
Upaya memperkuat digitalisasi sektor ekonomi desa terus digencarkan. Pada Minggu, 27 Juli 2025, dua mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sodong Basari, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, memberikan edukasi sistem pembayaran digital menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kepada para pelaku UMKM Wisata Telaga Biru.
Dua mahasiswa tersebut adalah Benedictus Alitho Tegar Pamungkas (Alit) dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, dan Aryo Bismo Nugroho dari Fakultas Teknik UGM, jurusan Teknologi Informasi. Dalam edukasi yang mereka sampaikan, QRIS dikenalkan sebagai solusi pembayaran nontunai yang cepat, akurat, dan aman bagi pelaku usaha kecil di kawasan wisata.
Menurut Alit, penggunaan QRIS dapat membantu pelaku UMKM mengatasi hambatan transaksi tunai, sekaligus memudahkan wisatawan yang datang dan ingin berbelanja tanpa membawa uang fisik. “Dengan adanya QRIS, proses pembayaran menjadi lebih efisien dan tercatat dengan baik. Ini sangat penting bagi pengelolaan keuangan usaha yang lebih profesional,” ujarnya.
Edukasi ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong status Desa Sodong Basari dari Desa Rintis menjadi Desa Wisata. Aryo menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi seperti QRIS merupakan bagian dari ekosistem digital desa wisata yang berkelanjutan. “Digitalisasi bukan hanya tren, tapi kebutuhan. Ketika sistem pembayaran sudah terintegrasi secara digital, desa memiliki nilai tambah dalam menarik wisatawan dan investor,” jelas Aryo.
Meski demikian, proses implementasi QRIS tidak berjalan tanpa tantangan. Subur, salah satu pedagang di kawasan wisata sekaligus Ketua Pedagang Wisata Telaga Biru, mengapresiasi materi edukasi tersebut. Namun ia mengungkapkan bahwa sebagian besar pedagang di Telaga Biru belum memiliki perangkat pendukung seperti telepon pintar (smartphone) dan rekening bank, yang merupakan syarat utama untuk menggunakan QRIS.
“Materinya sangat bagus dan membuka wawasan kami. Tapi faktanya, banyak pedagang di sini belum punya HP atau rekening. Jadi kami butuh waktu dan dukungan lebih untuk bisa benar-benar menerapkan QRIS ini,” ujar Subur.
Kegiatan edukasi ini diharapkan menjadi awal dari transformasi digital sektor UMKM di Desa Sodong Basari. Para mahasiswa juga membuka peluang pendampingan lebih lanjut untuk membantu proses registrasi, pelatihan penggunaan aplikasi pembayaran digital, hingga koneksi dengan pihak perbankan atau penyedia jasa keuangan.
Dengan kolaborasi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi, masyarakat desa, dan pemerintah, Desa Sodong Basari diharapkan bisa mempercepat langkahnya menjadi desa wisata berbasis digital yang tangguh dan inklusif.
Sumber berita: g-news.id