Di balik udara dingin dan perbukitan Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, terdapat potensi pertanian yang belum banyak dikenal publik luas. Disinilah tim KKN-PPM UGM dengan nama Seru Jeparu turun, untuk mengulik tanaman ini. Janggelan namanya, tanaman yang tumbuh subur di Desa Penggung dan telah cukup lama menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat setempat. Kebanyakan orang tidak akan tahu apa itu janggelan, namun mereka pasti tahu hasil olahan dari janggelan. Janggelan adalah bahan baku untuk pembuatan cincau hitam, yang sering kita temukan di minuman-minuman menyegarkan dan memiliki khasiat yang baik untuk tubuh.
Komoditas Spesial Daerah
Berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, Desa Penggung memiliki iklim dingin dan kelembaban tinggi sehingga sangat cocok untuk budidaya janggelan. Tak berlebihan jika Penggung disebut sebagai salah satu desa penghasil janggelan terbaik di Indonesia. Hal ini bukan tanpa alasan, karena janggelan dari Desa Penggung telah menembus pasar ekspor dan dikirim ke berbagai negara di luar negeri. Menurut Sarijan, selaku Kepala Dusun Pakis Baru, 90% warga dusunnya adalah petani dan janggelan adalah salah satu tanaman yang selalu ditanam. Tidak hanya di Penggung, beberapa desa di Nawangan juga menghasilkan janggelan yang tidak kalah kualitasnya. Keunggulan kualitas inilah yang menjadikan janggelan Nawangan memiliki posisi penting dalam perputaran komoditas herbal nasional maupun internasional.
Secara geografis, Kecamatan Nawangan berada di kawasan perbukitan dengan suhu udara yang relatif dingin sepanjang tahun. Kondisi ini menjadi faktor utama yang mendukung pertumbuhan janggelan secara optimal. Tanaman ini membutuhkan suhu sejuk dan lingkungan yang tidak terlalu panas agar daun dan batangnya tumbuh dengan kualitas baik.
Menurut Agus, salah satu eksportir janggelan di Desa Penggung, kondisi alam Nawangan menjadi keunggulan yang sulit ditiru daerah lain. “Janggelan cocok di sini karena udaranya dingin. Tapi di Nawangan ini tanahnya juga cocok buat janggelan. Soalnya janggelan gak akan selalu bagus kalo cuma sekedar di dataran tinggi,” ujarnya.
Kombinasi antara suhu, kelembapan, dan tanah di Penggung membuat janggelan memiliki kualitas yang lebih unggul dibandingkan daerah lain. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa janggelan dari Nawangan banyak diminati oleh pasar luar negeri.
Janggelan Penggung di Panggung Internasional
Tidak hanya dipasarkan secara lokal, janggelan dari Desa Penggung telah diekspor ke berbagai negara. Meski tidak semua petani terlibat langsung dalam proses ekspor, keberadaan pengepul dan eksportir lokal menjadi penghubung penting antara petani dan pasar global.
Agus, yang telah menggeluti bidang ini selama kurang lebih 10 tahun terakhir dan menjadi salah satu expert janggelan menjelaskan bahwa janggelan memiliki tiga grade utama, yaitu Grade A, B, dan C. Grade-grade ini ditentukan berdasarkan kualitas daun dan perbandingan daun dengan batangnya. Semakin banyak daun dibandingkan batang artinya kualitas/gradenya akan semakin baik. Grade A merupakan kualitas tertinggi dan paling diminati pasar ekspor, dimana perbandingan daun dengan batangnya sekitar 9:1, sementara Grade B dan C biasanya memiliki persentase daun sekitar 60-80% saja dan lebih banyak diserap oleh pasar domestik untuk diolah lebih lanjut.
Menurut Agus, harga janggelan cukup stabil dan tidak banyak berubah secara drastis. 1 Kg janggelan bisa dijual di harga 25 ribu hingga 30 ribu. Meski begitu, janggelan pernah mengalami lonjakan harga selama beberapa waktu di tahun 2022 hingga menyentuh 60 ribu per kilogramnya.
Janggelan dan Halangan di Nawangan
Meski memiliki potensi besar, budidaya janggelan di Nawangan tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu masalah utama yang sering dihadapi petani adalah proses pengeringan, terutama saat musim hujan.
Namun, di tengah keterbatasan tersebut, Agus mendapatkan teknik pengeringan yang menarik. Agus mengungkapkan bahwa pengeringan juga bisa dilakukan dengan cara menumpuk daun dan batang janggelan dalam jumlah besar di satu tempat. Dari tumpukan tersebut, akan muncul panas alami di bagian bawah yang membantu proses pengeringan. Namun tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan olehnya karena ia memiliki gudang janggelan yang besar dan tidak bisa ditiru oleh petani-petani lain.
Menariknya, Agus mengaku tidak mengetahui secara pasti apa proses ilmiah yang terjadi di balik fenomena tersebut. “Saya juga nggak tahu, Mas. Kalau ditumpuk banyak, bagian bawahnya nanti bisa panas lalu bisa kering sendiri, panasnya itu bahkan bisa untuk masak telur,” candanya. Praktik ini menjadi contoh yang menarik untuk diteliti, dan belum banyak dikaji secara ilmiah. Permasalahan inilah yang membuat tim KKN-PPM UGM turun untuk membantu para petani-petani kecil. Lewat program kerja seperti pengering janggelan (dehydrator), diharapkan para petani ini bisa mengeringkan janggelan mereka ketika cuaca sedang tidak mendukung.
Selain itu, Agus berharap agar pemerintah maupun pihak swasta tertarik untuk membangun tempat pengolahan janggelan di daerah ini untuk menyerap tenaga kerja lokal dan memperluas janggelan di kancah dunia agar pengolahan janggelan tidak sebatas di cincau saja.
Peluang Besar dan Harapan
Para petani hingga hari ini masih mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah maupun pihak swasta untuk mengembangkan potensi yang ada. Masyarakat mengharapkan adanya bantuan berupa pengering dengan kapasitas yang besar serta tempat pengolahan janggelan untuk menyerap tenaga kerja. Hadirnya tim KKN-PPM UGM diharapkan menjadi angin sejuk yang menyegarkan mereka akan harapan untuk hari kedepan yang lebih baik dan semakin berkembang.
Penulis : Adi Suryo Wicaksono, Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Program Sarjana Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya. Sedang melaksanakana KKN-PPM di Nawangan, Kab. Pacitan.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Mengulik Janggelan Bersama Tim KKN-PPM UGM di Kecamatan Nawangan”