Tim KKN-PPM UGM Biak Elok 2024 berhasil menayangkan film dokumenter berjudul “Nusi: Nanti untuk sementara, selalu indah di ingatan” di bioskop Empire XXI, Yogyakarta (15/10). Kegiatan ini dihadiri oleh 169 tamu undangan, termasuk mahasiswa KKN-PPM UGM, pemerintah daerah, akademisi, serta para pemangku kepentingan, yang berkumpul untuk menyaksikan hasil karya pengabdian yang lahir dari pengalaman lapangan di Pulau Nusi, Kabupaten Biak Numfor, Papua.
Film dokumenter ini mengangkat kisah dinamika mahasiswa dalam menjalankan pengabdian masyarakat, mengungkap misteri pesawat yang hilang pada 1944 di Perairan Aimando Padaido, dan menampilkan panorama alam Biak Numfor yang memukau. Film ini juga menyoroti hubungan hangat antara mahasiswa KKN dan masyarakat setempat, yang menjadi jembatan pembelajaran lintas budaya dan penguatan nilai kebangsaan.
Anugrah Amin Ignatius Julio Wejai, Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit) Tim KKN-PPM UGM Biak Elok 2024, membuka acara dengan cerita personal tentang perjalanan pendidikannya yang bermula dari Biak hingga mencapai UGM, kemudian kembali untuk mengabdi melalui KKN. Ia menyebut film ini sebagai “prasasti kecil” untuk kemajuan Papua sekaligus sebagai simbol persatuan Biak Numfor.
Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Dr. dr. Rustamaji, M.Kes, mengapresiasi karya tersebut sebagai refleksi perjalanan panjang KKN-PPM UGM di Papua. Ia menegaskan bahwa dokumenter ini memperlihatkan bagaimana KKN mampu menumbuhkan inklusivitas, keberagaman, dan semangat kebangsaan. “Indonesia adalah rumah bersama, dan generasi muda inilah yang akan membawa negara menuju Indonesia Emas,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Sukamto, S.H., M.H., Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Hukum, Pemerintah, dan Politik yang membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, menekankan peran film dokumenter sebagai media pembelajaran dan empati. Menurutnya, karya ini menunjukkan vitalitas ruang kreatif Yogyakarta dan kekuatan narasi generasi muda dalam merawat kebhinekaan Indonesia.
Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra, S.H., M.M., menyampaikan apresiasi tinggi atas karya yang dinilainya “menggugah dan menginspirasi,” seraya berharap film segera dipublikasikan lebih luas. M. Soleh Artiawan, perwakilan Kementerian Kebudayaan bidang film, menyoroti pentingnya proses uji kelayakan dan menyarankan pengemasan yang lebih kuat untuk promosi pariwisata Pulau Nusi.
Para akademisi UGM turut memberikan respons positif terhadap karya ini. Prof. Ir. Nanung Agus Fitriyanto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., menyebut Biak Elok 2024 sebagai film terbaik yang pernah ia lihat sepanjang 12 tahun terlibat dalam pengelolaan KKN. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr.Eng. Ir. R. Rachmat A. Sriwijaya, S.T., M.T., D.Eng., IPM., ASEAN Eng juga mengapresiasi dedikasi tim dan dukungan pemerintah daerah. Dari sisi Director film, Fauzy Ash Siddiqiy menekankan bahwa seluruh proses produksi dilakukan tanpa bantuan AI untuk menjaga autentisitas pengalaman lapangan.
Bagian musik film pun menjadi sorotan tersendiri. Sang komposer, Nicolas Kriswinara Astanujati menceritakan proses kolaborasi jarak jauh dengan musisi Biak yang menghasilkan sembilan lagu daerah, kini tersedia di Spotify melalui akun resmi Biak Elok. Ia menyebut kolaborasi tersebut sebagai bukti bahwa seni mampu menembus batas geografis.
Pemutaran “Biak Elok 2024” di Empire XXI Yogyakarta menjadi tonggak penting yang tidak hanya merayakan kreativitas, tetapi juga meneguhkan peran mahasiswa dalam menguatkan jembatan kebudayaan, membangun empati, dan merayakan keberagaman Indonesia.
Penulis&Editor: Dn Halimah, Ainun/ Dn Halimah, Foto: Tim Humas DPkM