
Mahasiswa KKN PPM UGM Unit Girimulyo (2026-YO010) Toreh Menoreh, Sub Unit Tegalsari, melaksanakan sosialisasi dan praktik pembuatan mineral block bagi peternak kambing Peranakan Etawa (PE) di Padukuhan Tegalsari, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Program ini mendukung tema besar KKN mengenai ketahanan pangan melalui optimalisasi produktivitas ternak dan penguatan kemandirian pakan bagi peternak lokal.
Kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 9 Juli 2026, bertempat di Balai Padukuhan Tegalsari, dengan diikuti sekitar sembilan peternak kambing PE setempat.
Program ini lahir dari kondisi peternakan kambing PE di Tegalsari yang sebagian besar masih dijalankan secara tradisional. Peternak umumnya hanya memberikan pakan berupa hijauan dan ampas tahu, tanpa tambahan mineral, padahal ternak ruminansia dewasa seperti sapi, domba, dan kambing tetap membutuhkan asupan mineral dalam jumlah kecil namun penting untuk mendukung pertumbuhan, menjaga kondisi tubuh, produksi daging dan susu, reproduksi, hingga daya tahan tubuh ternak.
Dalam sosialisasi, tim KKN menjelaskan bahwa kekurangan mineral pada ternak dapat dikenali dari sejumlah tanda, seperti perilaku tidak biasa berupa menjilat tembok, menggigit kayu, atau makan tanah karena ternak berupaya mencari mineral. Tanda lain yang turut disampaikan meliputi bulu yang tampak kasar atau rontok, tubuh ternak yang kurus dan lemah, serta gangguan reproduksi pada indukan seperti sulit bunting, keguguran, hingga kesulitan saat beranak.
Materi juga menekankan bahwa mineral block bukan pengganti pakan utama, melainkan pelengkap yang diberikan berdampingan dengan hijauan, pakan tambahan, dan air minum yang cukup. Tim KKN menjelaskan bahan pembuatan mineral block yang sederhana, yaitu garam, semen putih, mineral premix, dan air. Garam berfungsi sebagai sumber mineral sekaligus daya tarik agar ternak mau menjilat, mineral premix menjadi sumber mineral tambahan, sedangkan semen putih berperan sebagai pengeras agar mineral block berbentuk padat dan tidak mudah hancur. Turut disampaikan pula gambaran umum bahwa membuat mineral block secara mandiri dinilai lebih ekonomis dibandingkan membeli produk jadi di pasaran.
Peternak juga diberi pemahaman mengenai cara penggunaan yang tepat. Mineral block hanya diperuntukkan bagi ternak dewasa, bukan cempe atau anakan, dan penggunaannya tidak boleh berlebihan. Mineral block juga tidak boleh dihancurkan atau dicampur langsung ke pakan, melainkan cukup diletakkan di kandang agar ternak dapat menjilatnya sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan mineral block yang dipandu oleh tim KKN, sehingga peternak dapat melihat dan mempraktikkan sendiri proses pencampuran bahan hingga pencetakan.
Hasil evaluasi menunjukkan respons yang positif dari peserta. Beberapa hari setelah kegiatan, salah satu peserta sosialisasi, Bapak Parji yang menjabat sebagai Ketua RT 08, menyampaikan dengan antusias bahwa ia telah memasang mineral block buatannya di kandang dan kambingnya terlihat aktif menjilatinya. Bapak Parji turut menyampaikan rencana untuk membuat mineral block kembali pada kesempatan berikutnya.
Program ini diharapkan dapat mendorong peternak kambing PE di Tegalsari untuk mulai memperhatikan aspek mineral dalam pola pemeliharaan ternak, sehingga produktivitas dan kesehatan ternak dapat meningkat secara berkelanjutan.
Penulis : Zaqi, Mahasiswa Universitas Gadjah Mada
Artikel ini telah tayang di kompasisana.com