Tepat di tanggal 20 Juni 2026 menjadi awal dari sebuah perjalanan yang akan memberikan pengalaman berbeda bagi kami. Siang itu, tim kami, KKN-PPM UGM Kemalang menaiki bus yang telah terparkir di kawasan Kampus Universitas Gadjah Mada, Sleman. Di dalam bus, koper dan berbagai perlengkapan KKN memenuhi bagasi, sementara obrolan ringan, tawa, dan rasa penasaran mengiringi setiap kilometer perjalanan. Setelah berpamitan dengan kenyamanan rumah, kami meninggalkan hiruk pikuk kampus menuju sebuah desa di lereng Gunung Merapi yang akan menjadi rumah sekaligus ruang belajar selama hampir dua bulan ke depan.
Seiring bus melaju meninggalkan Kota Yogyakarta, pemandangan di balik jendela perlahan berubah. Gedung-gedung kota berganti dengan hamparan sawah yang menghijau, udara terasa semakin sejuk, dan siluet Merapi mulai tampak berdiri kokoh di kejauhan. Di sepanjang perjalanan, kami membayangkan seperti apa kehidupan masyarakat yang akan kami temui dan cerita apa saja yang menanti di tempat tujuan. Beberapa jam kemudian, kami akhirnya tiba di Desa Balerante. Sebuah desa yang pada hari itu masih terasa asing, tetapi perlahan menjadi tempat yang mengajarkan kami banyak hal tentang kebersamaan, pengabdian, dan potensi yang dimilikinya.
Sesampainya di sana, suasana yang kami jumpai jauh berbeda dengan hiruk pikuk kota yang baru saja kami tinggalkan. Hamparan hijau yang membentang, udara pegunungan yang sejuk, serta siluet Gunung Merapi yang berdiri megah seolah menjadi sambutan pertama bagi setiap orang yang datang. Desa Balerante, yang terletak di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten merupakan salah satu desa yang berada di kawasan lereng Gunung Merapi. Letaknya yang berdekatan dengan gunung api paling aktif di Indonesia itu membentuk karakter desa yang unik. Di satu sisi, masyarakat hidup berdampingan dengan berbagai dinamika alam Merapi. Di sisi lain, kondisi tersebut justru melahirkan beragam potensi yang menjadikan Balerante dikenal sebagai desa yang kaya akan pesona alam, wisata, dan kehidupan masyarakat yang penuh semangat.

Hari-hari pertama di Balerante menjadi awal dari proses mengenal desa ini lebih dekat. Setiap sudut yang kami datangi menghadirkan pengalaman yang berbeda, mulai dari jalan-jalan desa yang membelah hamparan hijau, keramahan warga yang selalu menyambut dengan senyuman, hingga latar Gunung Merapi yang seakan tak pernah lepas dari pandangan. Di sela-sela menjalankan program kerja, kami menyadari bahwa Balerante bukan sekadar desa tempat kami melaksanakan KKN. Semakin sering kami berinteraksi dengan masyarakat dan menjelajahi berbagai sudut desa, semakin terlihat bahwa setiap tempat memiliki cerita dan potensinya masing-masing. Dari sanalah perjalanan kami untuk benar-benar “menemukan Balerante” dimulai.
Di antara berbagai potensi yang kami temui selama menjelajahi Desa Balerante, Taman Ledok Sari (Talesa) menjadi salah satu tempat yang menarik perhatian. Destinasi yang dibangun sejak tahun 2021 oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Giri Lodji ini merupakan salah satu upaya masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata di lereng Gunung Merapi. Berada di lingkungan yang asri dengan udara pegunungan yang sejuk, Talesa menghadirkan ruang yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Kawasan ini tidak hanya menyediakan area camping ground, tetapi juga dilengkapi area kuliner dan pendopo yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pertemuan warga hingga aktivitas komunitas. Tepat di samping kawasan Talesa, Agrowisata Petik Jeruk Tana Merapi turut melengkapi pengalaman berkunjung sehingga menawarkan perpaduan antara wisata alam, rekreasi, dan agrowisata dalam satu kawasan.

Meski memiliki potensi yang besar, kami melihat bahwa Talesa masih berada dalam proses berkembang sebagai destinasi wisata desa. Keindahan alam dan berbagai fasilitas yang dimiliki belum sepenuhnya dikenal oleh masyarakat luas, sehingga masih terbuka ruang untuk memperkuat publikasi dan promosi digitalnya. Berangkat dari pengamatan tersebut, salah satu program kerja Tim KKN-PPM UGM Kemalang Kondang adalah menyusun video promosi Talesa. Melalui pengambilan gambar dari darat maupun udara menggunakan drone, kami berupaya menampilkan pesona kawasan ini secara lebih utuh. Harapannya, video tersebut dapat menjadi media promosi yang membantu memperkenalkan Talesa kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus mendukung pengembangan potensi wisata Desa Balerante.

Tidak jauh dari kawasan Talesa, Agrowisata Petik Jeruk Tana Merapi menawarkan pengalaman yang tak kalah menarik. Hamparan kebun jeruk yang luas, udara pegunungan yang sejuk, serta panorama lereng Merapi menciptakan suasana yang menenangkan bagi setiap pengunjung. Di sini, pengunjung dapat memetik jeruk langsung dari pohonnya sambil menikmati keindahan alam sekitar. Meski memiliki potensi yang besar, kawasan wisata ini masih memiliki ruang untuk dikenal lebih luas. Oleh karena itu, melalui video promosi yang kami susun, Talesa dan Agrowisata Petik Jeruk Tana Merapi kami hadirkan sebagai satu kesatuan destinasi wisata yang saling melengkapi, dengan harapan dapat memperluas jangkauan publikasi sekaligus memperkenalkan potensi Desa Balerante kepada masyarakat.
Selain potensi wisata, Balerante juga memiliki beragam UMKM kuliner yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus pelengkap pengalaman berkunjung ke desa ini. Selama menjalani KKN, kami beberapa kali mampir ke “Warung Mbak Santi” dengan menu ayam bakarnya yang “nglendi”, menikmati suasana di Food Court Kalitalang, bersantai di Angkringan Bu Mar, hingga mengunjungi Warung Jimbaran untuk belanja kebutuhan pondokan. Masing-masing menawarkan cita rasa dan suasana yang berbeda, sekaligus mencerminkan keramahan khas masyarakat Balerante. Namun, kami juga menemukan bahwa sebagian UMKM tersebut masih memiliki keterbatasan dalam publikasi digital. Beberapa belum terdaftar di Google Maps, sementara yang lain masih memiliki informasi yang belum lengkap, seperti jam operasional, foto terbaru, maupun nomor kontak. Berangkat dari kondisi tersebut, salah satu upaya yang kami lakukan adalah membantu melengkapi dan memperbarui informasi Google Maps, serta mendaftarkan UMKM yang belum memiliki lokasi digital. Langkah sederhana ini diharapkan dapat memudahkan wisatawan menemukan pelaku usaha lokal sekaligus memperluas jangkauan promosi mereka.

Tak berhenti di situ, pengalaman menyusuri Balerante semakin berkesan saat kami berkunjung ke Ekowisata Kalitalang. Berada pada radius yang cukup dekat dengan puncak Gunung Merapi, Kalitalang menawarkan pemandangan gagahnya kubah lava Merapi secara gagah dan megah. Di pagi hari, ketika kabut perlahan terangkat, lanskap yang disajikan tempat ini begitu memukau. Selain menyuguhkan spot foto yang estetik, Kalitalang juga menjadi pusat kegiatan outdoor seperti berkemah, trekking, hingga lintasan sepeda gunung (downhill). Kalitalang adalah bukti nyata bagaimana masyarakat Balerante mampu mengolah potensi kawasan rawan bencana menjadi destinasi wisata yang tangguh, bernilai edukatif, dan mempesona.

Selain bentang wisata alamnya, Balerante menyimpan kekayaan komoditas lokal yang luar biasa, salah satunya adalah kopi khas lereng Merapi. Tanah vulkanik yang subur dipadukan dengan iklim dingin pegunungan menghasilkan cita rasa biji kopi yang khas dan berkarakter kuat. Selama tinggal di desa, aroma sangrai kopi dan hangatnya seduhan warga lokal sering kali menjadi teman terbaik kami di kala malam dingin menerpa. Melihat melimpahnya potensi kopi ini, kami merasa bahwa pemanfaatannya masih bisa dioptimalkan lebih dari sekadar minuman. Dari pemikiran tersebut, tim KKN-PPM UGM merancang program kerja inovasi diversifikasi produk berbasis kopi lokal, yaitu pembuatan sabun kopi alami (coffee soap). Kandungan antioksidan alami serta tekstur exfoliating dari bubuk kopi menjadikan produk ini sangat bermanfaat untuk kesehatan kulit sekaligus memiliki nilai jual yang tinggi. Melalui sosialisasi dan pelatihan pembuatan sabun bersama warga serta kelompok perempuan desa, kami berharap inovasi sederhana ini dapat memantik ide bisnis kreatif baru (home industry) berbasis kearifan lokal yang mampu menambah nilai ekonomi hasil panen kopi Balerante.

Menyusuri area pemukiman warga Balerante, kita akan sering mendengar suara lenguhan sapi di samping rumah penduduk. Ya, mayoritas warga Desa Balerante bermata pencaharian sebagai peternak sapi perah. Keberadaan peternakan sapi perah ini menjadi salah satu pilar utama perekonomian desa yang menghasilkan pasokan susu sapi segar melimpah setiap harinya. Susu segar dari lereng Merapi ini tidak hanya menjadi sumber gizi harian warga, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah tinggi. Interaksi kami dengan para peternak membuka mata betapa besarnya ketahanan dan kemandirian pangan yang dimiliki oleh warga Balerante. Dengan pendampingan manajemen produksi dan pengolahan yang tepat, sektor peternakan sapi perah ini berpeluang kuat untuk dijadikan salah satu ikon agrowisata edukasi susu segar di Kabupaten Klaten.

Di balik berbagai potensi wisata dan UMKM yang kami temui, bentang alam Balerante menjadi kekuatan yang menghubungkan semuanya. Berada di lereng Gunung Merapi, desa ini dianugerahi panorama pegunungan yang memukau, udara yang sejuk, serta hamparan alam yang masih terjaga. Keindahan tersebut bukan sekadar menjadi latar pemandangan, melainkan modal utama yang mendukung tumbuhnya berbagai potensi, mulai dari wisata alam, agrowisata, hingga usaha kuliner yang memanfaatkan suasana khas lereng Merapi. Potensi ini tentu menjadi peluang besar bagi Balerante untuk terus berkembang. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan serta promosi yang semakin luas, pesona alam yang dimiliki dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat identitas Balerante sebagai salah satu desa wisata di lereng Merapi.
Hampir dua bulan tinggal di Balerante memberikan pengalaman yang sulit kami dapatkan di ruang perkuliahan. Selama itu pula, kami belajar bahwa sebuah desa memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan potensinya. Ada yang tampak melalui bentang alamnya, ada yang hadir dari usaha masyarakatnya, dan ada pula yang terlihat dari semangat warganya dalam menjaga serta mengembangkan apa yang mereka miliki. Pengalaman tersebut mengingatkan kami bahwa potensi tidak selalu harus diciptakan. Sering kali, potensi itu telah ada dan tumbuh bersama masyarakat, menunggu untuk dikenali, dirawat, dan diperkenalkan kepada lebih banyak orang.
Kreator: Kemalang Kondang KKN UGM 2026
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com.

