• Tentang UGM
  • Simaster
  • KKN-PPM
  • Student Community Service
  • Jurnal Pengabdian
  • Mitra Pengabdian
  • Workshop UMKM
  • Indonesia
    • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat
  • Beranda
  • Subdirektorat
    • Kuliah Kerja Nyata
      • KKN-PPM
      • SCS-CEL
    • Pemberdayaan Masyarakat
      • RCE – Yogyakarta
      • UMKM
      • TTG
      • DERU – UGM
      • Wilayah Binaan
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Data & Informasi
  • Publikasi
  • Tentang
    • Sekilas DPkM
    • Struktur Organisasi
    • Kontak
  • Beranda
  • Berita Utama DPkM
  • DPKM dan DWP Selenggarakan Pelatihan Dasar UMKM bagi Civitas UGM

DPKM dan DWP Selenggarakan Pelatihan Dasar UMKM bagi Civitas UGM

  • Berita Utama DPkM, Berita Utama DPkM, Pengumuman DPkM, Pengumuman UMKM, SDGs 17 : Kemitraan untuk mencapai tujuan, SDGs 4 : Pendidikan berkualitas (quality education), SDGs 8 : Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDGs 9 : Industri, Inovasi dan Infrastruktur, UMKM
  • 22 Mei 2026, 18.38
  • Oleh: jokow
  • 0

Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (DPkM UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui penyelenggaraan UMKM Class Series #36. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026, di Kantor Dharma Wanita Persatuan (DWP) UGM Bulaksumur Blok D18 tersebut mengangkat tema pelatihan dasar tata kelola dan strategi pemasaran UMKM bagi civitas akademika UGM.

Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga purna karya UGM yang memiliki minat dan aktivitas usaha. Sebanyak 44 peserta mengikuti pelatihan dengan penuh antusiasme. Tidak hanya mendengarkan pemaparan materi, para peserta juga aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan nyata yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha sehari-hari.

Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes., menyampaikan bahwa pendampingan UMKM merupakan bagian penting dari tugas dan fungsi DPKM UGM dalam melayani masyarakat. Menurutnya, penguatan UMKM tidak hanya ditujukan bagi masyarakat umum, tetapi juga bagi pelaku usaha yang berada di lingkungan Universitas Gadjah Mada.

Dalam sambutannya, Rustamaji menjelaskan bahwa kerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan UGM menjadi langkah strategis untuk memperluas pembinaan kewirausahaan di lingkungan kampus. Ia menilai civitas akademika memiliki potensi besar dalam mengembangkan usaha berbasis kreativitas dan inovasi apabila mendapatkan pendampingan yang tepat.

“Kami berharap pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga membangun semangat dan kepercayaan diri pelaku UMKM untuk terus berkembang. UMKM memiliki peran besar dalam mendukung ketahanan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DWP UGM, Indun Dewi Puspita, Ph.D., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kolaborasi UMKM Class Series #36. Menurutnya, kegiatan ini merupakan kerja sama kedua antara DWP UGM dan DPKM UGM dalam mendukung pendampingan dan pembinaan UMKM di lingkungan Universitas Gadjah Mada.

Indun berharap kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut untuk meningkatkan soft skill dan mendukung perkembangan usaha para anggota civitas akademika beserta keluarganya. Ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas usaha tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memproduksi barang, tetapi juga kemampuan mengelola usaha secara profesional.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berjalan sehingga dapat memberikan manfaat nyata bagi peserta, baik dalam meningkatkan keterampilan usaha maupun memperluas wawasan tentang pengelolaan bisnis yang lebih baik,” tuturnya.

Pelatihan UMKM Class Series #36 menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang yang membahas persoalan penting dalam pengembangan UMKM, mulai dari pengemasan produk, perhitungan harga pokok penjualan, manajemen sumber daya manusia, hingga branding dan strategi pemasaran digital.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Ir. Devi Yuni Susanti dengan tema “Pengemasan Menunjang Produk UMKM”. Dalam pemaparannya, Devi menekankan bahwa kemasan bukan sekadar pelindung produk, melainkan juga menjadi media komunikasi pemasaran yang sangat strategis.

Ia menjelaskan bahwa kemasan yang baik mampu meningkatkan nilai jual produk sekaligus menjaga keamanan pangan. Untuk produk makanan, penggunaan bahan kemasan food grade menjadi syarat utama agar produk aman dikonsumsi dan terhindar dari migrasi zat kimia berbahaya.

“Pelaku UMKM harus memahami bahwa kemasan memiliki fungsi ganda, yaitu melindungi produk sekaligus memperkuat identitas usaha. Kemasan yang baik akan memberikan kesan profesional kepada konsumen,” jelasnya.

Dalam sesi tersebut, Devi memperkenalkan berbagai teknologi pengemasan modern yang dapat diterapkan UMKM, seperti penggunaan vacuum bag dan nitrogen flushing untuk mengurangi kadar oksigen dalam kemasan sehingga produk lebih tahan lama. Selain itu, penggunaan aluminium foil dengan spesifikasi tertentu juga direkomendasikan untuk menjaga kualitas produk kering agar tetap renyah dan tidak mudah rusak.

Tidak hanya membahas aspek teknis, Devi juga mendorong peserta untuk mulai membangun kolaborasi dengan sektor pariwisata, seperti hotel, transportasi, dan pamong wisata. Menurutnya, produk UMKM memiliki peluang besar menjadi oleh-oleh khas apabila dikemas secara menarik dan praktis.

Ia menyarankan pelaku usaha menyediakan variasi kemasan, mulai dari single pack hingga family pack, disertai informasi lengkap seperti nomor PIRT, kode produksi, dan kontak usaha. Untuk produk frozen food, ia menekankan pentingnya menjaga suhu rantai dingin agar kualitas produk tetap terjaga.

Pada kesempatan tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui aplikasi Google Vids untuk membuat materi promosi visual. Devi menjelaskan bahwa pelaku UMKM kini dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memproduksi video promosi sederhana dengan kualitas yang menarik.

“Teknologi sekarang semakin memudahkan pelaku usaha. Dengan AI, UMKM bisa membuat promosi visual yang lebih profesional tanpa biaya besar,” ungkapnya.

Materi pengemasan ini mendapat perhatian besar dari peserta karena banyak di antara mereka yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Diskusi berkembang mengenai tantangan menjaga kualitas produk, memilih kemasan yang ekonomis, hingga cara meningkatkan umur simpan produk tanpa mengurangi keamanan pangan.

Devi juga menjelaskan pentingnya penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), termasuk menjaga kebersihan peralatan, sanitasi ruang produksi, serta kebiasaan mencuci tangan dengan benar. Menurutnya, kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga oleh proses produksi yang higienis.

Selain itu, ia mengenalkan metode pengujian umur simpan produk menggunakan Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT) untuk membantu pelaku UMKM memperkirakan daya tahan produk secara ilmiah. Dengan pendekatan tersebut, UMKM dapat meningkatkan daya saing produknya tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan.

Materi kedua disampaikan oleh Siti Muslihah, S.E., M.Sc., CFP., CMA. dengan tema “Penetapan Harga Pokok Penjualan Produk UMKM”. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya penghitungan biaya usaha secara rinci sebagai dasar menentukan harga jual yang tepat.

Siti menjelaskan bahwa banyak pelaku UMKM masih menentukan harga berdasarkan perkiraan semata tanpa memperhitungkan seluruh komponen biaya produksi. Padahal, kesalahan menghitung HPP dapat menyebabkan usaha sulit berkembang bahkan mengalami kerugian.

“HPP adalah fondasi kesehatan finansial usaha. Kalau pelaku UMKM tidak mengetahui biaya riil produksinya, maka mereka akan kesulitan menentukan keuntungan yang sebenarnya,” jelasnya.

Ia menguraikan berbagai komponen biaya yang perlu diperhitungkan, mulai dari biaya tetap, biaya variabel, hingga biaya overhead. Menurutnya, pelaku usaha sering kali lupa memasukkan biaya untuk dirinya sendiri sebagai pemilik usaha atau opportunity cost owner.

Dalam pemaparannya, Siti juga memberikan simulasi sederhana mengenai penghitungan HPP produk makanan dan pentingnya memperhitungkan food waste atau produk yang tidak terjual. Ia menjelaskan bahwa produk dengan umur simpan pendek memiliki risiko kerugian lebih besar sehingga perlu diperhitungkan dalam struktur biaya.

Diskusi pada sesi ini berlangsung sangat interaktif. Beberapa peserta mengaku baru menyadari bahwa selama ini mereka belum menghitung seluruh biaya usaha secara lengkap. Ada pula peserta yang bertanya mengenai cara menentukan margin keuntungan yang realistis agar produk tetap kompetitif di pasar.

Siti menegaskan bahwa UMKM tidak cukup hanya fokus pada penjualan, tetapi juga harus memperhatikan value atau nilai tambah yang diberikan kepada konsumen. Salah satu cara meningkatkan nilai tambah adalah melalui kemasan premium dan pelayanan yang baik.

“Kadang konsumen membeli bukan hanya karena produknya, tetapi karena pengalaman dan nilai yang mereka rasakan,” katanya.

Ia juga menjelaskan pentingnya menghitung break-even point (BEP) untuk mengetahui batas minimal penjualan agar usaha tidak merugi. Dengan pemahaman tersebut, pelaku UMKM diharapkan dapat mengambil keputusan bisnis secara lebih rasional dan terukur.

Pada sesi berikutnya, Mohammad Genta Mahardhika, S.E., M.B.A. membawakan materi mengenai “Manajemen SDM Memperkuat Kinerja UMKM”. Dalam pemaparannya, Genta menekankan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya.

Peserta diajak memahami pentingnya membangun tim kerja yang nyaman, saling percaya, dan mampu tumbuh bersama usaha. Menurutnya, pengelolaan SDM menjadi tantangan tersendiri bagi UMKM karena sebagian besar usaha masih dijalankan secara sederhana dan kekeluargaan.

“Bisnis bukan hanya soal produk dan penjualan. Yang paling penting adalah bagaimana membangun orang-orang di dalam usaha agar bisa bekerja dengan baik dan bertahan bersama,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, berbagai persoalan nyata muncul dari pengalaman peserta. Salah satu peserta menanyakan mengenai cara menentukan gaji karyawan ketika kondisi usaha belum mampu memberikan upah sesuai standar UMR. Pertanyaan tersebut mencerminkan tantangan yang banyak dihadapi UMKM dalam menyeimbangkan kemampuan usaha dengan kebutuhan tenaga kerja.

Ada pula peserta yang berbagi pengalaman pernah memberikan bonus kepada karyawan dengan harapan mereka bertahan lebih lama, namun pada akhirnya tetap mengundurkan diri. Pengalaman tersebut membuat sebagian pelaku usaha merasa khawatir dan kurang percaya diri untuk kembali merekrut tenaga kerja baru.

Menanggapi hal tersebut, Genta menjelaskan bahwa loyalitas karyawan tidak hanya dipengaruhi oleh gaji, tetapi juga oleh suasana kerja, komunikasi, penghargaan, dan kesempatan berkembang.

“Karyawan bertahan bukan hanya karena uang. Mereka juga ingin merasa dihargai dan nyaman bekerja,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya proses rekrutmen yang tepat serta pembentukan budaya kerja sejak awal. Menurutnya, UMKM perlu mulai membangun sistem kerja sederhana agar hubungan antara pemilik usaha dan karyawan dapat berjalan lebih profesional.

Materi terakhir disampaikan oleh Bryan Erfanda Putra, S.T.P. atau yang akrab disapa Captain Bryan dengan tema “Penguatan Branding dan Strategi Pemasaran”. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya branding dan keberanian memulai promosi di era digital.

Bryan menekankan bahwa pemasaran saat ini tidak lagi sekadar menjual produk, tetapi bagaimana usaha mampu membangun identitas dan kedekatan dengan konsumen.

“Branding adalah tentang bagaimana usaha dikenal dan diingat oleh pasar. Produk yang bagus perlu didukung komunikasi yang tepat,” katanya.

Ia menjelaskan pentingnya mengenali target konsumen, memahami perilaku pasar, serta mengikuti perkembangan tren pemasaran digital yang terus berubah. Peserta juga diajak memahami pentingnya konsistensi dalam membuat konten promosi di media sosial.

Diskusi berlangsung sangat hidup karena banyak peserta mengaku masih bingung memulai pemasaran digital untuk usahanya. Sebagian peserta merasa tidak percaya diri ketika harus membuat dan mengunggah konten secara rutin di media sosial.

Menurut Bryan, tantangan terbesar dalam pemasaran digital sering kali bukan teknologi, melainkan keberanian dan konsistensi. Ia mendorong peserta untuk mulai membangun kebiasaan sederhana dalam mempromosikan usaha secara online.

“Jangan takut memulai. Konten tidak harus langsung sempurna. Yang penting konsisten dan terus belajar,” ujarnya memberi semangat kepada peserta.

Selain itu, peserta juga menanyakan cara menentukan target penjualan yang realistis bagi usaha kecil. Bryan menjelaskan bahwa target penjualan perlu disesuaikan dengan kapasitas produksi, kondisi pasar, dan kemampuan promosi yang dimiliki usaha.

Ia menilai kesadaran peserta untuk mulai melakukan perencanaan bisnis menunjukkan perkembangan positif dalam pola pikir pelaku UMKM.

Selain sesi materi, kegiatan UMKM Class Series #36 juga dilengkapi dengan evaluasi berupa pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Evaluasi ini dilakukan agar penyelenggara dapat mengetahui sejauh mana efektivitas pelatihan dalam meningkatkan pengetahuan peserta.

Kepala Subdirektorat Pemberdayaan kepada Masyarakat UGM, Dr. Djoko Santosa, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa peserta juga diminta mengisi e-Key Performance Indicator (e-KPI) UMKM yang memuat sebelas indikator aspek kerja.

Menurut Djoko, indikator tersebut diharapkan dapat menjadi alat diagnosis untuk memetakan berbagai persoalan yang dihadapi peserta dalam menjalankan usahanya.

“Masalah yang muncul dalam KPI UMKM diharapkan menjadi titik balik bagi peserta untuk mulai mencari solusi dan memperbaiki cara kerja usahanya,” ujarnya.

Dalam sambutan penutup, Djoko menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang mengikuti pelatihan dengan penuh perhatian dan semangat. Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara nyata dalam pengembangan usaha masing-masing.

Kegiatan pelatihan ini juga semakin menarik dengan adanya display produk peserta dari mahasiswa Fakultas Pertanian Departemen Perikanan UGM yang menampilkan produk cimol dan udang keju. Produk tersebut mendapat apresiasi dari peserta lain maupun pengunjung karena dinilai kreatif dan memiliki potensi pasar yang baik.

Secara keseluruhan, UMKM Class Series #36 tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu, tetapi juga wadah berbagi pengalaman dan memperkuat jejaring antar pelaku usaha di lingkungan UGM. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kebutuhan akan pendampingan UMKM masih sangat besar, terutama dalam menghadapi tantangan persaingan usaha dan transformasi digital.

Melalui kegiatan ini, DPKM UGM dan DWP UGM berharap para pelaku UMKM semakin percaya diri dalam mengelola usaha, membangun tim kerja yang lebih profesional, memperkuat branding, serta mampu memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar. Dengan penguatan kapasitas yang berkelanjutan, UMKM diharapkan dapat tumbuh lebih adaptif, inovatif, dan berdaya saing tinggi di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.

Penulis: Widodo, Ayyub Rizqullah, Shiva Mutiara Insani

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Gadjah Mada

Jl. Pancasila Bulaksumur UGM, Blok G7,
Yogyakarta, Indonesia 55281
+62-274-552432
  +62-274-6492082, +62-274-6492083

whatsapp : 08112576939 (KKN)

 dit.pengabdian@ugm.ac.id
 Sekretariat DPKM : sekdit.dpkm@ugm.ac.id
Telepon Internal UGM : 82488(Sekretariat), 82486(KKN), 82490(Pemberdayaan Masyarakat).

 

Tentang DPKM

  • Sekilas DPKM
  • SOTK
  • Statistik

Tautan

  • LPPM-UGM
  • Publikasi
  • PIAT
  • Sekretariat RCE Yogyakarta
  • Instagram Pengabdian UGM
  • Instagram KKN UGM
  • YouTube KKN
  • KNPPM UGM
  • Instagram RCE Yogyakarta

© Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY