
Pertanian dan peternakan telah menjadi sektor penting yang menopang sebuah desa di Kecamatan Kebonagung, Pacitan. Mayoritas penduduk Desa Karanganyar merupakan petani dan peternak. Kondisi ini kemudian mendorong tim mahasiswa KKN-PPM UGM Lembayung Agung untuk turut berkontribusi lewat sosialisasi alternatif pakan ternak, rumput Gama Umami. Sosialisasi ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan ketersediaan hijauan berkualitas tinggi yang tahan terhadap perubahan iklim dan mudah dibudidayakan oleh peternak lokal.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga menginisiasi penanaman perdana rumput ini bersama warga sebagai bentuk percontohan di lahan desa. Rumput Gama Umami merupakan rumput yang dikembangkan oleh tim peneliti dari Fakultas Peternakan UGM. Rumput ini adalah hasil mutasi dari rumput gajah yang telah diradiasi dengan sinar gamma. Gama Umami memiliki keunggulan yang membedakannya dari rumput pada umumnya. Di antaranya, kadar protein yang tinggi sehingga mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak secara lebih optimal.
Selain itu, rumput ini memiliki pertumbuhan yang cepat dengan masa panen enam kali dalam setahun. Ketahanannya terhadap musim kemarau juga menjadikannya pilihan ideal bagi peternak di daerah tropis. Tidak hanya unggul dalam hal kualitas, rumput Gama Umami juga tergolong mudah dibudidayakan. Dengan keunggulan-keunggulan ini, rumput Gama Umami diharapkan mampu menjadi alternatif pakan ternak yang berkelanjutan dan terjangkau bagi masyarakat Desa Karanganyar.
Sosialisasi rumput Gama Umami ini dilakukan di Dusun Waru, Desa Karanganyar, dengan menyasar para petani dan peternak sebagai peserta utama. Dalam kegiatan tersebut, Muhammad Rifqi Abda, sebagai PIC program kerja ini, memberikan penjelasan mendalam mengenai rumput Gama Umami, mulai dari latar belakang pengembangannya, keunggulannya dibandingkan rumput gajah lokal, pemanfaatan, hingga teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi lahan desa.
Salah satu fokus utama dalam sosialisasi ini adalah memberikan pemahaman praktis tentang cara penanaman Gama Umami, sekaligus memberikan praktik langsung. Peserta diajak untuk bertanam di salah satu lahan yang telah disiapkan. Media tanam yang dipersiapkan dalam bentuk bedengan berukuran 1 meter persegi yang telah dicampur dengan pupuk kandang sebagai sumber nutrisi awal.
Setelah itu, stek rumput Gama Umami ditanam di atas bedengan dengan jarak sekitar 50 cm. Setiap bedengan diisi dengan empat stek mahasiswa juga menekankan pentingnya memperhatikan arah tumbuh tunas. Apabila sudah mulai muncul penanaman harus diarahkan ke atas untuk mendorong pertumbuhan optimal.
Tidak kalah penting, seluruh stek harus ditanam menghadap ke arah matahari dan dalam arah yang seragam. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan rumput lebih merata dan maksimal. Melalui praktik langsung ini, peserta diharapkan dapat memahami secara konkret rahapan-tahapan budidaya serta memperoleh pengalaman awal yang dapat diterapkan secara mandiri di lahan mereka masing-masing.
Antusiasme warga terlihat jelas sepanjang kegiatan sosialisasi dan penanaman, Warga aktif bertanya, memerhatikan penjelasan, dan turut serta dalam praktik langsung dengan semangat tinggi. Banyak dari mereka menyambut baik adanya alternatif pakan ternak ini, terutama karena selama musim kemarau mereka kerap sulit mendapatkan hijauan yang cukup untuk ternaknya.
Salah satu tokoh masyarakat, Bapak Suwandi selaku Ketua RW, menyampaikan harapannya terhadap keberlanjutan program ini. “Orang sini semua punya hewan (ternak) kambing, sapi. Harapannya, Gama Umami dapat meringankan pakan ternak. Dan ke depannya, jika hasilnya baik, bisa membantu mendongkrak ekonomi dan bisa dijual. Namun, semoga rumput ini bisa tahan pana sehingga mendongkrak pakan ternak di musim kemarau,” ujarnya setelah melakukan penanaman rumput bersama mahasiswa KKN.
Harapan ini sejalan dengan tujuan utama program sosialisasi, yakni memperkenalkan solusi hijauan pakan ternak yang adaptif terhadap tantangan iklim serta berpotensi menjadi sumber ekonomi baru di masa depan. Dengan kolaborasi antara mahasiswa dan warga, penanaman rumput Gama Umami diharapkan tidak hanya menjadi percontohan, tetapi juga menjadi awal dari perubahan positif dalam sistem peternakan desa.
Penulis: Zefanya Jovita Angelica Masahengke, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM yang sedang KKN-PPM di Kebonagung Pacitan
Artikel ini dimuat di goodnewsfromindonesia.id