Kisah kewirausahaan sering kali lahir dari persimpangan antara krisis dan keberanian mengambil keputusan. Hal inilah yang dialami Anselmus Wau (yang akrab disapa Hans) seorang alumni Jurusan Pembangunan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada, yang kini dikenal sebagai pendiri dan owner MAMOKA Group, sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang pangan yang terus berkembang di Yogyakarta.
Berlokasi di BLIMBINGSARI CT IV 75 Blok D 59 RT 04 RW 16, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281, MAMOKA Group menjadi contoh nyata bagaimana latar belakang keilmuan sosial dapat berpadu dengan inovasi bisnis berbasis pangan, budaya, dan teknologi digital.
Dari Ilmu Pembangunan Sosial ke Dunia Kuliner
Hans merupakan putra daerah Nias, Sumatera Utara, yang kini telah menetap dan ber-KTP Yogyakarta. Latar belakang pendidikannya di bidang pembangunan sosial tidak secara langsung berkaitan dengan dunia kuliner. Namun, pandemi COVID-19 pada awal 2020 menjadi titik balik perjalanan hidupnya. Saat itu, perusahaan tempat Hans bekerja melakukan pengurangan karyawan. Di waktu yang hampir bersamaan, ibunya (yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga) meninggal dunia. Kondisi tersebut memaksa Hans mengambil alih peran sebagai penopang ekonomi keluarga, termasuk membiayai pendidikan adik-adiknya. Pesangon yang diterimanya dari perusahaan jelas tidak cukup untuk menopang kebutuhan jangka panjang.
“Bertahan hidup saat itu menjadi prioritas. Saya harus mencari jalan lain,” ujar Hans mengenang masa tersebut.
Dengan bekal hobi memasak dan keberanian mencoba hal baru, Hans mulai merintis usaha pangan dari skala sangat kecil. Produk awal yang dipilih adalah keripik singkong, dengan pertimbangan segmentasi pasar. Ia sengaja memilih olahan gurih dan pedas karena produk bercita rasa manis dinilainya sudah terlalu banyak pesaing.
Merintis Usaha dari Nol
Menariknya, usaha awal MAMOKA Group tidak menggunakan modal usaha dalam arti konvensional. Pesangon perusahaan tidak dijadikan modal produksi melainkan digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Produksi dilakukan secara bertahap dengan sistem sederhana. Pada tahap awal, penjualan keripik singkong MAMOKA Group mampu mencapai 500–1.000 pcs per bulan, seluruhnya melalui sistem konsinyasi dengan jejaring pertemanan di wilayah Jabodetabek. Penjualan belum menyasar pasar Yogyakarta.
Seiring waktu, Hans mulai memikirkan keberlanjutan produk. Ia menyadari bahwa tren rasa pedas-manis berpotensi menimbulkan kejenuhan pasar. Dari pemikiran tersebut, lahirlah inovasi produk olahan sambal MAMOKA. Namun, produk sambal ini belum mendapat respons pasar yang optimal, terlebih di masa social distancing yang membuat konsumen beralih ke platform daring.
Transformasi Digital dan Lahirnya Ayam Geprek MAMOKA
Menghadapi tantangan tersebut, Hans melakukan pivot bisnis. Untuk tetap mempertahankan ciri khas rasa pedas dan gurih, ia menciptakan Ayam Geprek MAMOKA dan mulai beroperasi melalui layanan GoFood. Langkah ini terbukti tepat. Permintaan meningkat pesat, mendorong Hans untuk segera mengurus berbagai perizinan usaha, mulai dari HAKI, sertifikasi halal, hingga legalitas lainnya. Ekspansi kemudian dilakukan ke GrabFood dan ShopeeFood. Pada masa puncaknya, penjualan daring mampu menembus sekitar 100 porsi per hari, bahkan rata-rata terjadi lima pesanan dalam satu menit, terutama saat momentum Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas).
Permintaan konsumen yang beragam turut melahirkan inovasi baru. Dari pesanan nasi kotak, tercipta produk Rice Box “Catering MAMOKA”, disusul Snack Box “Mela Mela MAMOKA” yang menyasar kebutuhan acara dan konsumsi kolektif.
Menghidupkan Kembali Sambal sebagai Oleh-Oleh Khas Jogja
Setelah produk makanan siap saji mendapatkan tempat di pasar, Hans kembali menghidupkan produk sambal MAMOKA. Kali ini, sambal dikemas sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta dengan cita rasa pedas gurih, berbeda dari produk sambal mainstream. Produk sambal MAMOKA kini telah dititipkan di berbagai toko oleh-oleh ternama, seperti Hamzah Batik, Raminten, dan Jogja Mart. Beberapa kementerian juga tercatat pernah melakukan kunjungan ke MAMOKA Group. Selain itu, Hans aktif mengikuti Forum Wirausaha UGM dan menjadi salah satu peserta UMKM Class Series DPKM UGM, yang turut memperkuat kapasitas manajerial dan jejaring usahanya.
Memasuki tahun 2024–2025, seluruh aspek perizinan usaha telah siap. Branding diperkuat melalui penjualan daring dan partisipasi dalam berbagai pameran, termasuk Jakarta Fair selama 14 hari, dengan membawa produk makanan kering unggulan.
Mengangkat Kuliner Kampung Sumatera Utara
Inovasi MAMOKA tidak berhenti di situ. Menjawab permintaan pasar akan makanan basah tradisional, Hans kembali berinovasi dengan menghadirkan kuliner khas Sumatera Utara, seperti Mie Gomak, Miso (Mieso), Lapet, Lupis, dan Bandrek. Produk-produk ini mendapat sambutan luar biasa, terutama saat dipasarkan di Pasar Kangen, dengan total penjualan mencapai 3.000 pcs. Keunikan produk diperkuat dengan penggunaan bahan baku asli dari Sumatera Utara, seperti andaliman, jinten, dan bubuk daun jeruk purut, demi menjaga keaslian cita rasa dan memenuhi ekspektasi pasar.
Penguatan Branding dan Peran Pengabdian
Saat ini, MAMOKA Group memanfaatkan Tokopedia dan Shopee sebagai kanal penjualan, sementara branding dilakukan secara aktif melalui Instagram dan WhatsApp Business. Ayam Geprek MAMOKA bahkan mendapat predikat sebagai salah satu ayam geprek terenak di sekitar UGM dan pernah diulas dalam media nasional Kompas.
Di luar aktivitas bisnis, Hans juga berkontribusi dalam pengabdian masyarakat. Pada tahun 2023–2024, ia berbagi pengalaman dengan ibu-ibu pelaku UMKM, memberikan pelatihan terkait digitalisasi produk dan pemasaran online secara bertahap. MAMOKA Group juga telah terdaftar di SIPINTER UGM sebagai penyedia konsumsi kegiatan, dengan transaksi yang pernah mencapai ratusan porsi dalam satu acara.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Hans berharap dapat terus mendapatkan pendampingan dan dukungan dari DPKM UGM. Salah satu kebutuhan mendesak adalah hibah alat press seal sambal, mengingat saat ini proses pengemasan masih bergantung pada sewa alat milik rekan dengan biaya Rp1.000 per botol, sementara harga alat berkisar Rp25–50 juta. Selain itu, Hans memiliki harapan agar dilakukan penelitian ilmiah terkait sambal andaliman MAMOKA, yang diketahui mampu bertahan hingga satu tahun. Ia berharap penelitian tersebut dapat menghasilkan publikasi jurnal ilmiah yang memperkuat legitimasi produk.
Tantangan lain yang dihadapi adalah keterbatasan akses modal, terutama akibat kendala riwayat kredit yang berdampak pada SLIK OJK. Meski demikian, Hans tetap optimistis. Salah satu visi jangka panjangnya adalah ekspor sambal ke kawasan Arab, dengan mempertimbangkan potensi pasar jamaah haji dan umrah asal Indonesia.
Kisah MAMOKA Group menunjukkan bahwa ketangguhan, inovasi, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi mampu melahirkan UMKM yang dapat memberi dampak sosial dan ekonomi yang nyata. Sebuah bukti bahwa pengabdian dan kewirausahaan dapat berjalan beriringan, menciptakan nilai bagi masyarakat luas.
(wdd.ayb, 27/01/2026)