Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat
  • Beranda
  • Berita Utama DPkM
  • KKN
  • Cerita dari Bambar dan Doyo Lama, Jejak Pengabdian TIM KKN-PPM UGM di Tanah Papua

Cerita dari Bambar dan Doyo Lama, Jejak Pengabdian TIM KKN-PPM UGM di Tanah Papua

  • KKN, SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh., SDGs 17 : Kemitraan untuk mencapai tujuan, SDGs 8 : Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  • 26 Agustus 2025, 13.21
  • Oleh: prayudhi.kurniawan
  • 0

Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) baru saja merampungkan pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode 2 Tahun 2025, yang diselenggarakan selama 50 hari, terhitung sejak 20 Juni hingga 8 Agustus silam. Tercatat sebanyak 8.038 mahasiswa yang tergabung dalam 287 unit berhasil menuntaskan misi pengabdian di seluruh penjuru Nusantara, yakni mencakup 35 provinsi, 122 kabupaten/kota, dan 236 kecamatan. Salah satu unit yang berhasil merampungkan misi pengabdiannya adalah Tim KKN PPM UGM yang berlokasi di Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Tim ini juga mencatat rekor sebagai unit KKN dengan lokasi terjauh, yakni sekitar 3.491 km dari Yogyakarta menuju dua desa yang menjadi tujuan pengabdian, yakni Desa Bambar dan Doyo Lama di Kabupaten Jayapura. Lebih lanjut, tim ini mengusung misi pengembangan potensi yang berkelanjutan melalui pembangunan sarana dan prasarana, serta pendidikan yang kontekstual bagi masyarakat di Desa Bambar dan Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura.“Nah, tim kami mencoba mengembangkan potensi yang ada di Desa Bambar dan Doyo Lama, seperti di sektor UMKM, pariwisata, agrikultur, kesehatan, dan pendidikan. Fokus kami adalah memastikan setiap program kerja yang kami canangkan sesuai dengan visi dan misi UGM serta Bupati Jayapura dalam menjalankan program yang berkelanjutan,” jelas Frank Richard, Ketua Tim KKN-PPM UGM Jejak Jayapura, saat diwawancarai pada Rabu (20/8).

Tak lupa, setiap program yang mereka usung tidak hanya berfokus pada potensi lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan warga setempat. Frank menyebut bahwa Tim Jejak Jayapura turut memfokuskan upaya mereka pada pemberdayaan masyarakat agar warga Desa Bambar dan Doyo Lama dapat terbantu dengan kehadiran mereka. “Kami mencoba mengajarkan hal-hal baru kepada warga, agar melalui referensi-referensi baru tersebut, warga dapat termotivasi untuk mengembangkan usaha-usaha yang sedang mereka jalankan,” ujar Frank.

Frank juga menjelaskan bahwa jarak antara dua desa, Bambar dan Doyo Lama (yang menjadi lokasi pengabdian mereka) terbilang cukup jauh, yakni sekitar 11 km. Meski demikian, kondisi Desa Bambar yang sedikit lebih dekat ke kota membuatnya bisa dikatakan lebih maju dibandingkan Desa Doyo Lama, yang dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih. “Jarak antara dua desa cukup jauh, sekitar 11 km. Karena Bambar lebih dekat ke kota, fasilitas di sana lebih lengkap, kayak fasilitas pendidikan, minimarket, dan rumah sakit. Kondisinya cukup berbeda dengan Doyo Lama yang letaknya jauh dari kota. Di sana (Doyo lama), sekolah hanya satu, itu pun kondisinya cukup memprihatinkan. Meski begitu, jalan di kedua desa ini sudah diaspal,” tutur Frank.

Lebih lanjut, Tim Jejak Jayapura, yang terdiri dari empat klaster (soshum, saintek, medika, dan agro) dan terbagi ke dalam empat sub-unit, berhasil menginisiasi program-program kerja di kedua desa serta dapat menarik animo masyarakat setempat. Pun, warga desa turut mengikuti berbagai saran yang disampaikan melalui program-program kerja yang telah dirancang oleh Tim Jejak Jayapura.

Beberapa program kerja yang berhasil diaktualisasikan oleh keempat klaster antara lain mencakup pembuatan greenhouse, pengenalan biopestisida alami, pengolahan hasil sagu menjadi es krim dan mie, pemasaran produk melalui media sosial, general check-up, eco-printing, revitalisasi pusat informasi, pengenalan QRIS, pembuatan karcis di area wisata, kegiatan mengajar di sekolah, dan masih banyak lagi program lain yang berkaitan dengan pengembangan UMKM, pariwisata, pertanian, kesehatan, hingga pendidikan. “Di Doyo Lama ada tempat wisata yang sudah masuk dalam top 500 Anugerah Destinasi Wisata Indonesia (ADWI), yaitu Bukit Tungku Wiri. Nah, di sana kami juga membantu membuat papan sapta pesona yang menjadi tambahan dekorasi. Kami juga sempat membantu warga mempromosikan dagangan mereka, yaitu noken (tas rajut khas Papua) lewat media sosial. Selain itu, di sekolah yang ada di Doyo Lama, kami turut mengajar anak-anak karena tenaga pendidik di situ sedikit,” jelas Frank.

Tim Jejak Jayapura juga sempat dikunjungi oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, saat tengah melaksanakan program kerja di Desa Bambar pada Rabu (23/7) silam. “Kemarin, Rektor sempat datang, dan kami sekaligus menunjukkan proker kami di bidang kesehatan (general check-up) karena beliau kan berasal dari kedokteran,” ujar Frank. Kedatangan Rektor UGM ke Papua juga membuahkan hasil yang tidak diduga. Frank menambahkan bahwa dari kunjungan tersebut, pemerintah Papua berniat menjalin kerja sama dengan UGM, antara lain melalui rencana pengadaan program beasiswa dan sejenisnya bagi putra-putri terbaik Papua. “Puji Tuhan, berkat kunjungan itu, pemerintah Papua juga ingin membangun kerja sama dengan UGM, seperti pengadaan beasiswa untuk putra-putri terbaik Papua. Setahu saya, sekarang sedang dalam proses penyusunan MoU dan PKS-nya,” tutur Frank.

Selama 50 hari berada di tanah Papua, kebersamaan dengan warga Desa Bambar dan Doyo Lama meninggalkan kesan yang mendalam bagi Tim Jejak Jayapura. Warga yang ramah, terbuka, dan penuh semangat membuat para mahasiswa merasa diterima bak keluarga sendiri. “Warga di sini (di Bambar dan Doyo Lama) sangat baik kepada kami, dan mereka benar-benar menunjukkan arti kebersamaan dan toleransi. Intinya, kami merasa benar-benar diterima seperti keluarga di sini,” ujar Frank. Pun, Frank mengaku bahwa gotong royong dan nilai-nilai solidaritas masih sangat mengakar di Tanah Papua. “Warga sempat bingung, kenapa anggota tim kami selalu terpisah-pisah saat menjalankan proker, ada yang di sekolah, ada yang di rumah warga, dan lain-lain. Mereka justru menyuruh agar kami melakukannya bersama-sama, sebab budaya gotong royong di sini masih sangat kuat,” tuturnya.

Saat perpisahan, para anggota Tim Jejak Jayapura turut diantar oleh sejumlah warga desa ketika hendak meninggalkan lokasi pengabdian. Merujuk pada reels viral dari akun Instagram @info_sentani, terlihat momen haru ketika para mahasiswa dan warga saling berpelukan sambil meneteskan air mata, menandai berakhirnya misi pengabdian mereka di Tanah Papua. “Sehari sebelum kami pulang, saya sempat melapor kepada Ondoafi (kepala suku). Saya meminta agar pada hari Kamis diadakan ibadah, lalu setelah itu kami bisa joget-joget bersama. Di acara perpisahan itulah kami sempat menangis juga,” tambahnya.

Bagi tim, pengalaman bersama masyarakat Papua bukan sekadar pelaksanaan program kerja, melainkan juga sebuah perjalanan hati yang sarat akan pelajaran hidup. Selain menjadi bentuk aktualisasi tridarma perguruan tinggi, pengabdian di Tanah Papua ini juga membawa para mahasiswa menemukan wajah Papua yang sesungguhnya, di mana masyarakat desa tumbuh dan hidup dalam semangat kebersamaan dan toleransi yang begitu kuat.

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Gadjah Mada

Jl. Pancasila Bulaksumur UGM, Blok G7,
Yogyakarta, Indonesia 55281
+62-274-552432
  +62-274-6492082, +62-274-6492083

whatsapp : 08112576939 (KKN)

 dit.pengabdian@ugm.ac.id
 Sekretariat DPKM : sekdit.dpkm@ugm.ac.id
Telepon Internal UGM : 82488(Sekretariat), 82486(KKN), 82490(Pemberdayaan Masyarakat).

 

© Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY