Minyak jelantah seringkali berakhir di pembuangan, dianggap sebagai limbah dapur yang tak berguna. Namun, di tangan ibu-ibu Dusun Ngrandu, limbah ini berhasil disulap menjadi produk yang tidak hanya wangi, tetapi juga berpotensi mendatangkan pundi-pundi rupiah sembari mengisi waktu luang. Inisiatif ini merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dibawakan oleh Nala Haniifah Arjanti dengan judul “Pelatihan Pembuatan Lilin Aroma terapi dari Minyak Jelantah bersama Ibu-Ibu Dusun Ngrandu.”

Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Juli 2025, di Gedung Serbaguna dusun Ngrandu ini memiliki tujuan utama yang mulia. Program ini dirancang untuk memberikan pelatihan keterampilan kepada para ibu, memberdayakan mereka untuk memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai guna. Harapannya, keterampilan ini dapat terus dikembangkan menjadi peluang usaha kecil-kecilan untuk menambah penghasilan keluarga.
Antusiasme warga, khususnya dari kalangan ibu-ibu yang berminat, terasa begitu kuat. Mereka yang hadir dengan semangat ingin tahu, belajar bersama mengubah minyak sisa penggorengan menjadi sesuatu yang bernilai. Prosesnya pun ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Minyak jelantah yang telah dikumpulkan dari dapur masing-masing, pertama-tama disaring untuk menghilangkan kotoran kasar. Kemudian, minyak dibersihkan lebih lanjut dengan metode sederhana namun efektif: mencampurkan minyak panas dengan larutan tepung maizena dan air untuk menyerap sisa kotoran.

Setelah bersih, minyak jelantah siap diolah. Bahan-bahan lain seperti parafin, pewarna dari krayon bekas yang dilelehkan, dan beberapa tetes essential oil ditambahkan untuk menciptakan lilin yang cantik dan wangi. Semua bahan dicampur, dipanaskan hingga meleleh sempurna, lalu dituangkan ke dalam cetakan dan dibiarkan mengeras.
Manfaat dari kegiatan ini dirasakan langsung oleh para peserta. Banyak dari mereka mengaku senang karena sudah cukup lama tidak ada kegiatan pelatihan seperti ini di dusun mereka. Selain menambah ilmu dan membuka wawasan bahwa limbah bisa memiliki nilai jual, kegiatan ini juga menjadi ajang untuk berkumpul dan bersosialisasi antarwarga.

“Buat saya, ini bukan cuma soal jelantah, tapi soal belajar bareng,” ujar Nala sambil tersenyum.
Kegiatan ini tidak hanya berhenti sebagai pelatihan satu hari. Harapan besarnya adalah agar keterampilan ini dapat terus berlanjut bahkan setelah program KKN selesai. Ibu-ibu didorong untuk terus mempraktekkannya secara mandiri, dengan potensi untuk menjual hasil karya mereka. Dengan kreativitas dan ketekunan, bukan tidak mungkin lilin aroma terapi buatan Dusun Ngrandu ini bisa menjadi produk unggulan yang membantu meningkatkan kemandirian ekonomi warga.
Penulis : Luthfi Massaid, Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris Sekolah Vokasi UGM, yang sedang KKN PPM di Sawangan, Magelang.
Artikel ini tayang di kumparan.com