
Dalam upaya mendorong pertumbuhan dan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tingkat lokal, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelana Kalasan Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses menyelenggarakan program unggulan bertajuk “UMKM Day” di Padukuhan Juwangen. Program ini dirancang secara berkesinambungan untuk membekali para pelaku usaha dengan empat pilar utama: legalitas, visual produk, kreativitas desain, dan pemasaran digital. Melalui serangkaian workshop dan pendampingan yang terintegrasi, acara ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh warga yang melihatnya sebagai jawaban atas tantangan bisnis di era modern.
Program “UMKM Day” merupakan sinergi dari empat program kerja individual yang dijalankan oleh mahasiswa dari berbagai fakultas, menunjukkan pendekatan interdisipliner dalam pemberdayaan masyarakat. Keempat program tersebut saling melengkapi untuk menciptakan sebuah alur pemberdayaan yang komprehensif, mulai dari penguatan fondasi hukum hingga langkah awal memasuki pasar digital.
- Legalitas Usaha, Kunci Usaha Naik Kelas: Workshop Pelatihan
Fondasi pertama dalam “UMKM Day” diletakkan oleh Ara Fahrezia, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, melalui program kerja bertajuk “Legalitas Usaha, Kunci Usaha Naik Kelas”. Workshop ini berfokus pada pengenalan dan pelatihan sistem Online Single Submission (OSS). Ara memaparkan secara rinci mengenai pentingnya legalitas sebagai syarat utama bagi UMKM untuk berkembang, mengakses permodalan, dan mendapatkan kepercayaan pasar.
Materi yang disampaikan mencakup pengertian OSS, manfaat memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga panduan praktis tata cara pendaftarannya. Sesi ini berlangsung sangat interaktif. Banyak warga mengaku baru pertama kali mendapatkan informasi sedetail ini. Momen penting terjadi ketika dijelaskan bahwa UMKM dengan omzet di bawah ambang batas tertentu tidak dikenakan pajak. Informasi ini berhasil menepis kekhawatiran yang selama ini menghambat mereka untuk mendaftarkan usahanya.
“Kami jadi lebih tenang sekarang. Tadinya takut kalau sudah punya izin nanti malah dikejar-kejar pajak, padahal keuntungan kami masih kecil. Ternyata tidak begitu, ya,” ujar salah seorang peserta dengan lega. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari pemahaman peserta, tetapi juga dari tumbuhnya keberanian dan motivasi untuk segera mengurus legalitas usaha mereka.

-
Etalase Warga: Dari Foto Produk Profesional hingga Desain Kreatif
Setelah pondasi legal dikuatkan, fokus beralih ke identitas visual melalui dua program kolaboratif di bawah payung “Etalase Warga”. Pertama, Azizah Nathania dari Fakultas Hukum (FH) UGM, mengeksekusi program “Foto Produk”. Menyadari bahwa visual adalah gerbang utama dalam pemasaran digital, Nathania menyediakan sesi foto produk langsung di lokasi bagi para pelaku UMKM. Warga membawa produk andalan mereka, mulai dari makanan, kerajinan, hingga produk jasa, untuk didokumentasikan secara profesional.
Antusiasme warga terlihat jelas dari partisipasi aktif mereka. Sesi foto yang bersifat non-formal ini justru menjadi ajang diskusi yang hidup seputar tips pemasaran dan pentingnya tampilan produk yang menarik.
Melengkapi sesi foto, Siti Malika, yang juga dari Fakultas Hukum UGM, menggelar “Workshop Peningkatan Kreativitas Digital” dengan fokus pada aplikasi desain Canva. Malika memaparkan keunggulan Canva sebagai alat yang praktis dan kuat bagi UMKM untuk menciptakan materi promosi secara mandiri. Para peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi langsung praktik membuat salah satu elemen vital dalam bisnis kuliner, yaitu buku menu. Selama sesi praktik, peserta aktif bertanya dan meminta saran, menunjukkan keinginan kuat untuk bisa mandiri dalam membuat desain yang menunjang pemasaran usaha mereka. Harapannya, UMKM Juwangen tidak lagi bergantung pada pihak ketiga untuk kebutuhan desain sederhana.
- Digitalisasi Marketing: Menjangkau Pasar yang Lebih Luas
Sebagai puncak dari rangkaian “UMKM Day”, Gayatri Afiza, mahasiswa FEB UGM, memimpin program “Digitalisasi Marketing UMKM”. Program ini menjadi langkah konkret setelah UMKM memiliki legalitas yang jelas dan visual produk yang menarik. Afiza memberikan sosialisasi mengenai urgensi pemasaran digital dan memberikan pendampingan teknis dalam memanfaatkan media sosial serta e-commerce.

Diskusi interaktif mengemuka saat para pelaku usaha bertanya tentang platform digital mana yang paling efektif untuk jenis usaha mereka. Berdasarkan analisis kebutuhan dan tren pasar, Instagram dan Shopee menjadi dua platform yang paling diminati. Tidak berhenti pada teori, beberapa peserta yang termotivasi langsung membuat akun bisnis Instagram dan mendaftarkan toko mereka di Shopee di tempat, dengan bimbingan langsung dari mahasiswa. Langkah awal ini menjadi bukti nyata bahwa program pendampingan yang tepat sasaran mampu menghasilkan aksi konkret dan dampak yang cepat terasa.
Secara keseluruhan, “UMKM Day” telah menjadi katalisator perubahan bagi para pelaku usaha di Padukuhan Juwangen. Pendekatan terpadu yang menggabungkan aspek legal, visual, dan digital terbukti efektif dalam membangun kapasitas UMKM secara menyeluruh. Inisiatif mahasiswa KKN UGM ini diharapkan menjadi langkah awal bagi terciptanya ekosistem UMKM yang lebih tangguh, mandiri, dan siap bersaing di pasar yang lebih luas.
Penulis : Mandhalika Cantikarahma, Mahasiswa Prodi Politik Dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, yang sedang KKN-PPM di Kalasan Sleman.
Penulis Koresponden: DPL Prof. Dr. Endah Retnaningrum S.Si M.eng.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com