
Kelompok KKN-PPM UGM Bakam Bercerita yang melaksanakan pengabdian di Desa Bukit Layang menghadirkan inovasi teknologi pertanian melalui program SMART-WISE IRRIGATION: Implementasi Irigasi Tetes Inovatif untuk Efisiensi Penggunaan Air di Lahan Pertanian. Program ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam memberikan edukasi sekaligus penerapan teknologi sederhana kepada masyarakat, khususnya kelompok tani, untuk menghadapi tantangan pengelolaan air pada kegiatan budidaya tanaman.
Program SMART-WISE IRRIGATION tidak hanya menerapkan sistem irigasi tetes, tetapi juga memperkenalkan irigasi kabut sebagai alternatif pemberian air sesuai karakteristik dan kebutuhan tanaman. Sistem tersebut dirancang dengan memanfaatkan tangki air, jaringan pipa, selang, serta komponen distribusi air. Irigasi tetes diarahkan untuk memberikan air secara langsung ke area perakaran tanaman, sedangkan irigasi kabut menghasilkan butiran air berukuran halus yang dapat membantu menjaga kelembapan pada area budidaya.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan observasi kondisi lahan dan kebutuhan masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan riset alat dan bahan, perancangan, hingga pemasangan sistem. Mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai fungsi setiap komponen, cara pengoperasian, serta perawatan sistem agar masyarakat dapat memahami teknologi yang diberikan dan mampu menggunakannya secara mandiri.
Salah satu mahasiswa KKN-PPM UGM, Rafi Khairul Mustofa, menyampaikan bahwa penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi sederhana dalam menghadapi keterbatasan air pada musim kemarau.

“Irigasi ini bisa diharapkan membantu para petani untuk mengurangi masalah gagal panen ketika di musim kemarau, sehingga iklim bukan lagi jadi tantangan untuk kelompok tani memanfaatkan potensi komoditas yang ada,” ujar Rafi Khairul Mustofa.
Rafi menjelaskan bahwa sistem yang diperkenalkan tidak hanya berorientasi pada pemberian alat, tetapi juga pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan air. “Kami ingin masyarakat memahami bahwa teknologi irigasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahannya. Irigasi tetes dapat digunakan untuk memberikan air langsung ke area perakaran, sementara irigasi kabut dapat menjadi pilihan untuk menjaga kelembapan pada kondisi budidaya tertentu,” jelasnya.
Menurut Rafi, penerapan teknologi juga tidak harus terbatas pada lahan pertanian dengan skala besar. Sistem tersebut dapat disesuaikan untuk budidaya tanaman di pekarangan menggunakan polybag, bibit, media tanam, tangki air, pipa, dan selang. “Kami mencoba membawa teknologi yang sederhana dan fleksibel, sehingga warga dengan lahan terbatas pun tetap bisa memanfaatkannya. Harapannya, masyarakat bisa mengembangkan sistem ini sesuai kebutuhan mereka sendiri,” tambah Rafi.
Penerapan teknologi irigasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat, salah satunya Ustadz Jon, anggota kelompok tani yang menerima hibah perangkat irigasi dari KKN-PPM UGM Bakam Bercerita. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi masyarakat dalam mengenal teknologi pertanian.
“Kami belajar banyak hal baru oleh mahasiswa KKN UGM Bakam Bercerita, salah satunya mengenai teknologi irigasi ini. Pastinya teknologi irigasi yang diberikan mahasiswa UGM ini akan menjadi salah satu contoh yang bisa diperlihatkan ke kelompok tani,” ujar Ustadz Jon.

Keberadaan perangkat irigasi di lahan diharapkan dapat menjadi contoh nyata yang dapat diamati dan dikembangkan oleh kelompok tani. Masyarakat dapat melihat secara langsung mekanisme distribusi air, melakukan perawatan, serta menyesuaikan penggunaan sistem dengan kondisi tanaman dan ketersediaan air.
Rafi juga menekankan pentingnya keberlanjutan setelah kegiatan KKN selesai. “Kami berharap alat yang sudah diberikan tidak hanya digunakan selama kami berada di desa, tetapi benar-benar dirawat dan dimanfaatkan oleh kelompok tani. Kalau nantinya ada kebutuhan yang berbeda, sistem ini juga bisa dikembangkan dan disesuaikan secara bertahap,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari terpasangnya perangkat, tetapi dari kemampuan masyarakat dalam memahami dan memanfaatkan teknologi tersebut. “Bagi kami, keberhasilan program ini adalah ketika masyarakat sudah bisa mengoperasikan, merawat, dan bahkan menjelaskan kembali cara kerja sistem kepada kelompok tani lainnya. Jadi, pengetahuan dan teknologinya bisa terus berjalan meskipun KKN sudah selesai,” lanjut Rafi.
Melalui SMART-WISE IRRIGATION, KKN-PPM UGM Bakam Bercerita berupaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat Desa Bukit Layang. Edukasi, demonstrasi, pemasangan, dan hibah perangkat menjadi satu rangkaian kegiatan yang diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola air untuk kegiatan pertanian.
Penulis : kkn bakam bercerita, Mahasiswa Universitas Gadjah Mada
Artikel ini telah dimuat di kompasiana.com