
Di kaki Gunung Sindoro, terdapat suatu desa yang memiliki potensi melimpah baik dari segi potensi alam, wisata, SDM, hingga UMKM yang unik dan melimpah. Dapat dikatakan bahwa Desa Bansari menyimpan potensi ekonomi lokal yang luar biasa mulai dari UMKM kopi arabika dari petani muda, kotak embutan hingga miniatur alat rajang tembakau yang unik, topeng tradisional hasil buatan tangan, kerajinan kulit, hingga percetakan sablon yang modern. Namun di balik kekayaan produk itu, ada satu persoalan klasik yang kami temukan sebagai mahasiswa KKN UGM yang sedang mengabdi di Desa Bansari. Permasalahan tersebut tidak jauh dari UMKM lokal yang belum memiliki identitas yang kuat dalam menembus pasar digital.
Dari sinilah dua mahasiswa KKN PPM UGM dari disiplin ilmu berbeda memulai kolaborasi lintas bidang. Mahasiswi bernama Kenya Azzahra Prameswari dari Program Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK), dan Muhammad Hariish Hafiiz dari Ilmu Komputer merancang sebuah program bernama GELORA: Gerakan Literasi Digital dan Optimalisasi Ragam Aset UMKM.
Dimulai dari Observasi Sosial, Dikuatkan oleh Solusi Digital
Sebagai mahasiswa ilmu sosial, Kenya Azzahra memulai program ini dengan pendekatan yang partisipatif dengan melakukan bincang hangat dengan pelaku usaha, memetakan kebutuhan UMKM, legalitas usaha dan menggali cerita-cerita lokal yang menjadi identitas produk mereka. Ternyata, UMKM di desa Bansari pada umumnya menjual produk di pasar lokal, digitalisasi yang kurang komperhensif, dan tanpa pemahaman akan pentingnya “citra usaha”.
Sementara itu, Hariish Hafiiz memetakan intervensi berdasarkan sisi teknis, bagaimana para pelaku UMKM dapat memanfaatkan dan mengakses teknologi sederhana seperti Instagram, berbagai e-commerce, hingga mengakses qris untuk menunjang bisnis mereka. Kami sepakat, solusinya tidak harus canggih, tapi harus “menyadari kebutuhan” agar intervensi bisa langsung diimplementasikan.
“Kami ingin para pelaku UMKM di Desa Bansari memiliki usaha yang tidak hanya layak namun dapat bertahan di tengah arus digitalisasi yang massive, jadi bukan hanya sekadar jualan, itu yang kami kejar,” ungkap Kenya.
Observasi lapangan untuk memetakan potensi dan permasalahan digitalisasi UMKM dilakukan secara door to door ke beberapa pelaku usaha di Desa Bansari. Tim KKN-PPM UGM mendatangi langsung empat UMKM lokal dengan produk benda, yaitu:
- UMKM Pengrajin Kulit (Kaman Strap)
- UMKM Pengrajin Topeng khas Temanggung
- UMKM Sablon Cetak (CoStory)
- UMKM miniatur cenderamata alat rajang tembakau serta kotak lembutan
Dari hasil observasi, ditemukan bahwa setiap UMKM memiliki tantangan yang berbeda. Beberapa masih kesulitan mengakses digitalisasi karena keterbatasan pemahaman teknologi, sementara yang lainnya telah memiliki akun media sosial namun belum mampu menerapkan strategi pemasaran yang efektif untuk bertahan di tengah derasnya arus digitalisasi UMKM saat ini. Temuan inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan program GELORA UMKM Bansari agar intervensi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan nyata pelaku usaha.
Pelatihan dan Pendampingan Langsung: Dari Peningkatan Kapasitas SDM hingga Teknis Digitalisasi
Program ini tidak akan berjalan maksimal tanpa perpaduan antara pendekatan sosial humanistik dan kemampuan teknis digital. Disiplin PSDK memberikan landasan untuk memahami masyarakat secara mendalam, sementara ilmu komputer membuka jalan agar ide itu terwujud dalam bentuk nyata dan dapat diterapkan. Melalui GELORA UMKM Bansari, kami belajar bahwa pengabdian bukan soal siapa paling pintar, tapi soal bagaimana kita saling melengkapi untuk menciptakan dampak yang nyata dimulai dari desa.
Penulis: Kenya Azzahra Prameswari, Mahasiswa Prodi Pembangunan Sosial Dan Kesejahteraan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, KKN-PPM Unit 2025-JT044 di Bansari, Kab. Temanggung, Jawa Tengah
Artikel ini telah dimuat dio kompasiana.com

