
Di balik rumah-rumah sederhana di Desa Sadi, Kabupaten Belu, tersimpan benda yang tak biasa: fosil fauna. Fosil-fosil ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan warga, meski belum sepenuhnya disadari nilai pentingnya. Melihat potensi tersebut, tim KKN PPM UGM Halo Belu yang ditempatkan di Desa Sadi berinisiatif melakukan konservasi fosil sebagai salah satu program kerja.
Program ini digagas oleh dua mahasiswa, Lintang Gantari dan Fenny Naomi, yang terjun langsung ke rumah-rumah warga selama masa KKN (Juni-Agustus 2025). Mereka membersihkan fosil dari debu dan lumut, menyediakan fasilitas boks kontainer, plastik klip, dan silica gel untuk penyimpanan fosil, serta memberikan edukasi sederhana tentang cara penyimpanan agar lebih tahan lama. Tujuannya jelas: menjaga warisan masa lampau ini tetap terpelihara untuk generasi mendatang.
“Kalau dijaga begini, fosilnya bisa awet untuk anak cucu,” ungkap salah seorang warga dengan senyum lega saat menyaksikan proses konservasi. Respon masyarakat memang sangat positif. Mereka merasa terbantu sekaligus bangga karena fosil yang selama ini hanya tersimpan di sudut rumah kini mulai diperlakukan sebagai bagian penting dari identitas desa.

Upaya konservasi fosil di Desa Sadi menjadi bukti bahwa pengabdian mahasiswa tidak selalu harus dalam bentuk besar dan rumit. Terkadang, langkah sederhana seperti membersihkan dan merawat fosil bisa membuka jalan bagi pelestarian yang lebih luas. Lebih dari itu, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran bersama bahwa warisan purba bukan hanya milik masa lalu, tapi juga titipan berharga untuk anak cucu di kemudian hari.
Penulis: Lintang Gantari Kristin Palamarta, Mahasiswa Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, KKN-PPM Unit 2025-NT012 Tasifeto Timur, Kab. Belu, Nusa Tenggara Timur.
Artikel ini telah dimuat di kompasiana.com