Keterbatasan air pada lahan pertanian tadah hujan menjadi salah satu tantangan dalam menjaga produktivitas pangan di Dusun Penggung, Kelurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN-PPM UGM untuk mengembangkan alternatif budidaya tanaman yang lebih adaptif terhadap kondisi kering, salah satunya melalui pengenalan tanaman sorgum. Upaya tersebut menjadi bagian dari program KKN-PPM UGM Periode 2 Tahun 2026 yang mengusung tema optimalisasi ketahanan pangan dan pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Sebanyak enam mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu terlibat dalam perancangan program pemberdayaan masyarakat di wilayah tersebut.
Raden Mas (RM) Gusthilantika Marrel Suryokusumo, yang akrab disapa Mas Marrel, mengunjungi Lumbung Mataraman “Dewi Sri” di Dusun Penggung (23/6). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi lahan pertanian tadah hujan yang menghadapi kendala pengairan, terutama saat musim kemarau berkepanjangan. Mas Marrel berdiskusi dengan mahasiswa KKN-PPM UGM mengenai kondisi pertanian dan potensi pengembangan wilayah. Pertemuan turut dihadiri Lurah Purwosari, Pamong Kelurahan Purwosari, perwakilan Kapanewon Girimulyo, serta Badan Penyuluh Pertanian (BP2) Girimulyo.
Lurah Purwosari menjelaskan bahwa Lumbung Mataraman merupakan kawasan persawahan tadah hujan yang menghadapi keterbatasan air saat musim kemarau. Kondisi tersebut membuat sebagian lahan sulit ditanami secara optimal. Terdapat sumber mata air di Pedukuhan Tegalsari yang berpotensi mendukung kebutuhan pengairan, namun aliran air tersebut justru mengarah ke wilayah Kabupaten Purworejo sehingga belum dapat dimanfaatkan untuk mengairi Lumbung Mataraman.
Upaya untuk membangun saluran pipa dari sumber mata air tersebut sebenarnya telah diusulkan kepada dinas dan kementerian terkait. Namun, hingga saat ini pembangunan saluran tersebut belum terealisasi. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan mahasiswa KKN-PPM UGM dalam merancang program yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas pertanian, tetapi juga mempertimbangkan kondisi lingkungan dan ketersediaan sumber daya air.
Sebagai salah satu respons terhadap keterbatasan air, mahasiswa KKN-PPM UGM memperkenalkan simulasi penanaman bibit sorgum di kawasan Lumbung Mataraman “Dewi Sri”. Sorgum dipilih karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi kering dan kebutuhan air yang relatif lebih rendah dibandingkan tanaman padi. Selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sorgum juga berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam diversifikasi pangan.
Inisiatif tersebut mendapat respons positif dari Mas Marrel. Menurutnya, pengembangan sorgum dapat menjadi salah satu alternatif komoditas yang dikembangkan masyarakat, khususnya selama kebutuhan pengairan permanen di Lumbung Mataraman belum terpenuhi. Pengembangan tanaman pangan yang adaptif terhadap kondisi lingkungan dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.
Selain persoalan pertanian, masyarakat Purwosari juga memiliki gagasan untuk mengembangkan Lumbung Mataraman sebagai kawasan agroedutourism atau wisata berbasis pertanian dan edukasi. Konsep tersebut diharapkan dapat mengintegrasikan kegiatan pertanian, pendidikan, dan pariwisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Gagasan ini dinilai relevan dengan kebutuhan generasi saat ini yang semakin membutuhkan ruang belajar untuk mengenal proses produksi pangan dan keterkaitannya dengan lingkungan.
Mas Marrel menilai pengembangan kawasan berbasis pertanian dan edukasi memiliki potensi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Ia mencontohkan pengembangan kawasan serupa di Kaliurang yang mampu memadukan aktivitas ekonomi dengan pemanfaatan potensi alam secara berkelanjutan. Ia menekankan bahwa persoalan ketersediaan air tetap perlu menjadi perhatian utama sebelum pengembangan agroedutourism dilakukan secara lebih luas.

Pertemuan antara mahasiswa KKN-PPM UGM, pemerintah kalurahan, perwakilan kapanewon, penyuluh pertanian, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi kebutuhan serta potensi pengembangan Dusun Penggung. Masukan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu mahasiswa KKN-PPM UGM menyusun program pemberdayaan masyarakat yang lebih tepat sasaran, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan, adaptasi terhadap keterbatasan air, serta pengembangan potensi wisata berbasis pertanian.
Melalui sinergi tersebut, pengembangan sorgum tidak hanya diarahkan sebagai alternatif tanaman pangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan. Penyelesaian persoalan pengairan serta pengembangan agroedutourism secara berkelanjutan diharapkan dapat berjalan beriringan. Kolaborasi antara pemerintah kalurahan, masyarakat, penyuluh pertanian, dan mahasiswa KKN-PPM UGM menjadi langkah awal untuk mengoptimalkan potensi Lumbung Mataraman “Dewi Sri” sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat Purwosari.
Inisiatif ini juga berkontribusi pada pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama yang berkaitan dengan ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan, pendidikan, aksi terhadap perubahan iklim, perlindungan ekosistem, serta penguatan kapasitas dan partisipasi masyarakat.
Sumber: Remove Saka Adilnansyah. Penulis/Editor: DnHalimah & Sabri. Foto: Tim KKN-PPM UGM Penggung, Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta