaan gelar budaya.
Pada hari pertama, masyarakat juga dapat mengikuti pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan gigi dan mulut, serta layanan psikologi secara gratis. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan senam sehat dan talkshow budaya Melayu.
Ashar berharap Gelar Budaya Pulau Penyengat dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami potensi, sejarah, dan nilai budaya yang dimiliki Pulau Penyengat.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami potensi, sejarah, dan nilai budaya yang dimiliki Pulau Penyengat,” tutupnya.
