Selama pelaksanaan, berbagai program unggulan berhasil dijalankan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Dalam bidang lingkungan, mahasiswa memperkenalkan pengolahan sampah organik menjadi kompos melalui penyediaan tempat sampah terpilah dan komposter, sekaligus melatih warga memanfaatkan limbah dapur sebagai pupuk alami. Gerakan kebersihan SEMUT (Semua Memungut) memanfaatkan momentum perayaan 17 Agustus yang diorganisir karang taruna sebagai ajang menggerakkan massa besar untuk memungut sampah. Sampah yang telah dipilah kemudian disalurkan ke program bank sampah melalui inisiatif SADARLIWET, sehingga barang yang semula tidak bernilai dapat dijual ke pengepul untuk diolah kembali, menjadi terobosan menjaga kebersihan sekaligus memberi manfaat ekonomi. Kreativitas warga, khususnya anak-anak, juga difasilitasi melalui program Kreasi Ceria dari Sampah yang mengubah barang bekas menjadi karya seni, menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Di sisi lain, pemberdayaan ekonomi dilakukan melalui Pelatihan Digitalisasi Bisnis Lokal yang membantu UMKM membuat akun Google Maps, mengenal e-commerce, dan memanfaatkan pemasaran digital. Upaya ini memperluas jangkauan produk lokal kepada wisatawan dan pasar daring. Program “Minyak Jelantah Jadi Berkah” diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga dan pelaku UMKM, dengan tujuan ganda: mengurangi limbah minyak jelantah yang berpotensi mencemari lingkungan serta membuka peluang usaha baru berbasis produk ramah lingkungan. Hasilnya, kegiatan ini berhasil memproduksi 30 batang sabun yang sebagian digunakan oleh peserta sendiri sebagai alternatif produk pembersih rumah tangga, dan sebagian lainnya diproyeksikan untuk dijual sebagai produk UMKM.
Aspek kesehatan dan kenyamanan warga tak luput dari perhatian. Revitalisasi Lampu Fasilitas Umum dilakukan dengan pemasangan sensor fotocell dan fitting otomatis untuk menghemat energi sekaligus meningkatkan keamanan malam hari. Sementara itu, Program Senam Bersama untuk Hidup Lebih Sehat diiringi edukasi pola hidup bersih dan sehat dilakukan untuk mendorong kesadaran hidup sehat di masyarakat. Selain kesehatan fisik, KKN Waras Pakem juga menaruh fokus pada kesehatan mental melalui Program Care, Share, Aware, yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran remaja mengenai kesehatan mental melalui pendekatan yang terbuka, interaktif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dilaksanakan di lingkungan yang aman dan suportif, program ini mendorong remaja untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan mental serta membangun kebiasaan positif demi kesejahteraan diri.
Dalam bidang pariwisata, Tim KKN-PPM UGM Waras Pakem berhasil memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan desa wisata di Pandanpuro yaitu “Dewi Pandang”. Dengan fokus utama kegiatan yaitu menggali potensi desa wisata dan menyusun strategi pengembangannya. Melalui sosialisasi, diskusi, dan pemetaan potensi, kami berhasil mengidentifikasi daya tarik utama desa, mulai dari keindahan alam, budaya lokal, hingga produk UMKM. Proses ini melibatkan aktif partisipasi masyarakat, perangkat desa, dan pelaku wisata sehingga ide-ide yang muncul benar-benar sesuai kebutuhan setempat. Hasilnya, tersusun dokumen perencanaan pariwisata yang dapat menjadi acuan jangka panjang, termasuk usulan paket wisata, pemunculan atraksi baru yaitu “Bird Watching”, rencana promosi, tingkat keamanan dan aksesibilitas, hingga keberlanjutannya. Program ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pariwisata berkelanjutan.
Seluruh program ini mendorong perubahan positif, mulai dari meningkatnya kesadaran akan pengelolaan lingkungan, berkembangnya keterampilan pemasaran digital bagi pelaku UMKM, hingga terciptanya lingkungan desa yang lebih sehat dan aman. Keberhasilan KKN Waras Pakem 2025 bukan hanya diukur dari jumlah kegiatan atau luaran fisik yang dihasilkan, melainkan juga dari keterlibatan aktif masyarakat, karena masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, namun juga mitra yang berperan dalam merancang, melaksanakan dan melanjutkan program. Mahasiswa berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut secara mandiri oleh masyarakat, sehingga manfaatnya akan terasa jauh setelah KKN berakhir serta diharapkan dapat mewujudkan desa yang mandiri, berdaya saing, dengan tetap menjaga kelestarian alam dan budayanya.
Penulis: Sandya Kirani, Mahasiswa Prodi Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya UGM, KKN-PPM 2025-YO018 Pakem, Kab. Sleman, DI Yogyakarta
Artikel ini telah dimuat di kompasiana.com
