
Pagi itu, sekitar pukul 09.30, puluhan tangan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 6 Karimunjawa tampak semangat menepuk – nepuk pasir Pantai Amor. Di depan tangan mereka, jejak 50 kaki tukik jenis Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) membekas di bibir pantai sebelum akhirnya pulang kembali ke habitat asalnya. Kegiatan ini adalah upaya pendidikan konservasi sejak dini serta pelestarian Penyu yang dilakukan oleh Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) II Karimunjawa berkolaborasi dengan TIM KKN PPM UGM Renjana Karimunjawa.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi materi mengenai pentingnya menjaga alam dan pelestarian Penyu sejak usia dini kepada siswa SDN 6 Karimunjawa. Setelah mendapatkan materi edukatif, para siswa diajak berkegiatan langsung untuk melepas tukik sebagai bentuk pembelajaran di luar kelas. “Jadi, kami memberikan pembekalan terlebih dahulu agar siswa paham mengapa Penyu itu dilindungi dan harus dilestarikan,” ujar Karenina perwakilan mahasiswa KKN UGM. Dyah Ayu Puspitasari, Kepala SPTN 2 Karimunjawa juga menyampaikan hal serupa, pendidikan sejak usia dini seperti kegiatan pelepasan tukik menjadi upaya BTN untuk menyiapkan aset bagi generasi mendatang untuk mengenal upaya konservasi. “Jadi menanamkan nilai – nilai konservasi sejak dini adalah upaya kita untuk membangun dan juga upaya keberlanjutan konservasi dari Penyu itu sendiri,” tuturnya. Menurut Diah, penanaman nilai – nilai konservasi menjadi langkah untuk menjaga keberlanjutan konservasi khususnya Penyu sebagai spesies yang ada di Karimunjawa serta berperan penting bagi ekosistem.
Sementara itu, Agus Roma Purnomo, staff pengendali ekosistem hutan, menjelaskan bahwa Penyu Sisik yang dilepaskan berasal dari Penetasan Semi Alami (PSA) Balai Taman Nasional Karimunjawa. PSA sendiri memang memiliki program yang bekerja sama dengan masyarakat dalam upaya pengambilan telur Penyu dan pelepasan. Telur-telur Penyu yang berasal dari pulau sekitar Karimunjawa dibawa ke PSA agar terselamatkan dari predator. Telur Penyu yang telah dikumpulkan kemudian ditetaskan kemudian dipelihara hingga siap dilepaskan kembali ke habitatnya. Selain itu, Agus juga memaparkan bahwa fungsi PSA tidak terbatas pada upaya konservasi semata, melainkan memberikan edukasi pendidikan konservasi. “Seperti kegiatan saat ini kita manfaatkan untuk pendidikan SD, Mahasiswa, dan ada juga dari TK,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung juga mendapat respon positif dan dukungan dari pihak SD, hal ini diutarakan oleh Nur selaku guru di SDN 6 Karimunjawa. Ia menilai kegiatan ini memberikan pengalaman berkesan bagi siswa kelas 3, 4, dan 5 dalam upaya pelestarian alam. “Jadi dari SDN 6 Karimunjawa tahu tentang pelestarian alam sekitar, terutama untuk konservasi Penyu, jadi kami tunggu untuk kerjasama berikutnya,” tuturnya.
Sumber berita: https://ksdae.kehutanan.go.id/