
Di Dusun Banyuripan, nama Mbah Topeng (Tukiman) bukan sekadar nama tetua biasa. Ia adalah saksi hidup sekaligus pelaku sejarah bagaimana sebuah dusun yang dulunya sulit, kini berubah menjadi sentra peternakan sapi yang disegani.
Masa Lalu yang Perih Lahir tahun 1964, masa kecil Mbah Topeng jauh dari kata mudah. Saat duduk di kelas 2 SD, ia sudah ditinggal ayahandanya. Pendidikannya pun harus berhenti di kelas 1 SMP. Hidup memaksanya dewasa lebih cepat.
Ditahun 80-an adalah masa-masa sulit. Mbah Topeng muda bekerja sebagai petani ketela. Ia masih ingat betul rasanya memanggul puluhan kilogram ketela, berjalan kaki jauh menuju Kali Kopo, hanya untuk mendapatkan upah 50 rupiah demi uang saku anaknya. Saat itu, Banyuripan dikenal sebagai wilayah yang sulit, di mana warganya makan saja sulit. Titik balik terjadi di tahun 1983. Mbah Topeng sadar, jika warga terus bekerja sendiri-sendiri, nasib mereka tidak akan berubah. Ada pepatah lama yang ia pegang sebagai peringatan: “Garap dewek mati” (Bekerja sendirian akan mati/gagal).
Berbekal keyakinan itu, ia mengumpulkan warga dan mendirikan Kelompok Tani “Sumber Rejeki” dengan anggota awal 70 orang. Tujuannya sederhana: mengangkat derajat dusun agar tidak lagi dipandang sebelah mata. Ia mulai menjalin kerja sama dengan pihak luar, termasuk perbankan (BRI dan BNI), untuk mendapatkan modal dan pembinaan.
Perjuangan puluhan tahun itu mulai menampakkan hasil besar, terutama dalam 5 tahun terakhir. Banyuripan bertransformasi menjadi penghasil sapi berkualitas tinggi. Rahasia sapi Mbah Topeng bukan pada obat-obatan mahal, melainkan ketelatenan. Sapi-sapi di sana diberi pakan campuran polar, ketela 5 kg per hari, dan rumput hijau segar. Uniknya, kondisi kandang dan lingkungan Banyuripan yang berbatu justru menjadi keunggulan. Medan yang keras membuat struktur kaki dan kuku sapi menjadi sangat kuat dan sehat.
Kualitas tidak pernah bohong. Sejak tahun 2020, nama Banyuripan dikenal di kalangan pencari sapi premium. Bukan hanya pedagang pasar, sapi hasil rawatan tangan dingin warga Banyuripan ini dilirik oleh tokoh-tokoh nasional.
Mulai dari Bupati, Menteri, hingga Presiden RI ke-6 SBY pernah membeli sapi dari sini. Bahkan, Presiden Prabowo pun membeli sapi dari kelompok tani ini setelah timnya melakukan survei ketat selama 3 bulan untuk memastikan kualitas kesehatannya. Puncaknya adalah pengakuan dari orang nomor satu di republik ini. Pada Idul Adha 2025, Presiden Prabowo membeli sapi Limousin seberat 900 kg hasil rawatan tangan dingin Mbah Topeng. Pembelian ini bukan transaksi biasa; sapi tersebut telah lolos survei kesehatan ketat selama tiga bulan sebelum akhirnya dibawa ke Istana.
Sebagai tanda kehormatan, sebuah plakat penghargaan resmi bertuliskan “Bantuan Kemasyarakatan Berupa Ternak Qurban Tahun 1446H/2025M Presiden RI” kini terpampang di dinding rumahnya.
Harapan untuk generasi Masa Depan, Mbah Topeng tidak lagi memanggul singkong demi 50 rupiah. Infrastruktur desa sudah membaik, jalan sudah aspal, dan ekonomi warga sudah “Subur Makmur”. Namun, bagi Mbah Topeng, tugas belum selesai. Ia menitipkan pesan keras pada generasi muda dan Karang Taruna: “Kami yang tua sudah membangun pondasi. Kalian yang muda harus berjuang melampaui kinerja kami.” Bagi Mbah Topeng, kesuksesan sejati bukan saat sapi terjual mahal, tapi saat melihat dusun yang dulu diremehkan, kini bisa berdiri tegak dan mandiri.
– Tulisan ini dari wawancara langsung dengan Bapak Tukiman (Mbah Topeng) di kediamannya pada 19 Januari 2026.
Penulis : James Kertanegara
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Kisah Inspiratif Mbah Topeng/Tukiman Di Dusun Banyuripan, Kledung, Kec Bandar, Kab Pacitan, Jawa Timur.”