Desa Bansari, sebuah desa yang terletak di lereng Sindoro, Kabupaten Temanggung, tengah menapaki babak baru dalam pengelolaan pariwisata lokal. Melalui program unggulan Pembuatan Paket Wisata Desa Bansari, Tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) Waksudha Bansari, yang dikoordinasikan oleh Gading Arif Wicaksono dan Dian Rizqi Sholihati, melaksanakan inisiatif strategis dalam pengembangan sektor pariwisata desa. Program ini telah dijalankan dan diserahkan pada perangkat desa dan seluruh pengelola wisata di Desa Bansari pada Rabu, 23 Juli 2025 yang bertujuan untuk memadukan potensi besar yang selama ini ada di Desa Bansari yaitu kekayaan alam dan hasil pertanian ke dalam sebuah paket wisata terpadu yang terstruktur, profesional, dan berkelanjutan.
Potensi Besar yang Belum Tergarap Maksimal
Desa Bansari memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan lebih jauh. Secara geografis, desa ini berada di kawasan pegunungan. Salah satu aset utama yang dimiliki adalah Embung Bansari, sebuah waduk buatan yang dibangun untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian. Seiring waktu, embung ini juga berfungsi sebagai destinasi wisata lokal, dengan panorama yang cukup diminati, terutama pada pagi hari saat matahari terbit.
Selain sektor wisata alam, Desa Bansari juga dikenal dengan hasil pertaniannya. Komoditas seperti cabai, melon, dan kopi menjadi produk unggulan masyarakat. Beberapa warga bahkan telah memanfaatkan teknologi greenhouse dan sistem smart farming untuk meningkatkan kualitas hasil panen. Kehadiran teknologi ini menjadi salah satu indikasi bahwa desa memiliki peluang untuk mengembangkan konsep agrowisata yang memadukan pertanian modern dengan edukasi bagi pengunjung. Meski demikian, potensi-potensi tersebut selama ini masih berkembang secara terpisah. Embung Bansari dikelola dengan fokus pada fungsi irigasi dan wisata sederhana, lahan pertanian dan greenhouse hanya digunakan untuk produksi, sementara kegiatan UMKM berjalan sendiri tanpa keterhubungan dengan sektor wisata. Kondisi ini membuat nilai tambah yang seharusnya dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas belum sepenuhnya terwujud. Dengan melihat keadaan tersebut, program kerja yang dilaksanakan di Desa Bansari diarahkan untuk menghadirkan integrasi antar potensi, sehingga wisata, pertanian, dan UMKM dapat saling mendukung dan berkembang secara berkelanjutan.
Konsep Agrowisata Terpadu: Menggabungkan Alam, Edukasi, dan Budaya
Melihat kondisi tersebut, Tim KKN UGM Waksudha Bansari berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menyusun Paket Wisata Desa Bansari. Program ini melibatkan:
-
Pemerintah Desa sebagai fasilitator kebijakan dan penggerak utama.
-
Pengelola Embung Bansari sebagai destinasi wisata utama.
-
Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) sebagai mitra dalam edukasi pertanian.
Pengelola Camping Ground sebagai penyedia wisata alam malam.
Dari hasil diskusi partisipatif, tersusunlah sebuah paket wisata yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga eduwisata. Konsep ini menawarkan wisatawan pengalaman yang menyeluruh, seperti:
-
Wisata Alam — menikmati panorama Embung Bansari, trekking ringan di area sekitar, hingga menikmati keindahan langit malam dari camping ground.
-
Edukasi Pertanian — belajar smart farming di greenhouse, mencoba menanam cabai atau melon, serta memahami teknik pertanian modern yang sudah diterapkan petani lokal.
-
Wisata Kopi — mengikuti perjalanan biji kopi dari proses panen, pengolahan, hingga menjadi secangkir kopi siap saji.
-
UMKM dan Kuliner Lokal — mengenal produk-produk khas desa, mulai dari olahan hasil bumi hingga jajanan tradisional yang mencerminkan identitas Bansari.
Paket ini dilengkapi dengan itinerari perjalanan, estimasi biaya, brosur promosi, serta rancangan konten media sosial. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya mendapatkan informasi praktis, tetapi juga kemudahan dalam merencanakan kunjungan mereka.
Prospek Jangka Panjang: Membangun Ekonomi Kreatif Desa
Peluncuran paket wisata ini tidak berhenti pada tahap perencanaan, melainkan dirancang untuk menjadi program yang berkelanjutan. Beberapa prospek yang dapat dicapai ke depan meliputi:
Peningkatan Sumber Daya Manusia Lokal
Pemuda desa akan dilatih sebagai pemandu wisata, fotografer, promotor digital, hingga pengelola destinasi. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktor utama dalam pengelolaan wisata.
Dukungan penuh datang dari warga. Mereka menilai program ini sebagai langkah penting dalam mengangkat martabat desa. Salah satu tokoh masyarakat menyampaikan, “Kami sangat mendukung adanya paket wisata ini. Potensi Bansari selama ini besar, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan adanya pengelolaan terstruktur, kami percaya desa akan semakin maju dan dikenal luas.”
Selain itu, pemuda desa juga menyambut baik karena melihat adanya peluang kerja baru. Beberapa di antara mereka menyatakan ketertarikan untuk menjadi pemandu wisata, fotografer, maupun pelaku usaha kuliner yang melayani wisatawan.
Agar program ini tidak berhenti setelah masa KKN, Tim Waksudha Bansari menyusun beberapa rekomendasi pengembangan, di antaranya:
-
-
Penyusunan SOP Operasional Wisata agar kegiatan lebih terorganisir dan profesional.
-
Pelatihan Pemandu Wisata khusus untuk pemuda desa agar layanan wisata memiliki standar kualitas.
-
Pengembangan Variasi Paket dengan segmentasi wisata keluarga, wisata edukasi, hingga wisata petualangan.
-
Pengadaan Fasilitas Pendukung seperti toilet umum, area parkir, dan tempat istirahat demi kenyamanan wisatawan.
Program Pembuatan Paket Wisata Desa Bansari yang dilaksanakan pada 23 Juli 2025 ini merupakan salah satu contoh nyata bagaimana perguruan tinggi melalui kegiatan KKN-PPM dapat memberikan kontribusi langsung bagi masyarakat. Dengan mengintegrasikan potensi alam, pertanian, dan budaya, Desa Bansari kini memiliki identitas baru sebagai desa agrowisata.
Gading Arif Wicaksono dan Dian Rizqi Sholihati, selaku penggagas program, berharap bahwa apa yang telah dirintis bersama masyarakat dapat berlanjut dan memberikan manfaat jangka panjang. Ke depan, Desa Bansari diharapkan menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain di Indonesia dalam memanfaatkan potensi lokal untuk membangun kemandirian ekonomi berbasis pariwisata berkelanjutan.
Penulis: Kenya Azzahra Prameswari, Mahasiswa Prodi Pembangunan Sosial Dan Kesejahteraan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, KKN-PPM Unit 2025-JT044 di Bansari, Kab. Temanggung, Jawa Tengah
Artikel ini telah dimuat di kompasiana.com

