Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat
  • Beranda
  • Berita Utama DPkM
  • KKN
  • Perayaan Seren Taun, Tradisi Panen yang Wajib Masuk Bucket List Wisata Budaya Cisolok, Sukabumi

Perayaan Seren Taun, Tradisi Panen yang Wajib Masuk Bucket List Wisata Budaya Cisolok, Sukabumi

  • KKN, SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh., SDGs 17 : Kemitraan untuk mencapai tujuan
  • 30 Juli 2025, 08.31
  • Oleh: prayudhi.kurniawan
  • 0
Perayaan Seren Taun di Kasepuhan Sinar Resmi, Cisolok (Foto: Dokumentasi KKN-PPM UGM Gunayuhi Sukabumi 2025)

Bagi sebagian orang, nama Cisolok mungkin lebih dikenal karena pemandian air panas, curug, atau pantai-pantai cantik di sekitarnya. Namun, di balik keindahan alamnya, tersimpan sebuah tradisi yang penuh makna dan menjadi perayaan besar bagi masyarakat adat Sunda: Seren Taun. Lebih dari sekadar upacara adat, Seren Taun di Cisolok kini telah berkembang menjadi atraksi budaya tahunan yang layak masuk dalam bucket list wisata budaya Anda.

Pada tahun ini, misalnya, Seren Taun kembali digelar di Kasepuhan Sinar Resmi pada 13 Juli lalu, menghadirkan rangkaian acara upacara yang memadukan kesakralan dengan perayaan atraksi budaya.

Makna Seren Taun

Bagi masyarakat adat Kasepuhan, Seren Taun adalah momen sakral. Upacara ini menjadi wujud rasa syukur atas panen yang melimpah, sekaligus doa agar tahun berikutnya membawa keberkahan yang sama. Dalam bahasa Sunda, “seren” berarti menyerahkan, sementara “taun” berarti tahun. Jadi, Seren Taun adalah “penyerahan tahun” atau penyerahan hasil panen yang telah diperoleh sepanjang tahun ke lumbung adat (leuit) sebagai simbol ungkapan syukur (Hermawan dalam Respati dkk., 2022).

Menurut catatan sejarah Sunda kuno, tradisi ini pada mulanya dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Padi—Nyi Pohaci Sanghyang Asri—yang pada masa itu diyakini oleh masyarakat Sunda sebagai sosok yang memberikan kesuburan bagi tanah, tumbuhan, serta seluruh makhluk hidup di bumi (Hidayat & Supriatna, 2022). Jika menilik lebih dalam tentang makna Seren Taun, tradisi ini dapat dilihat sebagai pertemuan antara ekologi, spiritualitas, dan solidaritas sosial. Di puncak prosesi, pengunjung akan melihat leuit atau lumbung padi adat yang menjadi pusat perayaan. Padi-padi hasil panen akan diserahkan dan disimpan di leuit sebagai simbol keberlanjutan hidup. Sesepuh adat memimpin doa, memohon berkah agar panen di tahun berikutnya kembali melimpah. Saat itu, Anda bisa merasakan bagaimana spiritualitas, ekologi, dan kebersamaan melebur menjadi satu.

Rangkaian Acara Seren Taun

Lokasi Upacara Perayaan Seren Taun (Foto: Dokumentasi KKN-PPM UGM Gunayuhi Sukabumi 2025)

Secara umum, tradisi Seren Taun terdiri dari tujuh rangkaian utama, yaitu: (1) Ngareremokeun, (2) Ngajayak, (3) Sedekah kue dan penyembelihan kerbau, (4) Doa ziarah makan, (5) Dadung, (6) Buyung, serta (7) Seribu Kentongan (Hidayat & Supriatna, 2022). Di antara rangkaian tersebut, Ngajayak menjadi salah satu yang paling ditunggu. Tahapan ini dianggap sebagai momen puncak, di mana seluruh unsur adat, seni, dan kebersamaan masyarakat berpadu dalam perayaan Seren Taun.

  1. Arak-Arakan
Lokasi Upacara Perayaan Seren Taun (Foto: Dokumentasi KKN PPM UGM Gunayuhi Sukabumi 2025)

Perayaan diawali dengan arak-arakan padi yang dipikul menggunakan batang-batang bambu. Menariknya, setiap langkah para pembawa memunculkan bunyi khas dari bambu yang beradu, menciptakan irama alami yang seolah menyatu dengan alunan musik tradisional. Suara-suara itu bukan hanya menambah semarak suasana, tapi juga menghadirkan nuansa khidmat. Arak-arakan ini bergerak menuju lokasi upacara, di mana leuit berdiri sebagai pusat perayaan. Perjalanan ini melambangkan perjalanan padi dari sawah menuju lumbung, dari bumi menuju pusat kehidupan.

  1. Ritual Menumbuk Padi
Prosesi Ritual Menumbuk Padi (Foto: Dokumentasi KKN-PPM UGM Gunayuhi Sukabumi 2025)

Setelah arak-arakan, suasana bergeser menjadi lebih sakral. Ritual adat dimulai dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh sesepuh kasepuhan. Sesajen berupa hasil bumi, bunga, dan yang lainnya disiapkan sebagai simbol penghormatan kepada leluhur dan alam. Salah satu hal paling menarik adalah prosesi menumbuk padi secara tradisional. Di sini, pengunjung bisa merasakan langsung kearifan lokal yang masih terjaga dalam setiap rangkaian acaranya.

  1. Atraksi Budaya
Atraksi Keseimbangan di Atas Tali (Foto: Dokumentasi KKN-PPM UGM Gunayuhi Sukabumi 2025)
Atraksi Seni Debus Dalam Rangkaian Seren Taun (Foto: Dokumentasi KKN-PPM UGM Gunayuhi Sukabumi 2025)

Salah satu atraksi yang selalu berhasil memikat penonton dalam perayaan Seren Taun adalah pertunjukan keseimbangan di atas tali. Seutas tali dibentangkan tinggi di udara dan penampil dengan penuh konsentrasi melangkah perlahan di atasnya. Selain itu, penonton juga akan disuguhi atraksi seni debus yang mendebarkan. Para penampil menunjukkan kekuatan fisik dan spiritual yang luar biasa melalui aksi-aksi ekstrem, seperti dipukul atau ditusuk tanpa terluka.

  1. Memasukkan Padi ke Leuit
Proses Memasukkan Padi ke Dalam Leuit (Foto: Dokumentasi KKN PPM UGM Gunayuhi Sukabumi 2025)

Puncak dari seluruh rangkaian adalah prosesi memasukkan padi ke leuit. Padi-padi yang sebelumnya diarak akhirnya dimasukkan ke dalam leuit sebagai simbol keberlanjutan hidup dan harapan akan kesejahteraan di tahun mendatang. Doa yang dipimpin oleh sesepuh adat dipanjatkan untuk memohon berkah agar panen pada tahun berikutnya kembali berlimpah.

Mengapa Wajib Masuk Bucket List Wisata Budaya?

Bagi traveler pecinta budaya, Seren Taun menawarkan kesempatan langka untuk menyaksikan tradisi yang masih terjaga di tengah arus modernisasi. Anda dapat merasakan sendiri atmosfer sakral sekaligus menikmati suguhan atraksi dan seni tradisional yang menarik. Selain itu, pengalaman ini dapat memberi wawasan mendalam tentang nilai-nilai lokal yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Jadi, jika Anda sedang merencanakan perjalanan wisata yang berbeda, Seren Taun di Cisolok adalah destinasi yang wajib ada dalam bucket list Anda. Tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga menghadirkan kenangan tak terlupakan yang akan selalu melekat dalam ingatan.

Referensi:

Ferescky, A., & Safitri, D. (2024). Analisis tradisi Seren Taun sebagai sarana pelestarian kebudayaan Sunda di era globalisasi. Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara, 1(2), 2995-3006.

Hidayat, I., Supriatna, M. (2022). Pelestarian Nilai Gotong Royong Melalui Upacara Adat Seren Taun di Wewengkon Adat Kasepuhan Citorek, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Prosiding Hapemas. 3(1), 262-269.

Respati, R., Narawati, T., & Nugraheni, Trianti. (2022). Upacara Seren Taun Masyarakat Sunda Sebagai Media Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar. Naturalistic: Jurnal Kajian Penelitian dan Pendidikan dan Pembelajaran.

 

Penulis : Indah Cipta, Mahasiwa Fakultas Ilmu Budaya UGM yang sedang melaksanakan KKN-PPM di Cisolok, Kab. Sukabumi Jawa Barat.

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com

 

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Gadjah Mada

Jl. Pancasila Bulaksumur UGM, Blok G7,
Yogyakarta, Indonesia 55281
+62-274-552432
  +62-274-6492082, +62-274-6492083

whatsapp : 08112576939 (KKN)

 dit.pengabdian@ugm.ac.id
 Sekretariat DPKM : sekdit.dpkm@ugm.ac.id
Telepon Internal UGM : 82488(Sekretariat), 82486(KKN), 82490(Pemberdayaan Masyarakat).

 

© Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY