Ada yang berbeda saat memasuki Desa Mendut. Waktu seakan melambat, udara terasa lebih sejuk, dan ketenangan meresap di bawah tatapan hening Candi Mendut yang telah menjadi saksi bisu peradaban selama berabad-abad.
Ini adalah desa di mana napas sejarah dan denyut kehidupan warga berjalan beriringan dengan harmonis.
Di tengah suasana inilah, kami, tim KKN UGM JT-137 “Sangga Asa”, mendapat kesempatan berharga untuk tidak sekadar berkunjung, melainkan untuk tinggal, belajar, dan menjadi bagian dari denyut nadi desa ini selama lima puluh hari.
Tujuan kami sederhana: menyemai kebaikan-kebaikan kecil yang selaras dengan kearifan lokal, berharap dapat tumbuh subur dan memperkuat harmoni yang sudah lama terjaga antara manusia, alam, dan budayanya.
Memupuk Bumi, Merawat Lingkungan
Langkah pertama kami adalah menyentuh bumi Mendut itu sendiri, belajar melihat limbah bukan sebagai masalah, tapi sebagai sumber daya. Melihat tumpukan sisa sayuran dan daun kering, kami menggagas demo pembuatan kompos organik bersama warga.
Tangan-tangan terampil dengan antusias memilah sampah, belajar proses pengomposan yang benar. Ini adalah upaya sederhana tetapi fundamental untuk mengubah kebiasaan, menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sekaligus menyediakan pupuk alami yang subur agar setiap pekarangan bisa memiliki sumber kesuburannya sendiri.
Salam bukan sekadar nama, melainkan doa dan harapan untuk masa depan Mendut yang senantiasa dilimpahi kedamaian, kesejahteraan, dan kelestarian alam, selaras dengan jiwa desa yang tenang.
Di desa yang artistik ini, pemberdayaan ekonomi kami arahkan ke ranah kreativitas. Kami ingin menunjukkan bahwa inspirasi terbaik bisa datang dari alam di sekitar kita. Melalui Workshop Kreasi Ecoprint, kami mengajak ibu-ibu PKK dalam sebuah petualangan kreatif.
Aroma tanah dari daun yang ditumbuk dan tawa yang pecah saat warna alami mulai meresap di kain menciptakan suasana yang tak terlupakan. Mereka belajar menata helai demi helai daun di atas tas jinjing, menciptakan jejak-jejak alam yang terpatri abadi.
Ecoprint tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang UMKM baru untuk menciptakan suvenir otentik yang “bercerita” tentang Mendut kepada para wisatawan.
Sebuah desa wisata yang maju tidak hanya butuh keindahan, tetapi juga rasa aman. Untuk itu, kami bekerja sama dengan Babinsa dan Bhabinkamtibnas untuk mengadakan sosialisasi kesadaran hukum kepada para anggota Satlinmas.
Ini bukan sekadar ceramah satu arah, melainkan forum diskusi dua arah untuk memperkuat peran vital mereka sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban, terutama di lingkungan yang ramai dikunjungi wisatawan.
Kami tidak hanya menjelaskan apa itu perundungan, tetapi juga mengajarkan mereka kekuatan kata “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih”, serta menanamkan keberanian untuk saling menjaga dan membela teman.
50 hari di Desa Mendut terasa lebih dari sekadar program pengabdian, ia adalah sebuah perjalanan ke dalam. Kami belajar bahwa sejarah bukanlah sekadar cerita dalam buku, melainkan napas kehidupan sehari-hari warganya.
Kami melihat langsung bagaimana toleransi dan gotong royong menjadi fondasi kokoh yang menjaga keagungan warisan leluhur di tengah arus modernitas.
Kami datang membawa program, tetapi pulang membawa pelajaran hidup yang tak ternilai dari kearifan dan ketulusan warga Mendut. Maka, jika suatu saat Kawan GNFI berkesempatan mengunjungi Mendut, luangkanlah waktu sejenak untuk merasakan harmoni desanya, bukan hanya kemegahan candinya.
Semoga ia kelak merimbun, menjadi pengingat akan jalinan cerita singkat namun penuh makna antara kami dan Desa Mendut yang istimewa.
Penulis: Ardyansyah Nur Fikri Fauzian, Mahasiswa Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Sekolah Vokasi UGM, yang sedang melaksanakan KKN-PPM di Mungkid, Kab. Magelang.
Artikel ini telah dimuat di goodnewsfromindonesia.id



