
Harian, Sumatera Utara — Udara sore di Harian dipenuhi dengan antusiasme saat festival budaya Semarak Jong mencapai salah satu puncaknya yang paling dinanti: tarian Tor-Tor Pangurosan. Di bawah kanopi merah-putih yang berkibar lembut diterpa angin, barisan wanita muda melangkah maju dengan sinkronisasi sempurna, wajah mereka tenang namun fokus, menggambarkan disiplin dan kehormatan tradisi Batak yang telah berabad-abad.
Setiap penari mengenakan gaun bermotif ulos hitam, diikat dengan ikat pinggang putih yang dililit silang di bahu dan diikat di pinggang. Bandana kepang mereka — perpaduan mencolok antara merah, hitam, dan putih — menghiasi ekspresi tekad, sementara di atas kepala mereka bertengger mangkuk dan keranjang anyaman, ditopang dengan keseimbangan yang luar biasa. Elemen khas Tor-Tor Pangurosan ini bukan sekadar pertunjukan keahlian fisik; ia melambangkan keseimbangan dalam hidup, penghormatan terhadap leluhur, dan konsentrasi yang tak tergoyahkan.

Dengan tangan terkatup dalam gestur tangan sembah yang penuh hormat, para penari bergerak dengan langkah-langkah yang terukur dan harmonis. Suara musik tradisional dari panggung samping — iringan yang lembut namun ritmis — mengarahkan prosesi mereka. Tor-Tor Pangurosan, yang secara historis dipentaskan selama pertemuan komunitas yang penting, adalah tarian ritual yang mencari berkah, mengucapkan terima kasih, dan memperkuat persatuan dalam komunitas.
Kerumunan yang terdiri dari keluarga lokal, orang tua, dan penggemar budaya yang berkunjung, menonton dengan seksama. Bagi banyak penonton yang lebih tua, pertunjukan tersebut merupakan pengingat yang berharga akan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi penonton yang lebih muda, itu adalah pelajaran hidup tentang warisan — perwujudan identitas dalam dunia yang semakin global.
“Tarian ini bukan hanya untuk pertunjukan, tetapi sebagai cara menghormati budaya kami dan menjaga agar tetap hidup,” kata salah satu warga, wajahnya bersinar dengan kebanggaan. Perasaan itu menggema sepanjang acara, karena Semarak Jong tidak hanya berfungsi sebagai pameran hiburan tetapi juga sebagai platform untuk pelestarian budaya.
Festival seperti Semarak Jong telah memainkan peran penting dalam menjaga tradisi lokal. Dengan memberikan panggung bagi penari muda, acara-acara ini memastikan bahwa keterampilan, simbolisme, dan cerita yang tertanam dalam tarian seperti Tor-Tor Pangurosan tidak hilang seiring waktu. Lokasi lapangan desa yang dikelilingi pohon hijau dan pesona tradisional menambah keaslian momen tersebut, menjadikannya tapestri yang hidup dari budaya, alam, dan semangat komunitas.
Saat para penari keluar dalam formasi, tepuk tangan memenuhi udara, bercampur dengan nada-nada lembut yang perlahan memudar dari alat musik tradisional. Pertunjukan tersebut tidak hanya menghibur tetapi juga memperkuat identitas kolektif, menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Di Harian, Tor-Tor Pangurosan bukan sekadar tarian — ia adalah pernyataan bahwa budaya Batak terus berkembang, dijaga dan dilestarikan oleh komunitas yang menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Penulis: Yoannes Avilla, Mahasiswa Prodi Penyuluhan Dan Komunikasi Pertanian Fakultas Pertanian UGM, KKN-PPM Unit 2025-SU001 di Harian, Kab. Samosir, Sumatera Utara
Artikel ini telah dimuat di kumparan.com