
Universitas Gadjah Mada (UGM) turut berpartisipasi dalam kegiatan pelepasan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode April Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta di Halaman Balai Kota Yogyakarta (20/4). Kegiatan ini merupakan agenda resmi Pemerintah Kota Yogyakarta yang melibatkan empat perguruan tinggi: UGM, Universitas Ahmad Dahlan, UPN Veteran Yogyakarta, dan Universitas Janabadra. Pelepasan ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Yogyakarta, sebagai bentuk penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pengabdian kepada masyarakat di wilayah Kota Yogyakarta.
Sebanyak 30 mahasiswa UGM yang tergabung dalam Unit Gondokusuman akan melaksanakan pengabdian selama kurang lebih 50 hari di Kelurahan Terban dan Kelurahan Klitren. Mengusung tema “Rekonstruksi Sosial melalui Pengelolaan Sampah dan Penataan Sungai,” mahasiswa diharapkan mampu menjawab tantangan kompleksitas persoalan lingkungan di wilayah perkotaan. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama di negara berkembang, di mana pendidikan dasar dan penguatan kapasitas sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan pelepasan yang diselenggarakan oleh Bappeda Kota Yogyakarta ini dihadiri oleh Wali Kota Yogyakarta, jajaran pemerintah daerah, serta perwakilan perguruan tinggi. Dalam sambutannya, Kepala Bappeda menegaskan bahwa kegiatan KKN merupakan wujud nyata kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi. “Pada kesempatan pagi hari ini kita bisa menghadiri pelepasan mahasiswa kuliah kerja nyata sebagai wujud kolaborasi antara pemerintah Kota Yogyakarta dengan perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa Kota Yogyakarta tengah diarahkan menjadi center of excellence dan center of referral. “Sebagai center of excellence, Kota Yogyakarta harus menjadi laboratorium inovasi yang melampaui standar nasional. Sementara sebagai center of referral, setiap kebijakan yang lahir harus layak menjadi rujukan daerah lain,” jelasnya. Visi ini menekankan pentingnya strategi yang adaptif dalam pembangunan kota, yang dapat dicapai melalui upaya kolaboratif.
Pembangunan kota tidak dapat dilakukan secara parsial; melainkan membutuhkan pendekatan kolaboratif lintas sektor. “Diperlukan keterlibatan kampus, korporasi, komunitas, kampung, hingga media dalam satu ekosistem pembangunan yang saling menguatkan,” terangnya. Ia menegaskan bahwa mahasiswa hadir bukan sekadar peserta program, tetapi sebagai agen perubahan yang membawa ide, inovasi, dan energi baru bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Kepala Bappeda menekankan bahwa rekonstruksi sosial menjadi kunci dalam menjawab tantangan pembangunan kota. “Rekonstruksi sosial adalah jawabannya, perubahan sosial yang harus dikerjakan secara simultan agar penataan pembangunan Kota Yogyakarta dapat berjalan optimal,” imbuhnya. Ia juga mendorong mahasiswa untuk mengimplementasikan prinsip Think Big, Start Small, Act Now dalam setiap program pengabdian.
Pemerintah Kota Yogyakarta sendiri telah menyiapkan sepuluh tema besar dalam program kampung tematik, seperti pengelolaan sungai, pengolahan sampah berbasis sumber, pemberdayaan UMKM, hingga pendampingan kelompok rentan. Program KKN-PPM menjadi bagian dari upaya tersebut sekaligus mendukung inisiatif One Village, One University sebagai bentuk pendampingan berkelanjutan oleh perguruan tinggi.
Wali Kota Yogyakarta, dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya dalam pengelolaan sampah dan kebersihan sungai. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Wali Kota Yogyakarta yang menyoroti persoalan kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah. “Siapa yang bisa mengubah perilaku? Untuk Indonesia, banyak anak-anak muda. Mahasiswalah yang paling tepat di Jogja,” tandasnya.

Ia berharap kehadiran mahasiswa mampu mendorong terbentuknya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di tingkat kampung. “Konsepnya adalah one village, one university, sehingga pendampingan dilakukan secara terus-menerus dan tidak terputus,” tambahnya. Mahasiswa juga diingatkan bahwa KKN merupakan proses pembelajaran langsung di lapangan. “Kuliah kerja nyata adalah bagian dari proses pembelajaran riil. Mahasiswa tidak hanya membawa teori dari kampus, tetapi juga harus mendengar dan memahami kebutuhan masyarakat,” disampaikan dalam rangkaian sambutan.
Kegiatan penerjunan ini menandai dimulainya pelaksanaan KKN-PPM UGM di wilayah perkotaan yang menekankan pada rekonstruksi sosial sebagai strategi utama pembangunan. Program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada output jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan sistem berbasis komunitas. Sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), kegiatan ini diharapkan mampu mendorong terwujudnya kota yang inklusif, meningkatkan kesadaran lingkungan, serta memperkuat kemitraan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Melalui program ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang adaptif, responsif, dan berdaya saing, sekaligus menghadirkan kontribusi nyata dalam pembangunan Kota Yogyakarta.
Penulis/Editor: Dn Halimah & Sabri/Dn Halimah, Sumber/Foto: Tim Humas Media Publikasi DPkM UGM