MERAUKE – Tim Ekspedisi Patriot UGM Tim 5 yang diketuai Dr. Sri Rahayoe dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM menyelenggarakan FGD Usaha Tani Beras dan Pelatihan Budidaya Padi Varietas Gamagora serta Pembuatan Pupuk Organik di Kawasan Transmigrasi Muting, Kabupaten Merauke, pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari kajian pengembangan agroindustri beras di kawasan tersebut. Berdasarkan temuan tim di lapangan, sebagian besar petani masih menanam padi satu musim tanam. Kondisi tersebut membuat penguatan budidaya dan kesinambungan pasokan gabah menjadi hal penting sebelum agroindustri beras dikembangkan lebih lanjut.
Untuk memperkuat aspek budidaya, tim menghadirkan narasumber, Dody Kastono, S.P., M.P. dari Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UGM. Petani memperoleh materi budidaya padi Gamagora serta mengikuti praktik pembuatan pupuk cair berbasis Bacillus menggunakan bioreaktor.
Pelatihan diikuti petani dan pengurus Gapoktan Kumaaf, Bouwer, Andaito, Baidup, dan Belbeland yang berasal dari tiga distrik. Kegiatan turut dihadiri Plt. Kepala Distrik Elikobel Gabriella Wonijai, S.IP., kepala kampung dari lima lokasi peserta, serta Tim Ekspedisi Patriot UGM Tim 1 yang diketuai Chandra Setyawan.
Dalam kegiatan tersebut, petani menyampaikan pengalaman dan kendala yang mereka hadapi selama menjalankan usaha tani padi. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan penjelasan teknis budidaya Gamagora dan praktik pembuatan pupuk organik. Diskusi berlangsung dua arah sehingga materi dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan petani di setiap kampung.
“Pengembangan agroindustri beras tidak dapat dilepaskan dari kesiapan hulunya. Karena itu, kegiatan ini dimulai dari penguatan budidaya, ketersediaan sarana, dan pendampingan petani,” kata Dr. Sri Rahayoe.
Tim Ekspedisi Patriot UGM juga menyerahkan 250 kilogram benih Gamagora kepada lima Gapoktan. Masing-masing kelompok menerima 50 kilogram benih dan satu unit bioreaktor melalui penandatanganan Berita Acara Serah Terima. Para petani selanjutnya menyepakati penanaman benih tersebut di wilayah masing-masing. Tim UGM bersama narasumber selanjutnya akan memantau proses budidaya dan membuka konsultasi secara daring.
Pendampingan lanjutan dilakukan agar kegiatan tidak berhenti setelah pelatihan. Melalui kerja sama antara UGM, pemerintah distrik dan kampung, narasumber, Gapoktan, serta petani, proses penanaman Gamagora akan menjadi pembelajaran bersama untuk melihat penerapannya pada kondisi pertanian di Kawasan Transmigrasi Muting.
penulis : Umi Hapsari


