
Gelas-gelas teh manis panas berbaris menunggu di atas nampan, mengepul di tengah udara kemarau yang dingin. Malam itu, Kamis, 29 Juli 2026, sebuah rumah berdinding hijau di Padukuhan Sumberwojo tampak lebih ramai dari biasanya. Dari pintu yang terbuka lebar, terdengar obrolan santai bercampur gurauan, suara tuan rumah yang sibuk menyiapkan suguhan, dan dentingan piring kudapan yang disusun rapi.
Rumah itu sendiri bukan hal baru. Ia sudah berdiri di sana, diapit sawah dan kebun, jauh sebelum sebelas mahasiswa KKN-PPM UGM Unit Jemari Ponjong datang tinggal sementara di padukuhan tersebut. Yang membuat malam itu berbeda adalah agenda yang sedang berlangsung, yaitu arisan bulanan Kelompok Tani Sumberwojo, dan kali ini para mahasiswa KKN mendapat kesempatan untuk bergabung.
Mereka disambut hangat, disodori kudapan, lalu duduk melingkar di atas kloso untuk mengikuti jalannya arisan bulanan para bapak-ibu petani.
Sambutan dibuka oleh pembina kelompok tani, yang dulunya bertugas sebagai petugas lapangan pertanian di Sumberwojo. Ia berterima kasih kepada para peserta, lalu mengajak semua orang menengok kembali perjalanan kelompok ini, sekaligus posisi pertanian dalam hidup mereka sehari-hari. Baginya, pertanian bukan sekadar pekerjaan. Ia memiliki fungsi sebagai penyangga kehidupan. Sebab ketika pertanian berjalan lancar dan bahan pangan tersedia, kata pembina itu, keluarga dapat menyediakan cukup makanan di atas meja. Adanya kecukupan itu tentu akan diiringi oleh masyarakat yang bisa hidup dengan lebih tenteram dan anak-anak mereka bisa belajar dengan optimal.
Kelompok tani ini sudah berdiri sejak 1986. Dulu anggotanya sekitar 20 orang. Seiring berjalannya waktu, sebagian anggota telah berpulang, sebagian lain menua, dan kini yang tersisa tinggal sekitar 17 orang. Meski jumlah anggotanya tidak lagi sebanyak dulu, pertemuan tetap digilir dari rumah ke rumah, bukan hanya untuk urusan arisan, tetapi juga untuk menjaga anak dan cucu tetap belajar bagaimana menyambut tamu, menyiapkan suguhan, serta menghormati orang yang datang ke rumah mereka.
Pembina itu juga membandingkan kondisi pertanian Indonesia dengan negara lain, dan menyimpulkan bahwa petani di sini masih butuh akses yang lebih kuat ke ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia mengenang masa ketika penyuluhan pertanian jauh lebih rutin. Petugas lapangan turun ke sawah; program Sekolah Lapangan berjalan lebih ekstensif, disesuaikan dengan konteks lokal. Penyuluh penting, katanya, karena petani butuh tempat bertanya saat menghadapi persoalan di lahan. Tapi jumlah petugas kian berkurang, jangkauan penyuluhan pun menyempit. Sampai sekarang, meski sudah tidak menjabat, ia masih sering didatangi petani yang bertanya soal jagung, cabai, dan bawang.
Lalu agenda utama malam itu dimulai. Catatan keuangan kelompok dibacakan lantang, satu per satu, secara transparan di depan semua anggota. Undian arisan dikocok. Di sela pembacaan laporan, genggaman uang beberapa kali dilempar dari satu ujung ruangan ke ujung lain, cara paling praktis memindahkan uang ketika semua orang duduk melingkar.
Begitu nama penerima arisan dan tuan rumah bulan depan ditentukan, suasana mencair. Obrolan kembali riuh. Orang-orang saling mengingatkan untuk mengambil kudapan; gelas teh yang mulai kosong disodorkan kembali ke tengah.
“Monggo di-jok aja, Mbak, kalau tehnya udah abis. Jangan malu-malu!”
Teh dituang ulang. Kudapan berpindah tangan. Tetapi malam belum selesai. Setelah arisan tuntas, pembicaraan bergeser ke sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian mereka, kondisi pertanian terkini dan informasi mengenai berbagai bantuan pada sektor pertanian yang mungkin bisa dimanfaatkan.
Ketua kelompok tani membuka soal rencana bantuan mesin tanam padi yang diharapkan bisa membantu saat tenaga kerja semakin terbatas ketika musim tanam tiba. Ada juga kabar 1.500 batang bibit buah, 1.000 batang untuk Sumberwojo, 500 sisanya untuk kelompok lain, berupa jambu, kelengkeng, alpukat, dan beberapa jenis lain. Pembicaraan lalu menyinggung pengalaman padukuhan tetangga yang sudah lebih dulu mendapat bantuan bibit lele. Jika dirasa cocok, Sumberwojo bisa mengajukan hal serupa. Ada pula rencana bantuan 6.000 ekor ayam petelur. Kali ini kelompok yang harus menyiapkan tempat, tenaga, dan orang yang mengawasi, sementara kandang akan dibantu penyediaannya.
Setelah agenda kelompok tani rampung, giliran mahasiswa KKN memaparkan program mereka. Malam ini mereka membawakan sosialisasi teknologi peternakan.
Salah satu yang dibicarakan adalah bahaya gas amonia atau NH₃ berlebih. Meskipun gas tersebut secara alami dihasilkan dari kotoran ternak seperti ayam, sapi, dan kambing. Masalah muncul ketika kotoran menumpuk. Bukan hanya kandang yang semakin bau; ketika kadar amonia naik dan paparan berulang dalam waktu lama, atau dalam konsentrasi tinggi, bisa mengganggu kesehatan, dari iritasi mata dan saluran pernapasan hingga luka bakar pada kulit.
Penulis : Aisha Johan, Mahasiswa UGM
Artikel ini telah dimuat di kompasiana.com