
Suasana penuh kebersamaan mewarnai perayaan Grebeg Suro yang diselenggarakan di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Minggu (28/6). Tradisi tahunan yang berlangsung setiap 1–10 Suro dalam penanggalan Jawa ini dilaksanakan secara gotong royong oleh masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur, sarana mempererat tali silaturahmi, sekaligus upaya melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM Bromo Bestari 2026 turut berpartisipasi dan membaur bersama masyarakat untuk mengikuti setiap prosesi yang berlangsung.
Rangkaian acara Suroan diawali dengan pembacaan santi oleh Rama Dhukun, lalu dilanjutkan istigasah, doa bersama, serta ceramah yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Dalam prosesi tersebut, Rama Dhukun merapalkan doa dan mantra dalam bahasa Tengger yang dipanjatkan kepada Hong Hulun, yang dikenal masyarakat Tengger untuk Sang Pencipta, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan sekaligus permohonan agar masyarakat senantiasa dianugerahi kesehatan, keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan. Kegiatan tersebut menjadi bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat yang diberikan serta permohonan agar masyarakat senantiasa diberikan kesehatan serta keselamatan. Setelah doa bersama dan ceramah selesai, masyarakat bersama-sama menerima berkat berupa hidangan yang telah disiapkan dan menikmatinya secara bersama-sama. Momen tersebut menciptakan suasana hangat yang mencerminkan eratnya rasa kekeluargaan dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Puncak acara yang paling dinantikan oleh masyarakat yaitu pertunjukan seni Bantengan, kesenian tradisional khas Jawa Timur berupa tari seekor banteng yang melambangkan kekuatan, keberanian, serta semangat kebersamaan. Warga lokal hingga wisatawan yang singgah sementara di desa Gubugklakah dengan destinasi Bromo memadati lokasi untuk menyaksikan pertunjukan Bantengan serta iringan musik tradisional. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya penonton yang datang, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Di balik pertunjukannya yang menarik, bantengan juga mengandung nilai kebersamaan, kerja sama, dan penghormatan terhadap warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat hingga saat ini. Oleh karena itu, bantengan bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang terus dijaga keberadaannya.
Bagi mahasiswa KKN-PPM UGM Bromo Bestari 2026, keterlibatan dalam kegiatan Grebeg Suro menjadi pengalaman yang berharga. Melalui kegiatan ini, mahasiswa menjadi memiliki kesempatan untuk dapat mengenal lebih dekat tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat adat Tengger. Nilai kebersamaan dan saling menghargai sangat terasa melalui interaksi bersama warga. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program pengabdian, tetapi juga belajar memahami kehidupan sosial dan budaya masyarakat secara langsung. Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat mempererat hubungan dengan warga sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian tradisi lokal. Dengan menjunjung semangat kolaborasi dan pelestarian budaya, KKN-PPM UGM Bromo Bestari 2026 berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan masyarakat yang memberikan manfaat sosial sekaligus menjaga kekayaan budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Penulis: Putri Nur Indriyani, Mahasiswa UGM
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Grebeg Suro & Bantengan: KKN-PPM UGM Bromo Bestari Menyelami Warisan Budaya Masyarakat Tengger